Hanyut

Apa yang akan kita lakukan jika kita tercebur ke dalam sungai yang berarus deras yang bisa menenggelamkan dan menghanyutkan kita?

Pasti kita akan mencoba berenang sekuat tenaga, menggapai apa saja yang bisa diraih. Ranting kecil pun akan kita coba jadikan sebagai alat bantu mengapung. Rumput kecil yang lemah pun di pinggir sungai akan kita raih dan bertumpu padanya. Apa pun akan kita lakukan. Jangan sampai hanyut dan tenggelam.

Namun, apakah hal yang sama akan kita lakukan jika kita tercebur dalam sungai maksiat? Apakah kita akan terus mencoba berenang sekuat tenaga, mencoba cara apapun agar kita tidak hanyut ke jurang air terjun kenistaan, dan hanyut ke lautan jahannam? Atau malah kita hanya pasrah saja, pasrah dengan lingkungan kita. Kita pasrah saja, karena kita berada di lingkungan yang memang menghanyutkan, orang-orang lain biasa seperti itu, karena kita hanya bawahan yang disuruh oleh atasan, karena kita berada di lingkungan yang memang tidak kondusif. Lalu tak ada sedikitpun usaha kita menggapai mencari pegangan agar tak hanyut?

Kisah Seorang Guru

Pada saat sidang di akhirat, seorang guru diadili ditimbang pahala dan dosanya.

“OK, anda telah memberikan ilmu anda dengan ikhlas, tidak melakukan korupsi waktu, dan anda taat beribadah. Anda silahkan masuk ke surga…” kata malaikat.

Dengan senyum terkembang pak guru itu berjalan bahagia menuju pintu surga.

Tiba-tiba segerombolan orang yang berjumlah ratusan dan mungkin ribuan, datang berbondong-bondong berlari menyusul si guru itu.

“Tunggu pak!, Sebelum anda masuk ke surga anda harus bertanggung jawab terhadap kami” teriak kumpulan masa yang berdemontrasi itu.

“Kenapa? Apa yang harus saya tanggung jawabkan?. Oh kalian semua murid saya ya. Tanggung jawab apa? Bukankah kalian semua di dunia telah sukses menjadi orang kaya dan terkenal, dan itu berkat ilmu yang telah saya ajarkan?”

“Benar pak, kami telah kaya dan sukses. Tapi kami kaya dan sukses karena kami berlaku curang dan tidak jujur pak. Sehingga kami dituntut di akhirat perkara kecurangan dan ketidakjujuran kami. Maka bapak sebagai guru harus bertanggung jawab!”

“Kalau kalian tidak jujur itu adalah dosa kalian sendiri, kenapa saya harus bertanggung jawab? Saya tak pernah mengajarkan ketidakjujuran”

“Benar pak. Bapak memang tidak pernah mengajarkan ketidakjujuran kepada kami. Namun bapak membiarkan kami mencontek dan berbuat curang ketika ujian dulu. Bapak tahu kami melakukan semua itu, tapi bapak membiarkan kami. Asalkan tidak ribut, kami bebas saja melakukannya. Bapak harus tahu, bahwa gara-gara kami tidakjujur dengan ujian, nilai kami tinggi sehingga kami dapat sekolah dan pekerjaan yang tinggi. Namun semua itu tidak berkah. Memang kami menjadi kaya, namun pribadi kami semakin miskin, kami semakin terbiasa melakukan kecurangan. Berbagai macam trik dan tips setan telah mahir kami pelajari. Semua kami gunakan dalam kehidupan kami masing-masing di atas dunia. Oleh karena itu bapak harus bertanggung jawab. Ayo ikut kembali ke persidangan bersama kami!”

Lalu kerumunan masa menarik paksa Guru itu.

“Tidaaaa……..kkkkkkkkkkk!”

#######

TIPS NYAMAN BERBAHASA INGGRIS DI JEPANG

Walaupun pronounciation bahasa jepang agak-agak mirip dengan Indonesia tak seperti English yang bikin lidah keseleo, jangan sangka English logat Indonesia membuat orang jepang lebih mengerti apa yang kita ucapkan. Berikut beberapa tips dari pengalaman pribadi.

1. Jangan pernah hidupkan huruf R di akhir kata (akhir suku kata juga), ganti dengan A. Sebagai contoh. Computer, jangan sampai lidah anda bergetar bilang Kompyuter. Karena di logat jepang akan menjadi Kompyutaa, dengan A yang agak lebih panjang.
Contoh lain:
– Center = sentaa
– Tour = Tsua
– Door = Doa
– Interior = Interiaa
– Water = wotaa, tulisannya Uotaa
Begitu juga kata-kata lain, misalnya Care, jangan sampai dibilang Keer. Kalau seperti itu orang jepang akan susah mengerti dengan apa yang kita ucapkan. Bilang saja Kea.

2. Untuk huruf V, rapatkan dikit bibirnya sehingga lebih dekat ke B bukan ke F. Karena huruf V di jepang dibaca B.
contoh: Service = Saabisu, river = ribaa
Maka ketika mau bilang Voice, jangan bilang Fois, tapi lebih pasnya ke Bois.

3. Kalau untuk huruf TH, maka dirubah menjadi S. contoh: Acanthus dibaca Akansasu, thunder bird dibaca sandabaado

4. Untuk listening, pahami bahwa orang jepang tidak bisa menyebut huruf berikut:
– Huruf konsonan mati, kecuali huruf N. Untuk bilang Group, mereka akan bilang Guruupu.
– Tak bisa bilang Hu, akan jadi Fu. Sensei saya yang S3 di New Zealand, postdoc di Amerika masih saja bilang Fu is shi (Who is she?).
– Tak bisa bilang Tu, akan jadi Tsu

Terakhir pesan saya, hati-hati jangan sampai English anda semakin kacau di Jepang ini. He he he….

Bersyukurlah wahai warga Padang

Bersyukurlah wahai warga Padang

Termasuk di dalamnya warga Padang – Pariaman, daerah tempat saya menghabis lebih banyak umur selama ini. Daerah ini merupakan daerah yang mendapatkan nikmat yang banyak. Memang, kalau kita yang hanya tinggal di daerah ini tanpa membandingkan dengan daerah lain, maka tidak akan terasa nikmatnya.

Ketika daerah lain di Indonesia heboh dengan kekeringan, daerah ini tidaklah terlalu merasakan. Dengan Bukit Barisan yang berfungsi sebagai penangkap hujan, setidaknya hujan akan hampir selalu ada di daerah perbukitan walaupun hanya sedikit.
Ketika kota Pekanbaru sudah tercekik dengan asap, Bukit Barisan menahannya tak sampai ke Padang. Kalaupun sampai, asap debu sudah tersaring oleh Bukit itu, dengan sedikit hujan saja udara kembali segar.
Walaupun cerobong asap Semen Padang membubung dengan pekatnya, lagi-lagi Bukit Barisan dan hujan membersihkannya. Bukit Barisan itu layaknya AC bagi daerah ini.
Walapun panas terik jam 12 pun, cukup dengan berteduh di bawah sebatang pohon saja kita bisa menikmati suasana teduh angin semilir yang sejuk. Apalagi yang berada di pinggir sungai, tidur siang pun jadi sebuah nikmat dunia. Begitu juga jika berada di sawah, sebuah pondok sawah pun sudah cukup.
Ketika daerah lain susah mencari air bersih, namun di daerah ini cukup dengan menggali sebuah sumur kecil di pinggir sungai sudah bisa mendapatkan air bersih. Sungai dan mata air yang berjumlah banyak sekali yang muncul berasal dari Bukit Barisan. Musim kemarau pun tak membuat sungai menjadi mengering.

Rumput tetangga memang sepertinya lebih hijau. Ketika melihat foto-foto indahnya taman yang penuh bunga sakura di Jepang, seakan-akan suasana begitu menyenangkan. Ternyata bunga itu harus dinikmati dengan cuaca yang dingin, dan banyaknya spora berterbangan yang membuat alergi. Ketika cuaca menghangat, ternyata hangatnya negeri Jepang tidaklah senyaman hangatnya mentari pagi kita. Di musim panas kita tak akan bisa nyaman berteduh di bawah pohon, karena angin/udaranya yang panas, serasa kita berada di belakang kipasnya mesin AC. Tak nyaman. Apalagi ketika salju turun, cukup sehari saja yang membuat kita excited. Setelah itu kita akan merasakan susahnya beraktiftas.

Bersyukurlah…
Ketika kita masih bisa tiap hari membuka jendela di pagi hari, menghirup udara segar yang berhembus menenangkan hati dan pikiran.

Bersyukurlah…
Ketika hujan masih segar layaknya mandi dibawah curahan shower.

Bersyukurlah…

Karena yang saya takutkan adalah wanti-wanti dari Allah:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Bersyukurlah… Karena tak akan sedikit pun sulit bagi Allah untuk mengazab negeri ini.
Cukup dengan hanya memfokuskan curah hujan di suatu titik lokasi saja di hulu Bukit Barisan, ini sudah cukup untuk mendatangkan banjir bandang alias galodo.
Cukup dengan hanya melepaskan ikatan yang menahan sesar Mentawai, gempa 9 skala richter plus tsunami pun diprediksi oleh para ahli.
Cukup dengan hanya menghidupkan salah satu dari 3 gunung api aktif yang berada di sekitar daerah ini (Marapi, Tandikek, Talang), hujan api dan kembang api bencana pun akan semarak di daerah ini.

Bersyukurlah…
Dan janganlah merusaknya…

#SelfReminder

Mengamati Keberagaman manusia di Bandara

Kalau mau lihat beragam bentuk orang, cara termudah adalah datang saja ke bandara. Berbagai bentuk orang akan dijumpai. Semakin besar bandaranya semakin beragam pula bentuk manusia yang ada di sana. Mulai dari para bule yang pakai baju lusuh dan sandal jepit, orang desa yang mencoba berpakaian kota, sampai ke orang rapi berdasi dan jas yang necis. Dari wanita yang pakai baju serta rok mini dan ketat, sampai ke wanita yang tak tak terlihat satu centi pun dari tubuhnya. Orang yang tampang seperti artis berbaju mewah, sampai ke orang yang bertampang seperti gembel yang tak pernah mandi. Semuanya bisa ditemukan di bandara. Bentuk mata, warna kulit, tinggi badan, tipe rambut pun bermacam-macam. Makhluk ini pun bersuara dengan bunyi bahasa yang berbeda-beda pula.

Tingkah polah orang pun berbeda-beda. Yang muda-mudi rata-rata mereka tersenyum-senyum sendiri, tersenyum degan teman jauh yang juga sedang tersenyum sendiri di belahan bumi yang lain, sibuk bersosial media. Ada orang yang sedang mengobrol, ada yang sendirian, ada yang sedang sama istri dan keluarga, ada yang sama anaknya. Ada orang tua yang santai mendorong anak pakai kereta dorong, dan ada juga yang menggendong anaknya kerepotan sambil bawa barang bawaan yang banyak dan berat.

Ekspresi orang di terminal keberangkatan akan berbeda dengan terminal kedatangan. Di terminal keberangkatan, wajah orang pada umumnya merasa haru dan sedih, saling salaman dan pelukan melepas saudara dan keluarganya untuk terpisah jauh nun di sana. Di terminal kedatangan, pada umumnya orang berwajah harap, menunggu sosok yang dicintainya muncul dari balik pintu. Tak sabar dengan waktu dan pengumuman telah tibanya penerbangan yang dinanti. Sambil mengingat-ingat, apakah wajahnya masih seperti yang dulu, akhirnya muncul juga. Senyum bahagia pun merekah, memanggil yang ditunggu-tunggu.

drafted @KLIA2

Postingan ke 100

Alhamdulillah, dengan terbitnya postingan ini maka blog ini mencapai juga 100 postingan. Blog ini saya jadikan tempat mengumpulkan segala tulisan-tulisan saya, serta membaginya kepada khalayak ramai. Blog ini berisi segala macam bentuk catatan saya pribadi. Mulai dari yang serius sampai yang tidak serius. Tema pun bermacam-macam, dari tentang akademik, opini, motivasi, lelucon, sampai catatan cinta pun masuk. he he…. Tema yang paling banyak mungkin tentang berang-berang, hewan yang sedang saya teliti. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kebaikan.

Postingan pertama dari blog ini diterbitkan pada tanggal 9 Desember 2009, dengan postingan pertama berjudul Berang-berang bukan lah pembuat bendungan. Tak terasa ternyata sudah 5 tahun lebih. Kalau dihitung nilai produktifitasnya, ini bisa dikatakan minim produktifitas tulisan. Mudah-mudahan ke depannya lebih rajin menulis. Ada salah satu target menulis saya, yaitu menerbitkan buku tentang berang-berang di Indonesia. Karena belum ada buku tentang berang-berang yang berbahasa Indonesia. Mudah-mudahan bisa disegerakan dan dimudahkan jalannya. Saya pasang target TAHUN INI!!! Amin ya rabbal ‘alamin…

Telemetri pada penelitian berang-berang

Telemetri adalah sebuah teknologi yang mampu melakukan pengukuran jarak jauh dan pelaporan informasi kepada perancang atau operator sistemnya. Dalam penelitian ekologi hewan, teknologi ini digunakan untuk mengetahui keberadaan dan kondisi hewan tersebut dari jarak jauh. Biasanya telemetri digunakan untuk mengetahui posisi hewan, dan bisa juga dilengkapi dengan alat pendeteksi lainnya seperti data kondisi lingkungan, suhu tubuh dll. Kalau yang canggihnya bisa ditambahkan dengan kamera, semua itu tergantung dengan kemajuan teknologi yang ada.
Dalam penelitian berang-berang teknologi ini digunakan untuk mengetahui posisi berang-berang berada sehingga kita bisa mengetahui daerah jelajah home range dan penggunaan lahan. Serta dari dari data ini kita bisa mengolahnya lebih lanjut untuk analisa ekologi lainnya.
Dalam penelitian berang-berang, ada dua sistem telemetri yang pernah digunakan, yaitu sistem gelombang VHF dan sistem GPS-GSM.
Prinsip kerja telemetri sistem VHF ini adalah sebagai berikut: Ada alat transmiter yang dipasang pada tubuh hewan. Alat ini memancarkan denyut-denyut sinyal terus menerus. Sinyal ini dilacak dengan alat receiver yang memiliki antena. Jika antena ini diputar, pada arah yang sesuai dengan arah datangnya sinyal, receiver akan berbunyi denyutan sinyalnya itu. Dimana arah yang bunyinya paling kuat, maka dari arah itulah datangnya sinyal, dengan artian bahwa hewan tersebut berada pada arah datangnya sinyal. Dengan menentukan arah datangnya sinyal dari 2 lokasi atau lebih, kita bisa mendapatkan posisi si hewan tersebut.
Kemudian, prinsip kerja alat sistem GPS-GSM ini menggunakan gabungan antara alat GPS dan sistem komunikasi seluler GSM. Alat GPS-GSM ini dipasang pada tubuh hewan. Pada setiap rentang waktu tertentu, GPS akan mencatat titik koordinat hewan ini berada. Kemudian data koordinat ini dikirimkan lewat pesan singkat atau SMS ke server. Server menerima dan mencatat data koordinatnya. Sistem ini akan bekerja dengan baik hanya pada daerah yang masuk dalam coverage area dari sinyal seluler.
Alat transmitter yang dipasang pada hewan ini terbagi juga menjadi 2 tipe. Yaitu tipe yang dipasang di tubuh bagian luar, dan tipe yang dipasang di bagian dalam atau disebut dengan istilah implant. Untuk tipe luar biasanya digunakan dalam bentuk colar atau kalung. Tapi karena berang-berang kepalanya sama atau lebih kecil dari leher, maka tipe kalung ini tidak bisa dipasang ke berang-berang, dan berisiko tersangkut diranting-ranting ketika berenang dan masuk lubang. Maka tipe yang cocok untuk berang-berang adalah tipe implant. Transmitter dimasukkan ke dalam rongga intraperitoneal perut.

___________________________________________________________

Tulisan ini merupakan bagian dari draft buku berang-berang yang sedang saya susun. Mohon doanya agar keinginan ini bisa terwujud. Terima kasih banyak.

Aishiteru

Sebelum saya belajar bahasa Jepang, ada 3 kata yang saya ketahui yaitu Hai (pengucapannya lebih mirip Haik), Sayonara dan Aishiteru. Kata Hai ini lah kata pertama yang saya ketahui. Tak tahu pasti kapan tahunya. Kata ini sangat melekat dengan image orang jepang yang mengucapkannya sambil membungkuk. Mungkin saya mengenalnya sejak masih kanak-kanak. Kata kedua yang saya ketahui adalah Sayonara. Kata ini saya ketahui ketika Pramuka dulu. Ada lagu “Sayonara-sayonara…”. Kata ketiga yaitu Aishiteru. Kata ini saya ketahui dari lagu. Lagu Indonesia yang sempat top dulunya.

Ketika saya belajar bahasa Jepang pertama kalinya, yaitu melalui situs NHK, kata Hai dan Sayonara langsung terpelajari pada kesempatan pertama. Sehingga saya paham arti, ucapan, kondisi, tulisan dll. Namun kata Aishiteru ini butuh lebih dari setengah semester untuk memahaminya.

Sekarang, akhirnya saya paham apa itu Aishiteru.

Aishiteru yang kita ketahui bersama adalah bahasa Jepangnya dari kata “Saya suka kamu”, “I love you”. Tapi ternyata orang Jepang sendiri jarang menggunakannya. Orang jepang dalam menyatakan cinta menggunakan kata Daisuki. Kalau dilihat dari tulisan kanjinya, dai artinya besar, suki artinya suka. Jadi kira-kira bisa diterjemahkan sebagai rasa sukanya sangat besar. Lalu dari mana Aishiteru ini?

Aishiteru ini ternyata berasal dari bahasa Cina. Asal katanya adalah kata Ai, sebagaimana yang kita ketahui Wo Ai Ni. Kemudian diserap oleh bahasa Jepang menjadi Ai shimasu, sebagaimana juga kata arbeit, diserapnya menjadi arubaito shimasu. Shimasu artinya melakukan. Jadi Ai shimasu bisa kita terjemahkan menjadi: melakukan sayang/cinta. Kemudian kata aishimasu ini dirubah menjadi bentuk Te menjadi Ai shite. Bentuk Te ini digunakan untuk merubah kata kerja menjadi kata perintah dan biasanya disambung dengan kudasai. Bisa juga menjadi kata sedang melakukan jika disambung dengan kata imasu. Maka jadi lah, Ai shite imasu, sedang mencintai. Pola kata kerja yang pakai “Masu” merupakan kata dalam bentuk sopan yang digunakan kepada atasan, dalam bahasa dan tulisan formal resmi. Kalau dalam percakapan sehari hari di dalam keluarga dan pertemanan, bahasa yang digunakan berbeda formatnya. Kata kerja berubah menjadi bentuk dasar. Sebagai contoh Imasu berubah menjadi Iru. Untuk mengungkapkan sayang tentunya tak perlu dengan cara formal Ai shite imasu. Maka berubahlah menjadi Ai shite iru, dalam pengucapannya biasanya dilebur menjadi Aishiteru.

Aishiteru itu artinya sedang mencintai. Timbul lagi pertanyaan siapa yang sedang mencintai? Dan siapa yang dicintai? Dalam bahasa Jepang, subjek tak perlu disebutkan kalau yang melakukan itu adalah Watashi (saya/orang pertama tunggal). Kemudian tak perlu juga diucapkan kepada siapanya kalau hal itu kepada orang yang sedang jadi lawan bicara kita (kamu/orang kedua tunggal). Hal ini berlaku umum untuk kata-kata yang lainnya. Dalam paragraf tulisan bahasa jepang kita mungkin akan menjumpai subjek hanya di kalimat pertama saja. Kalimat-kalimat berikutnya tanpa subjek, karena konteks pembicaraan telah disebutkan pada kalimat pertama.

Makin banyak orang yang beramal lebih banyak

Bantuan untuk Syria telah terkumpul. Lebih dari 120ribu Yen hanya dalam 3 hari, Jum’at sampai Minggu. Uang itu digunakan untuk beli pakaian lalu dikirimkan ke warga Syria yang kedinginan yang tak punya baju musim dingin. Brother dari Malaysia menyediakan diri, waktu, mobil beserta minyaknya untuk belanja pakaian musim dingin. Tak mau kalah, brother dari Mesir juga menawarkan bantuan yang sama. Jadi ada 2 mobil. Brother dari Indonesia pun tak mau kalah. “Nanti ongkos kirim ke Hiroshima (lokasi Japan-Syiria Association) saya yang tanggung ya” katanya. Saya langsung terkesima. Memang mantap benar orang ini, beliau cepat sekali menangkap peluang amal.
Dan, ternyata jumlah pakaian yang bisa terbeli itu cukup banyak. Pasti biaya kirimnya cukup besar juga. Dari taksiran mungkin bisa 20ribu sampai 30ribu Yen. Jumlah yang sangat banyak, apalagi bagi orang Indonesia. Tak yakin dan takut memberatkan, saya konfirmasi dulu ke penyumbang anonim ini. Yakin pak? biaya kirimnya besar. Tanpa ragu dengan mantap beliau langsung mengiyakan. Subhanallah…

Motivasi itu bisa dapat dari mana saja

Pagi ini saya kena “pukulan telak” dapat motivasi dari mengamati aktifitas seseorang.

Dari balik selimut saya amati dia sedang shalat. Setelah selesai shalat, saya tanya “Jam berapa sekarang pak?”. “Jam 4 lewat sedikit” katanya. Saya tarik lagi selimut merasa masih panjang waktunya, karena di sini subuh jam 5:33. Jam 5 kurang saya terbangun lagi, sekarang beliau sedang berada di depan laptop melanjutkan progress penelitiannya. Kali ini saya tak mau kalah, dengan mata yang berat saya bangun lalu saya ambil wudhu dan shalat sunat juga. Setelah selesai tak mau kalah saya buka juga laptop. Tiba-tiba, “Saya berangkat arubaito dulu ya” katanya yang sekarang sudah berpakaian jaket tebal, bersarung tangan dan berkupluk. Beliau pakai sepeda menembus dinginnya salju menuju tempat kerjanya.

Hari ini saya kalah telak! Beliau saja tadi malam pulang dari kampus sudah hampir jam 10 malam, yang ketika itu saya sudah santai dengan kehangatan kamar berpemanas. Pulang telat, ternyata keluarnya juga paling cepat.

Wahai Aadrean, dengan beasiswa yang tak perlu lagi kamu memikirkan biaya hidup, bisakah kamu mensyukuri nikmat waktumu?!

—-

arubaito=berasal dari kata arbeit artinya kerja part time

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.636 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: