Gotong royong ala kekinian

Gotong royong adalah budaya luhur Indonesia. Ternyata budaya ini sekarang sedang pesat digunakan oleh dunia internasional, yang cakupannya tidak hanya kelas kampung atau RW saja. Sekarang mainnya kelas dunia. Dengan keterbatasan pertemuan fisik, dunia maya lah jadi tempatnya.

Sebut saja Wikipedia. Semua orang berhak dan boleh bergotong royong menyumbangkan kata demi kata demi membangun sebuah ensiklopedi yang mantap di dunia. Sekarang artikel Wikipedia sudah bisa menjadi rujukan yang paling mantap dan cepat, tak ada rasanya ensiklopedia lain yang bisa mengalahkannya.

Linux dan Android. Semua orang boleh bergotong royong dalam membangun sebuah perangkat lunak dan sistem operasi. Saking cepatnya perkembangan Linux dan Android, sampai-sampai Windows pun ikut jadi sponsor karena takut ketinggalan. Termasuk juga berbagai perangkat lunak sumber terbuka (Opensource software) yang semakin pesat dan diakui orang. Sebagai contoh, saya menggunakan QGIS dan R dalam analisa data penelitian. Kedua perangkat lunak ini semakin mumpuni diakui di bidang ekologi. Tak ada bedanya dengan software berbayar lainnya.

Google pun tak mau kalah. Sadar atau tidak, Google mengumpulkan kekuatan seluruh pengguna internet di dunia, dengan cara membangun sebuah sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligent). Sistem ini mengumpulkan dan mempelajari semua apa saja yang kita kerjakan di internet, mencari pola dan hubungan sesuatu dengan yang lainnya. Sehingga muncul lah mesin pencari Google yang tak hanya sekedar bantu mencari, tapi juga mampu memprediksi.

Di bidang pendanaan, sekarang muncul istilah urun dana (crowdfunding), ramai-ramai membantu menyumbangkan sen demi sen dari penjuru dunia. Contoh suksesnya, melalui Kitabisa dot com terkumpul dana lebih dari 3 milyar untuk membangun sebuah masjid di Chiba Jepang.

Di bidang penelitian, muncul istilah sains khalayak (citizen science). Semua orang boleh memberikan data yang mereka punya, sehingga mempermudah tim peneliti, tidak harus menghabiskan dana hanya untuk biaya alat, perjalanan, akomodasi, makanan dan honor tim survei, yang semua itu hanya untuk mengumpulkan data sampai ke ujung-ujung negri. Sebagai contoh, penelitian pemantauan burung migran. Siapa saja yang melihat burung bisa memberikan datanya, walaupun anak kampung yang baru belajar memotret pakai ponsel cerdas nya.

Dan mungkin berbagai bentuk aplikasi lainnya, yang disebut dengan istilah urun daya (crowdsourcing).

Semua contoh di atas merupakan contoh gotong royong yang melibatkan dunia maya (daring), lalu bagaimana dengan dunia nyata?

Contoh terbaru dan terdahsyat yang menggabungkan dunia nyata dan dunia maya adalah Aksi Bela Islam. Semua bergotong royong untuk mewujudkan satu tujuan. Di dunia maya ada tim media (cyber team). Kalau di dunia nyata silahkan saja lihat liputan dokumentasi aksi kemarin. Orang bergotong royong untuk hadir, memberikan konsumsi, meliput, memberikan semangat, ada tim drone, ada semut Ibrahim dll, serta yang terlemah pun ada tim pengaminkan. Luar biasa!

Gotong royong itu sebuah metoda mengumpulkan energi potensial yang luar biasa. Tinggal bagaimana cara mengelolanya. Pinjam istilah Aa Gym, “mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini juga”.

Jum’at barokah. Allahuakbar!!

Peneliti luar vs peneliti dalam

Kalau baca hasil penelitian orang luar negeri, membuat saya jadi iri dan penasaran.
Kalau persoalan kemajuan teknologi, wajar saja. Karena mereka punya fasilitas dan dana besar. Tapi kalau soal ekologi keanekaragaman hayati, ini yang membuat saya tak habis pikir selama ini.
Ketika jurnal penelitian mereka saya baca, ternyata apa yang mereka kerjakan di lapangan, kadang lebih remeh dari pada penelitian mahasiswa S1, atau malah praktikum lapangan. Tapi dengan kerja lapangan seadanya, mereka berhasil mengungkap sebuah fenomena alam.
Dimana letak bedanya?

1. Catatan data
Cara mereka mencatat data yang didapatkan di lapangan. Permasalahannya, kita sering abai mencatat berbagai fenomena. Peneliti kita sangat paham bagaimana kondisi lapangan dan apa yang terjadi di lapangan. Tapi, ketika ditanya “ada catatannya?”. Hanya gelengan kepala jawabannya.

2. Analisa data
Cara mereka menganalisa data. Mereka menggunakan metoda-metoda matematika dan statistika yang terbaru. Sedangkan peneliti kita berdalih “karena saya tak suka matematika makanya saya ambil biologi, terutama biologi lapangan”

3. Cara menerjemahkan dan mengambil kesimpulan
Mereka itu berani menerjemahkan sesuatu fenomena dengan merujuk ke fenomena lain. Kadang dengan bukti yang seupil, mereka kumpulkan kumpulan upil bukti riset lainnya, lalu mereka berani serang teori lain. Sedangkan kita hanya berani membaca data yang kita punya saja. Ketika ada satu orang yang coba belajar berani, biasanya tunas itu langsung dipatahkan oleh senior atau rekan sejawatnya.

4. Menulis
Ini yang terpenting. Peneliti itu sebenarnya adalah penulis, mengklaim diri dan menyebarkan ilmu dengan tulisan. Kalau hanya sekedar hafal dan paham dengan fenomena yang ada di lapangan, tanpa bisa menuliskannya, maka guide lapanganlah peneliti terhebat.

Uniknya data ekologi

Jika ditemukan pada suatu hutan ternyata pohon yang paling banyak adalah pohon mahoni, apakah boleh disimpulkan bahwa di setiap hutan akan kita temukan pohon mahoni yang paling banyak? Tentu tidak. Masing-masing hutan punya ciri-khas yang berbeda.

Jika ditemukan burung pipit bergerombol pada sebuah pohon, apakah boleh disimpulkan burung pipit itu di sana karena menyukai pohon tersebut? Belum tentu! Bisa jadi burung pipit itu bergerombol di sana bukan karena pohonnya, tapi karena ada sawah yang padinya sedang berbuah tak jauh dari pohon tersebut.

Jika pada sawah yang disemprot pestisida ternyata hamanya lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak di semprot di sebelahnya, apakah bisa disimpulkan semprotan pestisida itu membuat hama menjadi tambah banyak? Terbalik bro! Sawah itu disemprot karena hamanya banyak, bukan hamanya banyak karena disemprot.

Jika ditemukan bahwa walaupun sawah dan lahan basah semakin berkurang karena jadi perumahan dan lahan pertanian kering, jumlah katak tahun ini lebih banyak dari pada 5 tahun yang lalu, apakah bisa disimpulkan populasi katak bertambah banyak? Belum tentu! Bisa jadi kondisi iklim 5 tahun yang lalu itu berbeda dengan sekarang.
Lalu si peneliti tak mau kalah dan menjawab dengan meyakinkan:
“Kita sudah melakukan dengan standar ilmiah yang benar kok!. Semua kondisinya sama. Kita melakukan pengamatan pada lokasi yang sama, pada bulan yang sama, dengan kondisi iklim yang relatif sama, dengan metoda yang sama, dengan tim survei yang sama. Yang berbeda itu cuma tahunnya dan kondisi lahan yang sudah berubah. Maka kami bisa menyimpulkan perubahan lahan itu tak merubah populasi katak. Bahkan bertambah banyak”
He he…
Ternyata si peneliti lupa bahwa 6 tahun yang lalu (satu tahun sebelum pengambilan data pertama) ada bencana kabut dan kekeringan yang sangat parah. Sehingga populasi katak waktu itu turun drastis, hampir punah. Walaupun pada pengambilan data yang pertama (5 tahun lalu) itu kondisi iklimnya bagus, tapi karena efek penurunan populasi pada tahun sebelumnya, walaupun sudah mulai kembali pulih, tapi jumlah populasinya masih sedikit. Sedangkan untuk data tahun ini tidak ada iklim ekstrim pada tahun sebelumnya.

Rumit dan kompleks juga ya. Terus bagaimana dong cara pengambilan data dan analisa data ekologi?

Hmmm… Pfiuuhh…. Saya juga bingung. Ha ha ha… :D.
—–
Ini merupakan sebuah draft bab Pendahuluan pada rencana buku yang akan mengupas cara menganalisa data ekologi, yang ditulis oleh dan untuk orang ekologi yang tak mau pusing dengan rumus dan perhitungan statistika. Mohon doanya.

Kisah Taman Durian

Alkisah ada taman durian, di dalamnya terdapat berbagai macam durian dengan cita rasa lezat yang berbeda. Untuk masuk ke dalam taman itu kita harus bayar jutaan rupiah. Di dalamnya kita boleh menikmati keindahan taman, mencicipi buah durian sampai ambil sebanyak-banyaknya bawa pulang pun diperbolehkan. Taman ini taman ajaib. Sebanyak apapun kita ambil, buahnya akan selalu ada.

Ternyata jika diamati, ada 6 tipe pengunjung taman itu.

1. Pengunjung yang hanya duduk-duduk saja, menikmati indah dan sejuknya taman itu, tanpa mau mencicipi buah durian itu

2. Pengunjung yang masuk ke taman, namun hanya sekedar mencicipi sebiji buah durian saja. Buah durian ini berasal dari kebaikan teman-temannya yang mau membagi durian yang mereka dapat

3. Pengunjung yang berhasil makan buah durian dari hasil usahanya menunggu buah jatuh dari pohon

4. Pengunjung yang tak puas dengan menunggu saja, ia panjat dan gunakan segala cara agar bisa pulang membawa banyak durian pada pohon itu

5. Pengunjung yang tak puas pada satu cita rasa durian saja, ia panjat juga pohon durian yang lainnya

6. Pengunjung yang tak puas dengan satu taman ini, ia cari taman yang lainnya.

Nah pertanyaannya, kalau kita yang jadi pengunjung akan masuk tipe yang mana?

Cerita dan pertanyaan di atas pernah saya tanyakan ke mahasiswa pada satu kelas, ternyata mereka lebih banyak memilih tipe 3. Alasannya karena menunggu itu punya sensasi tersendiri. He he…

Cerita di atas, sebenarnya bisa dianalogikan dengan pendidikan di perguruan tinggi. Taman itu adalah perguruan tingginya, pengunjung adalah mahasiswanya, uang masuk taman adalah SPP, pohon adalah dosennya, buah durian adalah ilmunya.

Perumpamaannya seperti ini:

Tipe 1. Mahasiswa yang datang ke kampus, tak pernah masuk kuliah hanya putar-putar saja di dalam kampus itu. Nongkrong dari kafe ke kafe, menikmati wifi gratis dan pemandangan indah di kampus itu

Tipe 2. Mahasiswa yang datang ke kampus, jarang masuk kuliah, dapat tugas dan catatan dari kebaikan hati temannya

Tipe 3. Mahasiswa yang datang ke kampus, masuk kuliah, duduk diam dengar saja. Tanpa ada aktif bertanya dan diskusi

Tipe 4. Mahasiswa yang tak puas dari apa yang hanya dipresentasikan oleh dosennya, mahasiswa ini aktif bertanya dan berdiskusi

Tipe 5. Mahasiswa yag tak puas dengan satu dosen, ia tanyakan pula dan diskusi ke berbagai dosen, aktif ikut seminar, kuliah tamu dan lain-lain

Tipe 6. Mahasiswa yang tak puas dengan satu Universitas, ia jalani juga kuliah di jurusan atau universitas yang lain

Mau tipe manakah?

Problema Lahan Pertanian di Jepang

Jepang dan Indonesia memiliki kesamaan dalam hal makanan pokok. Kita sama-sama makan nasi. Jepang itu adalah negara yang padat. Dengan total luas yang lebih kecil dari pulau Sumatra, namun penduduknya setengah Indonesia. Dengan musim tanam yang hanya satu kali setahun, hebatnya negara ini tidak mengimpor beras, mereka swasembada beras. Kok bisa? Di sinilah hebatnya mereka. Namun hal itu bukanlah tanpa masalah. Berikut akan saya coba ceritakan rangkuman sejarah dan permasalahan lahan pertanian di Jepang. Dengan rujukan utamanya adalah buku yang sensei saya sebagai editornya (Usio & Miyashita, 2014).
Pasca perang dunia kedua, masyarakat Jepang banyak yang kelaparan. Untuk mengatasi hal itu pemerintahnya mengeluarkan kebijakan bahwa kepemilikan lahan pertanian yang sebelumnya dikuasai oleh tuan tanah, diserahkan kepada petani penggarap. Setelah tahun 60-an, ekonomi jepang mulai membaik, industri mulai berkembang. Mulailah terjadi kesenjangan antara industri dan pertanian. Produksi pertanian menurun, harga tanah terus meningkat karena permintaan untuk dibangun jadi kawasan industri. Sedangkan peraturan bahwa petani harus memiliki lahan yang digarapnya, menghambat perkembangan pertanian. Berbagai usaha dilakukan seperti membeli dan menggabungkan lahan pertanian menjadi skala yang lebih besar, namun petani tak mau melepas karena merasa harga akan terus meningkat. Setelah tahun 1970 mulai dikeluarkan peraturan baru bahwa petani boleh menyewa dan menggadaikan lahan pertanian.
Namun problem kesenjangan antara pertanian dan industri terus berlanjut. Yang muda-muda berangkat ke kota. Ditambah dengan berkurangnya jumlah kelahiran, membuat semakin banyak penduduk tua yang tinggal di pedesaan. Sehingga semakin banyak sawah-sawah menjadi terlantar. Saat ini jumlah sawah yang ditelantarkan seluas 396 ribu hektar, yaitu sama luasnya dengan prefektur Shiga atau prefektur Saitama.
Untuk mengatasi hal ini pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan subsidi. Untuk daerah perbukitan mendapatkan subsidi khusus. Sawah dengan kemiringan 1/20 atau lebih mendapatkan 21.000 Yen per 10 are (1 are = 100m2). Petani dengan sawah kemiringan dari 1/100 sampai 1/20 mendapatkan 8.000 Yen per 10 are. Tidak hanya diperbukitan, di daerah datar juga diberikan subsidi untuk merawat lahan pertanian dan sumber air. Jumlahnya tidak sebanyak yang di daerah perbukitan.
Pada tahun 2014, kementerian pertanian, perikanan dan kehutanan Jepang (dalam bahasa Inggris disingkat menjadi MAFF) mengeluarkan kebijakan subsidi lagi. Kebijakan subsidi ini diberi nama kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia sederhana mungkin disebut sebagai sistem bantuan langsung ala Jepang. Kenapa harus ditekankan bahwa ada “ala Jepang”nya? Karena untuk membedakan bantuan ala Jepang dengan ala Eropa. Kalau ala Eropa, bertujuan untuk menambah pendapatan petani, kalau ala Jepang ini lebih fokus ke restorasi lahan dan penguatan fungsi masyarakat di pedesaan. Bantuan ini berupa seperti mempertahankan budaya desa (Furusato, misalnya) sehingga menjadi tempat menarik untuk pariwisata. Bantuan juga bisa ditujukan untuk membuat memperbanyak sawah dan membuatnya menjadi semakin ramah lingkungan, dengan menggunakan berbagai metoda yang ada dll.
Walaupun sistem ini cukup sukses untuk mempertahankan produksi pertanian, namun para peneliti Jepang masih pesimis. Masalah terberatnya adalah semakin banyaknya penduduk tua, menjadi penghalang semuanya. Dalam bahasa sederhana, orang Jepang harus punya banyak anak kalau mau membantu negaranya. 🙂

Buku sensei saya:
Usio N, Miyashita T (2014) Social-ecological restoration in paddy-dominated landscape. Springer, Japan.
Tapi, cerita di atas lebih banyak bersumber dari bab pertama nya saja. Yang ditulis oleh Hashiguchi T., yang berjudul “Japan’s Agricultural Policies After World War II: Agricultural Land Use Policies and Problems”.

Sains Khalayak (Citizen Science)

Ilmu pengetahuan teruslah berkembang pesat. Untuk ilmu yang berasal dari lapangan, butuh usaha besar dari ilmuwan untuk melakukan observasi atau survei pengambilan data di lapangan. Jumlah ilmuwan sangatlah sedikit, namun data dan cakupan daerah yang harus disurvei sangatlah banyak. Untuk mengatasi masalah ini, sekarang ini mulai marak penggunaan metoda yang disebut dengan Citizen Science. Sepertinya belum ada terjemahan resmi dari metoda ini. Ada sebuah blog yang menerjemahkannya menjadi Sains Warga. Namun, saya lebih cenderung menerjemahkannya menjadi Sains Khalayak, karena ada acara di TVRI yang bernama Jurnalisme Khalayak yang merupakan bentuk citizen journalism.

Apa itu sains khalayak?
Sains khalayak adalah ketika masyarakat umum berkolaborasi dengan ilmuwan profesional dalam mengkoleksi, menuliskan, mengelompokkan, dan atau menganalisa data yang berkontribusi untuk menambah pemahaman kita, serta dalam rangka pengelolaan alam dan lingkungan.
Pada intinya, masyarakat umum ikut serta menjadi tim peneliti, minimal sebagai tim pengkoleksi data yang memberikan datanya kepada si ilmuwan.

Ada beberapa tahapan-tahapan yang umum dilakukan ketika melakukan sebuah usaha yang termasuk ke dalam kategori sains khalayak.
1. Memilih permasalahan ilmiah yang akan diteliti
2. Membuat tim ilmuwan/pendidik/teknokrat/evaluator yang menjadi tim inti
3. Mengembangkan, menguji dan memperbaiki protokol, isian data dan materi pendukung lainnya
4. Merekrut partisipan, masyarakat yang bersedia ikut serta dalam tim ini
5. Melatih partisipan
6. Menerima, menyunting dan menampilkan data
7. Menganalisa dan menginterpretasikan data
8. Menyebarkan data
9. mengukur manfaat yang didapatkan

Sains khalayak ini mirip dengan penelitian yang menggunakan kuisioner, bedanya adalah dari sudut pandangnya. Jika kuisioner yang umum digunakan, kita menganggap masyarakat umum sebagai responden. Kalau sains khalayak ini, masyarakat adalah sebagai tim yang membantu mengumpulkan data. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, tidak hanya data berupa tulisan saja yang bisa dikirim, foto, video, berkas, data lokasi GPS dan lain-lain bisa dikirimkan berkolaborasi dengan masyarakat. Apalagi dengan menjamurnya teknologi telepon canggih saat ini, semuanya ada di genggaman. Tinggal bagaimana membuatkan wadah salurannya, bisa melalui halaman situs, email, media sosial, aplikasi di telepon genggam, dan lain lain.

Hal ini sangat mungkin bisa dikembangkan, apalagi di Indonesia yang daerahnya sangat luas, objek penelitian sangat banyak. Hanya butuh kepedulian dari masyarakat untuk berpartisipasi. Contoh sederhana di bidang biologi keanekaragaman hayati adalah: penelitian inventarisasi jenis hewan atau tumbuhan. Peneliti tinggal membuatkan wadah saluran bagi masyarakat untuk memasukkan data yang mereka ketahui di lapangan. Hitungan sederhananya, jika masing-masing pulau di Indonesia satu orang saja mengirimkan data mereka, maka setidaknya kita punya catatan data sekitar 17.000 data.

Di dunia satwa liar, sebenarnya sudah ada berbagai kegiatan yang melibatkan khalayak umum, seperti pengamatan burung pantai, raptor dll. Tinggal bagaimana cara mengelola potensi ini menjadi sebuah ajang pesta sains. Yaitu ajang menghasilkan sebuah dokumentasi ilmiah yang bisa diakses dan dibaca oleh khalayak ramai, yang bisa dirujuk oleh kegiatan penelitian berikutnya, dan yang bisa menjadi sebuah acuan dalam kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Ingin tahu lebih lengkap tentang Sains Khalayak ini? Silahkan baca artikel ini:
Citizen Science: A Developing Tool for Expanding Science Knowledge and Scientific Literacy

Sebuah ide untuk kebun binatang kita

Ada beberapa faktor yang membuat kebun binatang itu menjadi bagus. Yang pertama pastilah tentang fasilitas, baik untuk hewan maupun pengunjungnya. Kebun binatang di negara kaya, biasanya fasilitas yang tersedia jauh lebih baik. Karena membangun fasilitas fisik itu butuh dana yang besar. Dana inilah yang selama ini menjadi kambing hitam segala permasalahan kebun binatang di Indonesia.

Sebenarnya ada satu faktor lagi yang perlu diperhatikan kalau mau menjadi kebun binatang yang bagus. Faktor ini bagi saya merupakan faktor yang paling penting, setelah masalah kesejahteraan hewan. Yaitu knowledge, pesan, informasi, ilmu yang bisa diberikan oleh pihak kebun binatang dan diterima baik oleh pengunjung. Karena, kebun binatang bukan hanya sekedar tempat untuk melihat hewan terkurung, terkungkung, bermenung dan murung. Kebun binatang itu sebenarnya adalah salah satu tempat yang bagus untuk belajar tentang makhluk hidup. Inilah yang kurang di kebun binatang yang ada di Indonesia.

Cobalah tengok kebun binatang yang ada di sekitar kita. Apakah bertambah pengetahuan zoologi (ilmu tentang hewan) kita setelah berkunjung ke kebun binatang? Jangankan dapat informasi yang lengkap, seringkali nama hewan yang dipajang tidak sama dengan apa yang ada di dalam kandang. Ini penyesatan namanya! Sesat dan menyesatkan!

Kebun binatang yang bagus itu memberikan informasi sebanyak mungkin tentang hewannya, dikemas dengan cara penyajian yang menarik. Hal-hal yang unik dari hewan itu dijelaskan dan ditampilkan kepada pengunjung. Silahkan lihat foto-foto ini.

Sudah 8 tahun lebih saya kuliah biologi, dan sekitar 6 tahun saya fokus ke hewan, ternyata hal-hal simpel tersebut menjadi suatu yang baru bagi saya. Jika saja kebun-kebun binatang kita bisa memberikan secuil informasi menarik dari masing-masing hewannya, betapa menariknya hal itu. Murid SD, siswa SMP SMA, bahkan mahasiswa pun bisa belajar biologi, dengan hanya berkunjung ke kebun binatang.

Mungkin ada yang akan berkomentar bahwa mencari dan membuatkan informasi menarik itu juga butuh dana yang besar. Oke lah kalau begitu, saya coba paparkan rencana murah meriah yang terfikirkan oleh saya.

1. Kerjasama dengan ahlinya
Dalam hal ini yang punya tanggung jawab ilmu yaitu jurusan Biologi, maka bekerja sama lah dengan jurusan tersebut. Mungkin akan timbul komentar: melibatkan dosen dalam memikirkan hal ini (jadi staf ahli dsb) akan butuh biaya besar untuk menggaji mereka! Sebenarnya ada jalan keluar. Setiap dosen itu pasti butuh melakukan pengabdian masyarakat. Kalau tidak, pangkatnya tak akan naik-naik. He he…. Manfaatkan peluang ini.
Lalu apa yang bisa dilakukan dosen? Inilah rencana berikutnya…

2. Berdayakan mahasiswa
Sebagai contoh, di jurusan saya ada mata kuliah biokonservasi. Maka bisa saja ditambahkan satu materi di praktikumnya, yaitu membuat semacam “fact sheet”, fakta menarik tentang hewan yang ada di kebun binatang. Secara teknis bisa dilakukan sebagai berikut:

  • bagi mahasiswa menjadi beberapa kelompok
  • masing-masing kelompok mendapatkan satu jenis hewan yang menjadi tanggung jawabnya
  • tugasnya yaitu mencari fakta menarik dari hewan itu, lalu tampilkan dengan desain semenarik mungkin. Kata seorang teman saya, maksimal 30 kata. Karena ini batas maksimal kata yang bisa diingat oleh manusia dalam satu kali baca, dan tidak membosankan.
  • print di kertas A4, kalau bisa A3. Lalu laminating. Mungkin hanya butuh uang 10.000-15000 rupiah.
  • lalu tempelkan fact sheet ini ke masing-masing kandang.

Masalah biayanya dapat dari mana?
Mahasiswa juga bisa diajarkan fundraising, penggalangan dana. Fundraising merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting bagi dunia biologi konservasi. Saya teringat bagaimana usaha Wally Van Sickle pertama kali mendirikan sebuah lembaga donor bernama IdeaWild. Dua jempol deh.

Kegiatan ini bisa dilakukan oleh mahasiswa tiap tahun. Fact sheet nya bisa tambah banyak dan menarik. Nanti bisa juga dikemas menjadi bentuk stiker kecil yang bisa jadi sumber pemasukan juga. Pokoknya, kalau berniat pasti ada jalan

Semangat, InsyaAllah pasti bisa!

—–

Ide tulisan ini muncul ketika field trip ke Singapore Zoo, waktu itu ikut International Otter Congress 3-8 Juli 2016. Foto-foto juga dari sana.

Pengertian Fitness dalam ilmu Biologi

Fitness dalam ilmu biologi, tidak ada hubungannya dengan sebuah tempat dimana kita bisa melakukan olahraga atau Gym yang biasa kita gunakan sebagai tempat membentuk tubuh menjadi atletis.

Lalu apa itu fitness?

Orr (2009) menjelaskan sebagai berikut:
Fitness involves the ability of organisms— or, more rarely, populations or species— to survive and reproduce in the environment in which they find themselves. The consequence of this survival and reproduction is that organisms contribute genes to the next generation (Orr, 2009).

Jika diterjemahkan menurut versi saya adalah:
Fitness adalah kemampuan dari organisme (atau populasi, atau jenis) untuk bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan dimana mereka berada. Karena ketahanan hidup dan perkembangbiakan ini lah, maka organisme tersebut ikut menyumbangkan gen untuk generasi berikutnya

Bagaimana cara menghitung nilai fitness biologi ini?

Fitness bisa dihitung dengan 2 cara: fitness mutlak dan fitness relatif, dalam bahasa Inggris disebut absolute fitness dan relative fitness. Berikut pengertian dari 2 cara tersebut menurut biology-online.org:

Absolute fitness: A measure of biological fitness expressed as the total number of gene copies transmitted to the subsequent generation or the total number of surviving offspring that an individual produces during its lifetime.
Relative fitness: A measure of biological fitness expressed as the ratio of the absolute fitness of an individual (or of a genotype or of a phenotype) and the absolute fitness of a reference individual (or of genotype or of phenotype).

Kira-kira artinya seperti ini:
Fitness mutlak: Pengukuran dari fitness biologi yang ditampilkan sebagai: jumlah total salinan gen yang ditransmisikan ke generasi berikutnya, atau, jumlah total keturunan yang bertahan hidup dari sebuah individu selama hidupnya.
Fitness relatif: Pengukuran dari fitness biologi yang ditampilkan sebagai ratio antara fitness mutlak dari sebuah individu (atau genotip, atau fenotip) dan fitnes mutlak dari individu (atau genotip, atau fenotip) yang jadi rujukan.

Rujukan:

Pengertian Habitat, Lingkungan dan Relung

Berikut pengertian istilah-istilah tersebut berdasarkan usulan dari Kearney (2006):

Habitat: a description of a physical place, at a particular scale of space and time, where an organism either actually or potentially lives.
Environment: the biotic and abiotic phenomena surrounding and potentially interacting with an organism.
Niche: a subset of those environmental conditions which affect a particular organism, where the average absolute fitness of individuals in a population is greater than or equal to one.

Jika diterjemahkan menurut versi saya, kira-kira artinya akan seperti ini:

Habitat: Deskripsi dari sebuah lokasi fisik, pada skala ruang dan waktu tertentu, dimana sebuah organisme hidup atau berpotensi bisa hidup di sana.
Lingkungan: Fenomena biotik dan abiotik yang berada di sekitar organisme dan berpotensi memiliki interaksi dengannya.
Relung: bagian dari kondisi lingkungan yang mempengaruhi sebuah organisme tertentu, yang rata-rata nilai fitness mutlak  dari individu di dalam populasinya, lebih besar atau sama dengan 1.

Rujukan:

  • Kearney, M. 2006. Habitat, environment and niche: what are we modelling? OIKOS 115(1): 186-191

Berang-berang dalam sosial masyarakat Sumatera Barat

Abstrak

Berang-berang merupakan salah satu hewan yang memiliki hubungan dan peranan dengan kehidupan manusia. Peranannya itu berupa konflik, pemanfaatan, serta mitos dan cerita. Tulisan ini menjelaskan seperti apa berang-berang di dalam masyarakat Sumatera Barat, secara deskriptif berdasarkan informasi-informasi yang dikumpulkan secara non-sistematis sejak tahun 2008. Masyarakat menganggap berang-berang sebagai salah satu hama bagi perikanan. Berang-berang juga dikenal sebagai hewan memiliki batu mustika yang berkhasiat bagi pemilik batu. Kuciang aie, salah satu nama lokal bagi berang-berang, juga memiliki makna kiasan tersendiri bagi masyarakat Sumatra Barat. Berbagai mitos dan cara-cara unik penanganan konflik dengan berang-berang juga dijelaskan di dalam tulisan ini.

Kata kunci: Konflik, Mitos, Kearifan Lokal, Konservasi

Makalah ini telah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Biodiversitas dan Ekologi Tropika Indonesia Padang, 19 September 2015. Makalah ini bisa diunduh di –> Berang-berang di dalam masyarakat Sumbar – BioETI 2015. Sampai saat tulisan ini dibuat, prosidingnya belum selesai. Berkas dan tautannya akan diperbarui lagi kalau prosidingnya sudah terbit.

%d blogger menyukai ini: