Pengertian Fitness dalam ilmu Biologi

Fitness dalam ilmu biologi, tidak ada hubungannya dengan sebuah tempat dimana kita bisa melakukan olahraga atau Gym yang biasa kita gunakan sebagai tempat membentuk tubuh menjadi atletis.

Lalu apa itu fitness?

Orr (2009) menjelaskan sebagai berikut:
Fitness involves the ability of organisms— or, more rarely, populations or species— to survive and reproduce in the environment in which they find themselves. The consequence of this survival and reproduction is that organisms contribute genes to the next generation (Orr, 2009).

Jika diterjemahkan menurut versi saya adalah:
Fitness adalah kemampuan dari organisme (atau populasi, atau jenis) untuk bertahan hidup dan berkembang biak di lingkungan dimana mereka berada. Karena ketahanan hidup dan perkembangbiakan ini lah, maka organisme tersebut ikut menyumbangkan gen untuk generasi berikutnya

Bagaimana cara menghitung nilai fitness biologi ini?

Fitness bisa dihitung dengan 2 cara: fitness mutlak dan fitness relatif, dalam bahasa Inggris disebut absolute fitness dan relative fitness. Berikut pengertian dari 2 cara tersebut menurut biology-online.org:

Absolute fitness: A measure of biological fitness expressed as the total number of gene copies transmitted to the subsequent generation or the total number of surviving offspring that an individual produces during its lifetime.
Relative fitness: A measure of biological fitness expressed as the ratio of the absolute fitness of an individual (or of a genotype or of a phenotype) and the absolute fitness of a reference individual (or of genotype or of phenotype).

Kira-kira artinya seperti ini:
Fitness mutlak: Pengukuran dari fitness biologi yang ditampilkan sebagai: jumlah total salinan gen yang ditransmisikan ke generasi berikutnya, atau, jumlah total keturunan yang bertahan hidup dari sebuah individu selama hidupnya.
Fitness relatif: Pengukuran dari fitness biologi yang ditampilkan sebagai ratio antara fitness mutlak dari sebuah individu (atau genotip, atau fenotip) dan fitnes mutlak dari individu (atau genotip, atau fenotip) yang jadi rujukan.

Rujukan:

Pengertian Habitat, Lingkungan dan Relung

Berikut pengertian istilah-istilah tersebut berdasarkan usulan dari Kearney (2006):

Habitat: a description of a physical place, at a particular scale of space and time, where an organism either actually or potentially lives.
Environment: the biotic and abiotic phenomena surrounding and potentially interacting with an organism.
Niche: a subset of those environmental conditions which affect a particular organism, where the average absolute fitness of individuals in a population is greater than or equal to one.

Jika diterjemahkan menurut versi saya, kira-kira artinya akan seperti ini:

Habitat: Deskripsi dari sebuah lokasi fisik, pada skala ruang dan waktu tertentu, dimana sebuah organisme hidup atau berpotensi bisa hidup di sana.
Lingkungan: Fenomena biotik dan abiotik yang berada di sekitar organisme dan berpotensi memiliki interaksi dengannya.
Relung: bagian dari kondisi lingkungan yang mempengaruhi sebuah organisme tertentu, yang rata-rata nilai fitness mutlak  dari individu di dalam populasinya, lebih besar atau sama dengan 1.

Rujukan:

  • Kearney, M. 2006. Habitat, environment and niche: what are we modelling? OIKOS 115(1): 186-191

Berang-berang dalam sosial masyarakat Sumatera Barat

Abstrak

Berang-berang merupakan salah satu hewan yang memiliki hubungan dan peranan dengan kehidupan manusia. Peranannya itu berupa konflik, pemanfaatan, serta mitos dan cerita. Tulisan ini menjelaskan seperti apa berang-berang di dalam masyarakat Sumatera Barat, secara deskriptif berdasarkan informasi-informasi yang dikumpulkan secara non-sistematis sejak tahun 2008. Masyarakat menganggap berang-berang sebagai salah satu hama bagi perikanan. Berang-berang juga dikenal sebagai hewan memiliki batu mustika yang berkhasiat bagi pemilik batu. Kuciang aie, salah satu nama lokal bagi berang-berang, juga memiliki makna kiasan tersendiri bagi masyarakat Sumatra Barat. Berbagai mitos dan cara-cara unik penanganan konflik dengan berang-berang juga dijelaskan di dalam tulisan ini.

Kata kunci: Konflik, Mitos, Kearifan Lokal, Konservasi

Makalah ini telah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Biodiversitas dan Ekologi Tropika Indonesia Padang, 19 September 2015. Makalah ini bisa diunduh di –> Berang-berang di dalam masyarakat Sumbar – BioETI 2015. Sampai saat tulisan ini dibuat, prosidingnya belum selesai. Berkas dan tautannya akan diperbarui lagi kalau prosidingnya sudah terbit.

Apa itu Metapopulasi?

Secara sederhana, metapopulasi itu adalah sub-populasi, jika populasi itu kita pecah-pecah lagi pembagiannya. Dasar pembagian populasi menjadi metapopulasi itu bermacam-macam. Ada yang karena menempati area yang berbeda. Ada juga karena punya relung temporal yang berbeda. Ada juga karena kelompok individu itu punya kepemimpinan yang berbeda (koloni) dll. Jadi, istilah metapopulasi itu digunakan untuk menyebutkan kelompok individu yang merupakan bagian dari populasi. Antar metapopulasi tidak lah terpisah secara tetap, mereka punya interaksi satu sama lain. Hubungan antara metapopulasi ini memiliki dinamika yang menarik, dinamika metapopulasi tentunya juga merupakan dinamika dari populasi itu sendiri.

Metapopulasi juga bisa diartikan sebagai kelompok-kelompok individu di dalam populasi. Di dalam populasi terdapat beberapa metapopulasi. Istilah metapopulasi ini digunakan untuk membagi populasi menjadi kelompok-kelompok penyusun populasi. Tapi dalam kenyataannya, susah juga menentukan secara kasat mata berapa jumlah kelompok yang ada. Karena banyak faktor yang menentukan. Contoh: populasi kuntul kerbau di hamparan sawah. Misalnya kita melihat ada 300 ekor yang sedang berkumpul mencari makan di sawah yang sama. Namun ketika pulang mereka terbang ke arah yang berbeda. Ternyata ada 5 kelompok terbang. Kelompok-kelompok terbang itu bisa disebut dengan metapopulasi. Setelah musim sawah habis, kemudian 5 kelompok itu mencari makan ke sawah-sawah yang berbeda.

Metapopulasi itu juga tergantung dari sudut pandang kita melihatnya. Misal dari 5 kelompok terbang tadi, ternyata ada 2 kelompok yang tempat tidurnya di daerah yang sama, jika dibagi berdasarkan lokasi tempat tidur hanya ada 4 kelompok. Ini juga bisa disebut metapopulasi.

Di artikel berikut ini juga dijelaskan tentang contoh aplikasi metapopulasi di konservasi keanekaragaman hayati serta istilah terkait lainnya seperti source-sink, jerat ekologis dll.
https://aadrean.wordpress.com/2010/08/10/dinamika-metapopulasi-dan-source-sink-serta-contoh-penerapannya-pada-konservasi-burung-migran/

Hewan apa yang saya lihat? Berang-berangkah?

Ini adalah kunci sederhana yang menolong anda memastikan apakah telah melihat berang-berang.

  1. Seberapa jelas anda melihat hewan tersebut?

    1. Kurang jelas / terlihat sekilas / dari jarak jauh … 2

    2. Terlihat jelas hanya beberapa menit … 5

    3. Terlihat jelas dalam jarak dekat atau terlihat dalam waktu lama … 10

    4. Saya sering melihat hewan ini dalam berbagai situasi … 20

    5. Saya melihatnya tertangkap, atau sebagai hewan peliharaan, atau di dalam kandang,atau baru-baru ini mati dan saya bisa memeriksanya secara teliti dan mengambil foto … 29

  2. Dimana anda melihat hewan tersebut?

    1. Sedang berenang di badan air (sungai, danau, telaga, rawa) … 3

    2. Jauh dari badan air, atau sedang memanjat pohon … 4

  3. Maaf! Kami tidak dapat mengidentifikasi apa yang anda lihat

    Susah untuk mengidentifikasi secara jelas hewan apa yang anda lihat, Berang-berang adalah hewan perairan, namun biawak bisa diragukan sebagai berang-berang karena jarak lihat atau cahaya yang tidak jelas. Mereka berenang dan berjalan dengan cara yang mirip.

  4. Maaf! Kami tidak dapat mengidentifikasi apa yang anda lihat

    Berang-berang secara normalnya tidak memanjat pohon, dan biasanya berada pada tempat yang dekat dengan air. Terdapat banyak jenis mamalia berukuran sedang dari suku Mustelidae dan Viveridae (misalnya: luwak, musang, linsang) yang memiliki banyak kemiripan. Mamalia-mamalia ini memiliki kemiripan dalam bentuk tubuh, namun tidak menggunakan air sebagai tempat berburu makanan atau bermain

  5. Dimana anda melihat hewan tersebut?

    1. Sedang berenang di badan air (sungai, danau, telaga, rawa) … 6

    2. Jauh dari badan air, atau sedang memanjat pohon … 9

  6. Bagaimana cara berenangnya?

    1. Berenang secara perlahan, mengayuhkan ekor ke arah kiri dan kanan … 7

    2. Berenang cepat, menyelam ke dasar kemudian muncul lagi ke permukaan air, ekor muncul ke permukaan air ketika gerakan menyelam … 8

  7. Anda mungkin telah melihat seekor biawak

  8. Anda mungkin telah melihat seekor berang-berang

    Kami yakin anda telah melihat seekor berang-berang, namun untuk menentukan jenis, anda butuh penglihatan yang lebih baik.

  9. Maaf! Kami tidak dapat mengidentifikasi apa yang anda lihat

    Berang-berang secara normalnya tidak memanjat pohon, dan biasanya berada pada tempat yang dekat dengan air. Terdapat banyak jenis mamalia berukuran sedang dari suku Mustelidae dan Viveridae (misalnya: luwak, musang, linsang) yang memiliki banyak kemiripan. Mamalia-mamalia ini memiliki kemiripan dalam bentuk tubuh, namun tidak menggunakan air sebagai tempat berburu makanan atau bermain

  10. Dimana anda melihat hewan tersebut?

    1. Sedang berenang di badan air (sungai, danau, telaga, rawa) … 11

    2. Jauh dari badan air, atau sedang memanjat pohon … 9

  11. Bagaimana cara berenangnya?

    1. Berenang secara perlahan, mengayuhkan ekor ke arah kiri dan kanan … 7

    2. Berenang cepat, menyelam ke dasar kemudian muncul lagi ke permukaan air, ekor muncul ke permukaan air ketika gerakan menyelam … 12

  12. Anda mungkin telah melihat berang-berang. Berapa ekor jumlah berang-berang yang terlihat?

    1. Banyak – lebih dari tiga ekor … 13

    2. Kurang dari empat ekor … 16

    3. Hanya seekor berang-berang … 16

  13. Seberapa besar ukurannya?

    1. Panjang berang-berang yang terbesar lebih dari 1 m … 14

    2. Panjang berang-berang yang terbesar kurang dari 75 cm … 15

  14. Anda mungkin telah melihat Berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata)

  15. Anda mungkin telah melihat berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus)

  16. Seberapa besar ukurannya?

    1. Panjang berang-berang yang terbesar lebih dari 1 m … 17

    2. Panjang berang-berang yang terbesar kurang dari 75 cm … 15

  17. Apa warna berang-berang tersebut?

    1. Coklat abu-abu pucat dengan bulu yang mengkilat dan kepala besar membulat … 14

    2. Coklat gelap dengan bagian tubuh dan dagu berwarna lebih pucat  … 18

    3. Coklat sangat gelap dengan leher berwarna kekuningan dan ada garis putih pada bibir atas … 19

  18. Anda mungkin telah melihat berang-berang utara (Lutra lutra)

  19. Anda mungkin telah melihat berang-berang hidung berbulu (Lutra sumatrana)

  20. Bagaimana cara berenangnya?

    1. Berenang secara perlahan, mengayuhkan ekor ke arah kiri dan kanan … 7

    2. Berenang cepat, menyelam ke dasar kemudian muncul lagi ke permukaan air, ekor muncul ke permukaan air ketika gerakan menyelam … 21

  21. Anda mungkin telah melihat seekor berang-berang. Berapa ekor biasanya hewan ini terlihat dalam satu waktu?

    1. Banyak – lebih dari tiga ekor … 23

    2. Kurang dari empat ekor … 22

    3. Hanya seekor berang-berang … 22

  22. Bagaimana berang-berang tersebut menangkap makanannya

    1. Mereka berenang di dalam air, dan menyelam untuk menangkap ikan yang dimakannya ketika keluar dari air atau dibawa ke daratan dan ditahan dengan tangan lalu dimakan … 26

    2. Mereka menggunakan tangan untuk merasakan di bawah batu atau lumpur, dan mendapatkan kepiting, serangga dan ikan yang dimakan dengan cara dipegang dengan tangan … 23

  23. Apakah mereka berang-berang berukuran kecil, panjang total kurang dari 1 m?

    1. Ya, mereka berukuran kira-kira sebesar kucing rumah … 24

    2. Tidak, minimal salah satu dari mereka berukuran lebih dari 1 m … 25

  24. Mereka adalah berang-berang cakar kecil

  25. Mereka adalah berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata)

  26. Seperti apa bentuk berang-berang tersebut?

    1. Coklat gelap dengan bagian tubuh dan dagu berwarna lebih pucat dan kepala lebih datar dengan hidung kecil mengkilap … 27

    2. Coklat sangat gelap dengan leher berwarna kekuningan, ada garis putih pada bibir atas dan hidung berbulu … 28

  27. Anda telah melihat berang-berang utara (Lutra lutra)

  28. Anda telah melihat berang-berang hidung berbulu (Lutra sumatrana)

  29. Identifikasi dengan buku panduan Mammalia. Anda akan mendapatkan nama jenisnya secara lebih tepat.

==============

Untuk perbaikan, jika ada yang kurang tepat dalam panduan ini, mohon diberikan saran, kritikan dan komentarnya.

Panduan ini dimodifikasi dari panduan dari SERO (Supportive Environments for the Region’s Otters)

Isitilah-istilah dalam “Integrated Control Concept”

Istilah-istilah dan pengertiannya di bawah ini, berasal dari artikel Stern et al. (1959).
Biological control. The action of parasites, predators, or pathogens on a host or prey population which produces a lower general equilibrium position than would prevail in the absence of these agents.
Biotic insecticide. A biotic mortality agent applied to suppress a local insect pest population temporarily.
Biotic reduction. Deaths or other losses to the population (e.g., dispersal, reduced fecundity) caused or induced by biotic elements of the environment in a given period of time.
Economic control. The reduction or maintenance of a pest density below the economic-injury level (q.v.)
Economic-injury level. The lowest population density that will cause economic damage.
Economic threshold. The density at which control measures should be determined to prevent an increasing pest population from reaching the economic-injury level.
Ecosystem. The interacting system comprised of all the living organisms of an area and their nonliving environment.
General equilibrium position. The average density of a population over a period of time (usually lengthy) in the absence of permanent environmental change.
Governing mechanism. The actions of environmental factors, collectively or singly, which so intensify as the population density increases and relax as this density falls that population increase beyond a characteristic high level is prevented and decrease to extinction is made unlikely.
Integrated control. Applied pest control which combines and integrates biological and chemical control.
Microbial control. Biological control that is effected by microorganisms (including viruses).
Natural control. The maintenance of a more or less fluctuating population density within certain definable upper and lower limits over a period of time by the combined actions of abiotic and biotic elements of the environment.
Natural reduction. Deaths or other losses to the population caused by naturally existing abiotic and biotic elements of the environment in a given period of time.
Population. A group of individuals of the same species that occupies a given area.
Population dispersion. The pattern of spacing shown by members of a population within its occupied habitat and the total area over which the given population may be spread.
Selective insecticide. An insecticide which while killing the pest individuals spares much or most of the other fauna, including beneficial species, either through differential toxic action or through the manner in which the insecticide is utilized (formulation, dosage, timing, etc.).
Supervised insect control. Control of insects and related organisms supervised by qualified entomologists and based on conclusions reached from periodically measured population densities of pests and beneficial species.
Temporary equilibrium position. The average density of a population over a large area temporarily modified by a procedure such as continued use of insecticides.

Hanyut

Apa yang akan kita lakukan jika kita tercebur ke dalam sungai yang berarus deras yang bisa menenggelamkan dan menghanyutkan kita?

Pasti kita akan mencoba berenang sekuat tenaga, menggapai apa saja yang bisa diraih. Ranting kecil pun akan kita coba jadikan sebagai alat bantu mengapung. Rumput kecil yang lemah pun di pinggir sungai akan kita raih dan bertumpu padanya. Apa pun akan kita lakukan. Jangan sampai hanyut dan tenggelam.

Namun, apakah hal yang sama akan kita lakukan jika kita tercebur dalam sungai maksiat? Apakah kita akan terus mencoba berenang sekuat tenaga, mencoba cara apapun agar kita tidak hanyut ke jurang air terjun kenistaan, dan hanyut ke lautan jahannam? Atau malah kita hanya pasrah saja, pasrah dengan lingkungan kita. Kita pasrah saja, karena kita berada di lingkungan yang memang menghanyutkan, orang-orang lain biasa seperti itu, karena kita hanya bawahan yang disuruh oleh atasan, karena kita berada di lingkungan yang memang tidak kondusif. Lalu tak ada sedikitpun usaha kita menggapai mencari pegangan agar tak hanyut?

Kisah Seorang Guru

Pada saat sidang di akhirat, seorang guru diadili ditimbang pahala dan dosanya.

“OK, anda telah memberikan ilmu anda dengan ikhlas, tidak melakukan korupsi waktu, dan anda taat beribadah. Anda silahkan masuk ke surga…” kata malaikat.

Dengan senyum terkembang pak guru itu berjalan bahagia menuju pintu surga.

Tiba-tiba segerombolan orang yang berjumlah ratusan dan mungkin ribuan, datang berbondong-bondong berlari menyusul si guru itu.

“Tunggu pak!, Sebelum anda masuk ke surga anda harus bertanggung jawab terhadap kami” teriak kumpulan masa yang berdemontrasi itu.

“Kenapa? Apa yang harus saya tanggung jawabkan?. Oh kalian semua murid saya ya. Tanggung jawab apa? Bukankah kalian semua di dunia telah sukses menjadi orang kaya dan terkenal, dan itu berkat ilmu yang telah saya ajarkan?”

“Benar pak, kami telah kaya dan sukses. Tapi kami kaya dan sukses karena kami berlaku curang dan tidak jujur pak. Sehingga kami dituntut di akhirat perkara kecurangan dan ketidakjujuran kami. Maka bapak sebagai guru harus bertanggung jawab!”

“Kalau kalian tidak jujur itu adalah dosa kalian sendiri, kenapa saya harus bertanggung jawab? Saya tak pernah mengajarkan ketidakjujuran”

“Benar pak. Bapak memang tidak pernah mengajarkan ketidakjujuran kepada kami. Namun bapak membiarkan kami mencontek dan berbuat curang ketika ujian dulu. Bapak tahu kami melakukan semua itu, tapi bapak membiarkan kami. Asalkan tidak ribut, kami bebas saja melakukannya. Bapak harus tahu, bahwa gara-gara kami tidakjujur dengan ujian, nilai kami tinggi sehingga kami dapat sekolah dan pekerjaan yang tinggi. Namun semua itu tidak berkah. Memang kami menjadi kaya, namun pribadi kami semakin miskin, kami semakin terbiasa melakukan kecurangan. Berbagai macam trik dan tips setan telah mahir kami pelajari. Semua kami gunakan dalam kehidupan kami masing-masing di atas dunia. Oleh karena itu bapak harus bertanggung jawab. Ayo ikut kembali ke persidangan bersama kami!”

Lalu kerumunan masa menarik paksa Guru itu.

“Tidaaaa……..kkkkkkkkkkk!”

#######

TIPS NYAMAN BERBAHASA INGGRIS DI JEPANG

Walaupun pronounciation bahasa jepang agak-agak mirip dengan Indonesia tak seperti English yang bikin lidah keseleo, jangan sangka English logat Indonesia membuat orang jepang lebih mengerti apa yang kita ucapkan. Berikut beberapa tips dari pengalaman pribadi.

1. Jangan pernah hidupkan huruf R di akhir kata (akhir suku kata juga), ganti dengan A. Sebagai contoh. Computer, jangan sampai lidah anda bergetar bilang Kompyuter. Karena di logat jepang akan menjadi Kompyutaa, dengan A yang agak lebih panjang.
Contoh lain:
– Center = sentaa
– Tour = Tsua
– Door = Doa
– Interior = Interiaa
– Water = wotaa, tulisannya Uotaa
Begitu juga kata-kata lain, misalnya Care, jangan sampai dibilang Keer. Kalau seperti itu orang jepang akan susah mengerti dengan apa yang kita ucapkan. Bilang saja Kea.

2. Untuk huruf V, rapatkan dikit bibirnya sehingga lebih dekat ke B bukan ke F. Karena huruf V di jepang dibaca B.
contoh: Service = Saabisu, river = ribaa
Maka ketika mau bilang Voice, jangan bilang Fois, tapi lebih pasnya ke Bois.

3. Kalau untuk huruf TH, maka dirubah menjadi S. contoh: Acanthus dibaca Akansasu, thunder bird dibaca sandabaado

4. Untuk listening, pahami bahwa orang jepang tidak bisa menyebut huruf berikut:
– Huruf konsonan mati, kecuali huruf N. Untuk bilang Group, mereka akan bilang Guruupu.
– Tak bisa bilang Hu, akan jadi Fu. Sensei saya yang S3 di New Zealand, postdoc di Amerika masih saja bilang Fu is shi (Who is she?).
– Tak bisa bilang Tu, akan jadi Tsu

Terakhir pesan saya, hati-hati jangan sampai English anda semakin kacau di Jepang ini. He he he….

Bersyukurlah wahai warga Padang

Bersyukurlah wahai warga Padang

Termasuk di dalamnya warga Padang – Pariaman, daerah tempat saya menghabis lebih banyak umur selama ini. Daerah ini merupakan daerah yang mendapatkan nikmat yang banyak. Memang, kalau kita yang hanya tinggal di daerah ini tanpa membandingkan dengan daerah lain, maka tidak akan terasa nikmatnya.

Ketika daerah lain di Indonesia heboh dengan kekeringan, daerah ini tidaklah terlalu merasakan. Dengan Bukit Barisan yang berfungsi sebagai penangkap hujan, setidaknya hujan akan hampir selalu ada di daerah perbukitan walaupun hanya sedikit.
Ketika kota Pekanbaru sudah tercekik dengan asap, Bukit Barisan menahannya tak sampai ke Padang. Kalaupun sampai, asap debu sudah tersaring oleh Bukit itu, dengan sedikit hujan saja udara kembali segar.
Walaupun cerobong asap Semen Padang membubung dengan pekatnya, lagi-lagi Bukit Barisan dan hujan membersihkannya. Bukit Barisan itu layaknya AC bagi daerah ini.
Walapun panas terik jam 12 pun, cukup dengan berteduh di bawah sebatang pohon saja kita bisa menikmati suasana teduh angin semilir yang sejuk. Apalagi yang berada di pinggir sungai, tidur siang pun jadi sebuah nikmat dunia. Begitu juga jika berada di sawah, sebuah pondok sawah pun sudah cukup.
Ketika daerah lain susah mencari air bersih, namun di daerah ini cukup dengan menggali sebuah sumur kecil di pinggir sungai sudah bisa mendapatkan air bersih. Sungai dan mata air yang berjumlah banyak sekali yang muncul berasal dari Bukit Barisan. Musim kemarau pun tak membuat sungai menjadi mengering.

Rumput tetangga memang sepertinya lebih hijau. Ketika melihat foto-foto indahnya taman yang penuh bunga sakura di Jepang, seakan-akan suasana begitu menyenangkan. Ternyata bunga itu harus dinikmati dengan cuaca yang dingin, dan banyaknya spora berterbangan yang membuat alergi. Ketika cuaca menghangat, ternyata hangatnya negeri Jepang tidaklah senyaman hangatnya mentari pagi kita. Di musim panas kita tak akan bisa nyaman berteduh di bawah pohon, karena angin/udaranya yang panas, serasa kita berada di belakang kipasnya mesin AC. Tak nyaman. Apalagi ketika salju turun, cukup sehari saja yang membuat kita excited. Setelah itu kita akan merasakan susahnya beraktiftas.

Bersyukurlah…
Ketika kita masih bisa tiap hari membuka jendela di pagi hari, menghirup udara segar yang berhembus menenangkan hati dan pikiran.

Bersyukurlah…
Ketika hujan masih segar layaknya mandi dibawah curahan shower.

Bersyukurlah…

Karena yang saya takutkan adalah wanti-wanti dari Allah:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Bersyukurlah… Karena tak akan sedikit pun sulit bagi Allah untuk mengazab negeri ini.
Cukup dengan hanya memfokuskan curah hujan di suatu titik lokasi saja di hulu Bukit Barisan, ini sudah cukup untuk mendatangkan banjir bandang alias galodo.
Cukup dengan hanya melepaskan ikatan yang menahan sesar Mentawai, gempa 9 skala richter plus tsunami pun diprediksi oleh para ahli.
Cukup dengan hanya menghidupkan salah satu dari 3 gunung api aktif yang berada di sekitar daerah ini (Marapi, Tandikek, Talang), hujan api dan kembang api bencana pun akan semarak di daerah ini.

Bersyukurlah…
Dan janganlah merusaknya…

#SelfReminder

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.736 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: