Aishiteru

Sebelum saya belajar bahasa Jepang, ada 3 kata yang saya ketahui yaitu Hai (pengucapannya lebih mirip Haik), Sayonara dan Aishiteru. Kata Hai ini lah kata pertama yang saya ketahui. Tak tahu pasti kapan tahunya. Kata ini sangat melekat dengan image orang jepang yang mengucapkannya sambil membungkuk. Mungkin saya mengenalnya sejak masih kanak-kanak. Kata kedua yang saya ketahui adalah Sayonara. Kata ini saya ketahui ketika Pramuka dulu. Ada lagu “Sayonara-sayonara…”. Kata ketiga yaitu Aishiteru. Kata ini saya ketahui dari lagu. Lagu Indonesia yang sempat top dulunya.

Ketika saya belajar bahasa Jepang pertama kalinya, yaitu melalui situs NHK, kata Hai dan Sayonara langsung terpelajari pada kesempatan pertama. Sehingga saya paham arti, ucapan, kondisi, tulisan dll. Namun kata Aishiteru ini butuh lebih dari setengah semester untuk memahaminya.

Sekarang, akhirnya saya paham apa itu Aishiteru.

Aishiteru yang kita ketahui bersama adalah bahasa Jepangnya dari kata “Saya suka kamu”, “I love you”. Tapi ternyata orang Jepang sendiri jarang menggunakannya. Orang jepang dalam menyatakan cinta menggunakan kata Daisuki. Kalau dilihat dari tulisan kanjinya, dai artinya besar, suki artinya suka. Jadi kira-kira bisa diterjemahkan sebagai rasa sukanya sangat besar. Lalu dari mana Aishiteru ini?

Aishiteru ini ternyata berasal dari bahasa Cina. Asal katanya adalah kata Ai, sebagaimana yang kita ketahui Wo Ai Ni. Kemudian diserap oleh bahasa Jepang menjadi Ai shimasu, sebagaimana juga kata arbeit, diserapnya menjadi arubaito shimasu. Shimasu artinya melakukan. Jadi Ai shimasu bisa kita terjemahkan menjadi: melakukan sayang/cinta. Kemudian kata aishimasu ini dirubah menjadi bentuk Te menjadi Ai shite. Bentuk Te ini digunakan untuk merubah kata kerja menjadi kata perintah dan biasanya disambung dengan kudasai. Bisa juga menjadi kata sedang melakukan jika disambung dengan kata imasu. Maka jadi lah, Ai shite imasu, sedang mencintai. Pola kata kerja yang pakai “Masu” merupakan kata dalam bentuk sopan yang digunakan kepada atasan, dalam bahasa dan tulisan formal resmi. Kalau dalam percakapan sehari hari di dalam keluarga dan pertemanan, bahasa yang digunakan berbeda formatnya. Kata kerja berubah menjadi bentuk dasar. Sebagai contoh Imasu berubah menjadi Iru. Untuk mengungkapkan sayang tentunya tak perlu dengan cara formal Ai shite imasu. Maka berubahlah menjadi Ai shite iru, dalam pengucapannya biasanya dilebur menjadi Aishiteru.

Aishiteru itu artinya sedang mencintai. Timbul lagi pertanyaan siapa yang sedang mencintai? Dan siapa yang dicintai? Dalam bahasa Jepang, subjek tak perlu disebutkan kalau yang melakukan itu adalah Watashi (saya/orang pertama tunggal). Kemudian tak perlu juga diucapkan kepada siapanya kalau hal itu kepada orang yang sedang jadi lawan bicara kita (kamu/orang kedua tunggal). Hal ini berlaku umum untuk kata-kata yang lainnya. Dalam paragraf tulisan bahasa jepang kita mungkin akan menjumpai subjek hanya di kalimat pertama saja. Kalimat-kalimat berikutnya tanpa subjek, karena konteks pembicaraan telah disebutkan pada kalimat pertama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: