Dinamika metapopulasi dan source-sink serta contoh penerapannya pada konservasi burung migran

Dalam mencapai usaha konservasi, berbagai pendekatan, teori dan model diciptakan oleh para ahli untuk mewujudkan bagaimana keberlangsungan keanekaragaman hayati tetap terpelihara. Salah satu konsep model yang dibuat adalah konsep metapopulasi pada tingkat makhluk hidupnya, konsep source-sink pada tingkat habitatnya dan juga istilah jerat ekologi suatu fenomena yang terjadi. Pada makalah ini akan dijelaskan pengertian dari metapopulasi, source sink, dan jerat ekologi serta akan memberikan contoh penerapannya pada burung migran.

Metapopulasi

Metapopulasi adalah terdiri dari kelompok populasi yang secara spasial terpisah dari jenis yang sama dan berinteraksi pada beberapa tingkatan. Istilah metapopulasi dipilih oleh Richard Levins pada tahun 1970 untuk menjelaskan sebuah model dinamika populasi dari serngga hama pada lahan pertanian, namun ide tersebut berkembang luas dan diterapkan pada habitat yang terfragmentasi secara alami maupun secara buatan. Secara istilahnya Lavin menjelaskan bahwa metapopulasi adalah populasi dari populasi.

Sebuah metapopulasi secara umum dipertimbangkan terdiri dari beberapa populasi yang berbeda yang bersama menempati area dengan habitat yang sesuai yang sekarang tidak ditempati lagi. Dalam teori metapopulasi klasik, masing-masing siklus populasi yang relatif bebas dari populasi lain akan menjadi punah sebagai konsekuensi dari stokhastik demografik (fluktuasi ukuran populasi tergantung dari kejadian demografi acak); populasi yang lebih kecil akan lebih rawan menjadi punah.

Walaupun populasi inddividu memiliki masa hidup yang terbatas, metapopulasi secara keseluruhan biasanya stabil karena imigrasi dari suatu populasi (sebagai contoh mungkin karena ledakan jumlah populasi). Mereka juga melakukan emigrasi ke populasi kecil dan menyelamatkan populasi tersebut dari kepunahan (disebut sebagai efek penyelamatan).

Teori metapopulasi pertama kali dikembangkan untuk ekosistem terestrial, dan kemudian diaplikasikan untuk realm laut. Pada ilmu perikanan, pengertian “subpopulasi” sama dengan istilah ilmiah metapopulasi “populasi lokal.

Perkembangan teori metapopulasi, berhubungan dengan perkembangan teori dinamika “source-sink”, memberikan perhatian yang lebih terhadap pentingnya hubungan antara populasi yang terpisah. Walaupun tidak ada populasi tunggal yang bisa menjamin kelangsungan hidup jangka panjang, efek kombinasi dari banyak populasi mampu melakukan hal tersebut.

Source-sink

Dinamika source-sink adalah model secara teoritis yang digunakan oleh ekologis untuk menjelaskan bagaimana variasi kualitas habitat mengakibatkan populasi berkembang atau menurun. Semenjak kualitas habitat bervariasi, penting untuk mempertimbangkan bagaimana kualitas rendah suatu habitat bisa mempengaruhi sebuah populasi. Pada model ini, organisme menempati dua jenis blok habitat yang terfragmentasi: yaitu yang disebut dengan source, habitat kualitas tinggi yang bisa membuat populasi bertambah. Sedangkan yang kedua adalah sink, habitat dengan kualitas sangat rendah yang untuk dirinya sendiri tidak bisa mendukung populasi. Namun, jika kelebihan individu yang diproduksi pada source pindah ke sink, populasi sink bisa bertahan. Organisme secara umum dianggap mampu membedakan antara habitat yang memiliki kualitas yang tingi dengan yang rendah dan akan memilih habitat dengan kualitas tinggi. Namun jerat teori jerat ekologi menjelaskan alasan kenapa organisme sekarang ini memilih sink dibandingkan source. Akhirnya, model source-sink memberikan implikasi bahwa beberapa jumlah blok habitat lebih penting untuk keberlangsungan populasi jangka panjang dan mempertimbangkan kehadiran dinamika source-sink akan membantu dalam konservasi.

Jerat ekologi

Jerat ekologi (ecological traps) adalah skenario yang perubahan secara cepat lingkungan memicu organisme untuk memilih menetap di habitat miskin kualitas. Konsep ini tumbuh dari ide bahwa organisme yang secara aktif memilih habitat harus mempercayai tanda-tanda lingkungan untuk membantu mereka mengidentifikasi habitat berkualitas tinggi. Jika kualitas habitat atau tanda berubah sehingga tidak ada yang dapat dipercayai sebagai indikasi yang lain, organisme mungkin akan terjebak dan tertipu masuk ke dalam lingkungan dengan kualitas rendah. Secara spesifik, jerat diperkirakan terjadi ketika daya tarik suatu habitat meningkat jika dibandingkan dengan nilai yang diberikannya bagi keberlangsungan dan reproduksi. Sehingga hasilnya lebih memilih habitat dengan daya tarik dan secara umum menghindari habitat yang berkualitas tinggi namun rendah daya tarik. Ketika konsekuensi demografi untuk tipe ini dari tingkah laku pemilihan habitat yang salah telah dieksplorasi dalam konteks source dan sink, jerat ekologi merupakan bagian dari fenomena ini.

Konsep jerat ekologi diperkenalkan lebih dari 30 tahun yang lalu oleh Dwernychuk dan Boag dan banyak studi mengikuti saran bahwa fenomena jerat ini semakin meluas karena perubahan habitat oleh antropogenik. Studi teori dan empiris menunjukkan bahwa kesalahan dalam menilai kualitas habitat dapat memicu penurunan populasi atau kepunahan. Beberapa kesalahan tidak terbatas pada pemilihan habitat, juga terjadi pada konteks tingkah laku seperti penghindaran dari predator, pemilihan pasangan, navigasi, pemilihan lokasi makan, dll.

Model sourcesink dalam ekologi populasi

Model source-sink dari dinamika populasi telah memberikan kontribusi bagi banyak area dalam ekologi. Sebagai contoh, sebuah relung spesies yang awalnya didescripsikan sebagai faktot lingkungan yang dibutuhkan oleh satu spesies untuk hodupnya, dan spesies diharapkan akan dijumpai hanya pada area yang memenuhi relung tersebut. Konsep relung ini kemudian disembut “relung fundamental”, dan didescripsikan sebagai seluruh lokasi yang spesies dapat menempatinya secara sukses. Namun, relung sebenarnya berbeda, dideskripsikan sebagai seluruh lokasi yang spesies sekarang ini menempati. Model sourcesink memperlihatkan bahwa mayoritas populasi dapat menempati sebuah sink yang secara definisi tidak memenuhi kebutuhan relung dari suatu spesies, dan malah diluar dari relung fundamentalnya. Pada kasus ini relung sebenarnya lebih besar dari relung fundamental, dan ide tentang bagaimana mendefinisikan sebuah relung spesies harus berubah.

Dinamika sourcesink juga membentuk studi tentang metapopulasi, sebuah kelompok populasi yang menempati suatu blok habitat terfragmentasi. Karena beberapa blok habitat bisa menjadi punah, ketahanan regional metapopulasi tergantung dari kemampuannya untuk membentuk koloni baru antar blok habitat. Selama masih tersedia habitat yang mendukung reproduksi, sink akan mendukung jumlah populasi tumbuh melebihi kapasitas lingkungan. Dinamika sourcesink juga memiliki implikasi pada studi tentang koeksistensi dari spesies di dalam habitat. Karena sebuah habitat merupakan source bagi suatu spesies dan sink bagi spesies lain, koeksistensi sebenarnya tergantung pada imigrasi dari suatu blok habitat ke habitat lainnya

Dinamika sourcesink dan konservasi

Pengelola lahan dan konservasionis sekarang ini menjadi lebih tertarik untuk menjaga dan memperbaiki habitat berkualitas tinggi, terutama jenis yang langka, terancam atau statusnya hampir punah menjadi perhatian lebih. Sebagai hasilnya, menjadi penting untuk mengidentifikasi atau menciptakan habitat berkualitas tinggi, dan bagaimana populasi merespon kehilangan atau perubahan habitat. Karena sebagian besar proporsi populasi dapat hadir pada habitat sink, usaha konservasi mungkin bisa membuat misinterpretasi kebutuhan habitat bagi spesies. Tanpa mempertimbangkan kehadiran jerat ekologi, konservasi bisa berbuat salah dengan mempertahankan habitat jerat dengan asumsinya bahwa habitat yang dipilih organisme adalah habitat yang memiliki kualitas bagus. Kemudian habitat source dapat terabaikan atau dirusak jika hanya sedikit proporsi populasi menempati daerah tersebut. Degradasi dan perusakan habitat dapat berdampak terhadap sink, secara potensial pada daerah yang besar. Sehingga usaha untuk memperbaiki habitat yang terdegradasi tanpa sengaja dapat menciptakan jerat ekologi dengan memberikan tampilan sebuah habitat berkualitas, namun tidak mengembangkan seluruh elemen penting bagi pertahanan dan reproduksi organisme. Sehingga kesalahan akan membuat spesies yang telah terancam akan berkurang menuju kepunahan.

Dalam mempertimbangkan dimana lokasi yang akan dilindungi, melindungi habitat source diasumsikan sebagai tujuannya, walaupun jika penyebab sink adalah aktifitas manusia, desain simpelnya adalah menjadikan area tersebut dilindungi dan merubah sink menjadi source. Di lain pihak, menetapkan mana daerah source atau sink sangatlah sulit, area source bagi suatu spesies bisa jadi tidak penting bagi yang lain. Ketika kehadiran source, sink atau jerat harus dipertimbangkan untuk keberlangsungan populasi jangka pendek, khususnya untuk populasi yang sangat kecil, keberlangsungan jangka panjang dapat tergantung pada pembuatan jaringan antar kawasan lindung yang membentuk keberagaman habitat dan memperbolehkan populasi-populasi berinteraksi.

Aplikasi teori metapopulasi pada konservasi burung migran

Pemahaman struktur populasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan bagi konservasi satwaliar, baik dalam mendefinisikan unit konservasi yang dituju, unit signifikan serta unit manajemennya. Dan untuk mengidentifikasi hal yang membatasi kemampuan bertahan bagi populasi. Teori metapopulasi memberikan satu kerangka kerja konseptual untuk mempertimbangkan struktur dan demografi populasi.

Secara konsep dan penerapannya, teori metapopulasi lebih fokus pada jenis nonmigran. Walaupun sering diterapkan pada mammalia, teori ini juga terbukti bermanfaat bagi burung. Ketika diterapkan pada burung migran, teori metapopulasi mengatur dalam mempertimbangkan interaksi antar kelompok burung dari area yang berbeda.

Pada burung non migran, derajat bebas demografi secara jelas berhubungan dengan geografi, dan pertukaran individu merupakan fungsi dari kemungkinan pemencaran di antara area geografi. Pada contoh metapopulasi secara umum, subpopulasi terpisah jelas secara spasial dan akan saling bertemu dengan individu pada subpopulasi lain hanya jika terjadi pemencaran. Proses demografi akan mempengaruhi kelompok hewan di dalam masing-masing area dalam menetapkan kemungkinan kepunahan subpopulasi. Jika laju pemencaran cukup tinggi, maka akan mencegah kepunahan pada masing-masing area.

Penerapan teori metapopulasi pada hewan migran akan menjadi masalah yang lebih rumit. Pada jenis nonmigran, subpopulasi dan area merupakan sinonim dan hal ini tidak berlaku pada hewan migran. Subpopulasi dari jenis migran secara definisi tidaklah statik secara spasial. Ketika diterapkan teori metapopulasi pada konservasi burung, akan menjadi hal yang sangat penting untuk mempertimbangkan bahwa area bukanlah unit dari konservasi dan bukanlah unit dari metapopulasi. Untuk jenis migran, definisi unit ini tidak bisa dibenarkan tanpa memepertimbangkan banyak hal dari isolasi geografi dan kemungkinan pemencaran pada satu tahapan hidup. Kelompok yang jelas terpisah secara spasial, pada bagian lain dalam siklus tahunannya mungkin akan berada bersama dengan yang lain. Namun, kebersamaan secara waktu dan lokasi pada bagian lain siklus tahunan tidaklah terlalu penting. Lebih lanjutnya, faktor yang memicu kebebasan secara demografi dapat terjadi pada seluruh bagian siklus tahunan dari burung migran.

Konsep metapopulasi merupakan suatu alat yang sangat bermanfaat bagi konservasi burung termasuk burung migran, yang menyediakan kerangka kerja bagaimana dinamika beberapa populasi dapat dipertimbangkan dan diprediksi. Penetapan struktur populasi mana yang masih bertahan untuk jenis migran sulit dalam mengidentifikasi subpopulati yang bebas secara demografi. Kelompok hewan yang terpisah belum bisa dianggap sebagai metapopulasi. Identifikasi kelompok hewan yang sebagai subpopulatsi yang terpisah secara demorafi di dalam populasi merupakan hal yang penting dalam menentukan strategi konservasi. Sebagai contoh, kerangka kerja konseptual dari teori metapopulasi dapat diterapkan pada beberapa burung migran. Untuk mengetahui teori matapopulasi mana yang bisa diaplikasikan, informasi yang lebih banyak dibutuhkan bagi jenis migran dibandingkan dengan nonmigran. Parameter lain yang dibutuhkan untuk menetapkan pemahaman tentang derajat bebas demografi subpopulasi dapat termasuk ke dalam penyebaran pada seluruh siklus hidup tahunannya (pemisahan secara spasial dan temporal), mekanisme tingkah laku, dan terutama interaksi antara spasial, temporal dan mekanisme tingkah laku.

Pada beberapa kasus, struktur metapopulasi dapat dijelaskan selama sebagian dari siklus tahunan, seperti pada area yang terpisah pembiakannya. Pada kasus ini, konsep metapopulasi dapat membantu dalam konservasi populasi. Namun struktur populasi yang hanya pada sebagian siklus tahunan tidaklah bisa mengindikasikan struktur populasi dan interaksi pada bagian siklus tahunan lainnya. Lebih lanjutnya, struktur populasi selama musim kawin sebaiknya tidak dipertimbangkan sebagai struktur populasi yang definitif. Struktur populasi selama musim dinginlah yang menjadi penting, dibandingkan dengan musim kawin. Sebagai contoh burung Bristle-thighed Curlews dan Kirtland’s Warblers memperlihatkan bagaimana penerapan teori metapopulasi selama musim non kawin memiliki arti penting dalam konservasi spesies ini. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan jenis burung temperata biasa yang nonmigran. Contohnya pada burung Blue Tits (Parus caeruleus L.) di daerah mediteranian, burung ini akan berbiak pada lokasi source dan kemudian akan melakukan emigrasi ke daerah sink.

Daftar Pustaka

Anonim. 2010. Metapopulasi. http://en.wikipedia.org/Metapopulation. 30 Juni 2010

Anonim. 2010. Sourcesink dynamics. Http://en.wikipedia.org/Sourcesink dynamics. 30 Juni 2010

Anonim. 2010. Ecological trap. Http://en.Wikipedia.org/Ecological_trap. 4 Juli 2010.

Blondel, J., Perret, P., Maistre, M., and Dias, P. C. 1992. Do harlequin mediterranean environments function as source sink for Blue Tits (Parus caeruleus L.)?. Landscape Ecology. 6(3): 213-219.

Esler, D. 2000. Applying Metapopulation Theory to Conservation of Migratory Birds. Conservation Biology . 14(2): 366-372

Tulisan ini merupakan tugas kuliah Ekologi Populasi, Biologi Pascasarjana Universitas Andalas

8 Responses to Dinamika metapopulasi dan source-sink serta contoh penerapannya pada konservasi burung migran

  1. nurdin mengatakan:

    hmm,, masi bingung,, sebenarnya struktur populasi tu apa,, ap ragam umur atw jenis kelamin atw ap?? tq klao bisa ngasi sdkit pencerahan…

  2. Aadrean mengatakan:

    Terima kasih atas pertanyaannya, dicoba dijawab.
    Yang termasuk ke dalam struktur populasi itu diantaranya:
    – Jenis kelamin
    – Umur
    – Kalau hewannya berkeluarga berapa keluarga, berapa jantan alfa (pemimpin)nya, kelompok harem dll
    – berapa kelompok metapopulasinya dll.
    Jadi, mengkaji struktur populasi itu termasuk seluruhnya baik umur jenis kelamin dll
    Contoh: Populasi burung bangau di suatu pulau berjumlah 1000 jenis. Terdiri dari 5 metapopulasi, dengan strukturnya: juvenile sekian, dewasa sekian. Jumlah jantan sekian dan betina sekian.
    Maaf kalau penjelasannya masih kurang jelas

  3. dewi mengatakan:

    jelaskan dan berikan fungsinya sourci dan sink?

  4. meliana mengatakan:

    apa batasan ruang populasi dan metapopulasi

    • Aadrean mengatakan:

      Tergantung cakupan pembahasan. Misal, kita membahas populasi Badak di TN X. Di dalam TN itu kan ada sub habitatnya, yang di sub habitat itu lah yang disebut metapopulasi.

  5. asep gunawan mengatakan:

    Terima kasih penjelasannya, sangat menarik dan padat. tapi mohon maaf saya masih belum paham dengan definisi Metapopulasi itu sendiri. Apa sebenarnya metapopulasi itu.
    Pada tulisan diats saya menemukan beberapa definisi Metapopulasi, yaitu:

    Metapopulasi adalah terdiri dari kelompok populasi yang secara spasial terpisah dari jenis yang sama dan berinteraksi pada beberapa tingkatan –> kumpulan populasi yang terpisah dari populasi sejenis

    Metapopulasi adalah sebuah model dinamika populasi –> dinamika populasi

    Metapopulasi adalah beberapa populasi yang berbeda yang bersama menempati area dengan habitat yang sesuai yang sekarang tidak ditempati lagi. –> kumpulan beberapa populasi yang berbeda

    jadi yang disebut metapopulasi itu apa?
    Apakah kumpulan populasi yang sejenis yang pindah habiitat (sebagian kecil)
    Apakah kumpulan dari beberapa populasi yang berbeda yang akhirnya bertemu di habitat baru karena bermigraasi?
    ATAU apa?

    Terima kasih

    • Aadrean mengatakan:

      Secara sederhana, metapopulasi itu adalah sub-populasi. Jika populasi itu kita pecah-pecah lagi pembagiannya. Dasar pembagian populasi menjadi metapopulasi itu bermacam-macam. Ada yang karena menempati area yang berbeda. Ada juga karena punya relung temporal yang berbeda. Ada juga karena kelompok individu itu punya kepemimpinan yang berbeda (koloni) dll. Jadi, istilah metapopulasi itu digunakan untuk menyebutkan kelompok individu yang merupakan bagian dari populasi. Antar metapopulasi tidak lah terpisah secara tetap, mereka punya interaksi satu sama lain. Hubungan antara metapopulasi ini memiliki dinamika yang menarik, dinamika metapopulasi tentunya juga merupakan dinamika dari populasi itu sendiri.

      Metapopulasi juga bisa diartikan sebagai kelompok-kelompok individu di dalam populasi. Di dalam populasi terdapat beberapa metapopulasi. Istilah metapopulasi ini digunakan untuk membagi populasi menjadi kelompok-kelompok penyusun populasi. Tapi dalam kenyataannya, susah juga menentukan secara kasat mata berapa jumlah kelompok yang ada. Karena banyak faktor yang menentukan. Contoh: populasi kuntul kerbau di hamparan sawah. Misalnya kita melihat ada 300 ekor yang sedang berkumpul mencari makan di sawah yang sama. Namun ketika pulang mereka terbang ke arah yang berbeda. Ternyata ada 5 kelompok terbang. Kelompok-kelompok terbang itu bisa disebut dengan metapopulasi. Setelah musim sawah habis, kemudian 5 kelompok itu mencari makan ke sawah-sawah yang berbeda.

      Metapopulasi itu juga tergantung dari sudut pandang kita melihatnya. Misal dari 5 kelompok terbang tadi, ternyata ada 2 kelompok yang tempat tidurnya di daerah yang sama, jika dibagi berdasarkan lokasi tempat tidur hanya ada 4 kelompok. Ini juga bisa disebut metapopulasi.

  6. Ping-balik: Apa itu Metapopulasi? | Tulisanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: