UNITED NATION FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE (UNFCCC)

  1. Sejarah

Pembentukan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) diawali dari pertemuan KTT Bumi (Earth Summit) pada tanggal 3 – 14 Juni 1992 di Rio de Jeneiro, Brazil yang dihadiri oleh perwakilan 172 negara. Konferensi tersebut dihadiri tidak kurang dari 35.000 peserta yang terdiri dari kepala negara, peneliti, LSM, wartawan, akademisi, dan pihak terkait lainnya. Adapun isu utama yang didiskusikan yaitu isu lingkungan, termasuk di dalamnya pemanasan global, kerusakan hutan dan spesies langka, serta pengembangan industri yang ramah lingkungan. Salah satu hasil konferensi (disamping Agenda 21, CBD, dan rencana lainnya) yang fenomenal adalah dirumuskannya kerangka kerja internasional mengenai perubahan iklim atau lebih dikenal dengan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Setelah Konvensi Kerangka Kerjasama Persatuan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change – UNFCCC) disetujui pada KTT Bumi (Earth Summit) tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, negara-negara peserta konvensi mulai melakukan negosiasi-negosiasi untuk membentuk suatu aturan yang lebih detil dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

  1. Tujuan

UNFCCC memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan kerjasama secara berkesinambungan dengan mengadakan konferensi-konferensi yang dibuat melalui pertemuan atau forum-forum bilateral, regional dan multilateral seperti G8, G20, dan MEF (Major Economic Forum), dan juga dengan sejumlah organisasi LSM tingkat internasional, perwakilan-perwakilan antar negara dan organisasi kemasyaraktan dalam upaya mengatasi perubahan iklim.

  1. Struktural UNFCCC

UNFCCC merupakan lembaga independen dan bukan merupakan bagian dari PBB. Otoritas tertinggi UNFCCC dipegang oleh pertemuan anggota yang dilakukan setiap tahunnya yang dikenal dengan nama Conference of Parties (COP) semenjak tahun 1995. COP dipimpin oleh seorang presiden yang secara bergantian dipimpin oleh perwakilan masing-masing kawasan atau regional PBB yaitu Afrika, Asia, Amerika Latin dan Karibia, Eropa Bagian Timur dan Tengah, Eropa barat dan daerah lainnya.

UNFCCC memiliki dua badan permanen yang masing-masing menangani urusan tertentu. Badan pertama yaitu penasehat sains dan teknologi atau Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA). Badan ini memiliki tanggung jawab memberi masukan atau saran pada COP dalam bidang ilmiah, teknologi dan metodologi. Adapun tugas utamanya adalah mempromosikan pengembangan dan transfer teknologi yang ramah lingkungan dan melakukan pekerjaan teknis untuk meningkatkan pedoman dalam menyiapkan komunikasi nasional dan inventarisasi emisi. Bidang ini juga melakukan metodologi dalam bidang-bidang tertentu seperti LULUCF, HFC dan PFC. Selain itu SBSTA juga memainkan peranan penting sebagai penghubung antara informasi ilmiah yang disediakan oleh para ahli di IPCC dan kebijakan yang berorientasi terhadap kebutuhan COP. Badan ini juga kerap meminta informasi ilmiah lainnya kepada IPCC dan juga melakukan kerjasama dengan organisasi-organisasi internasional yang relevan lainnya untuk berbagi informasi mengenai pembangunan berkelanjutan.

Badan yang kedua yaitu badan pelaksana atau Subsidiary Body for Implementation (SBI). SBI bertanggung jawab dalam hal memberikan memberikan saran kepada COP dalam segala hal yang berkaitan dengan penerapan konvensi. Tugas utamanya adalah untuk menguji informasi dari inventarisasi komunikasi nasional dan inventarisasi emisi yang dikeluarkan oleh negara anggota dengan tujuan untuk menaksir efektifitas konvensi secara menyeluruh. SBI memeriksa bantuan dana yang diberikan kepada negara non-Annex 1 (kelompok negara berkembang dan sedang berkembang) oleh Negara Annex (kelompok negara maju dan negara industri) untuk membantu dalam penerapan komitmen konvensi dan menyediakan saran bagi COP dalam hal panduan mekanisme finansial (yang dioperasikan oleh GEF). SBI juga mmberikan masukan kepada COP dalam urusan penerapan anggaran dan urusan administrasi.

  1. UNFCCC-KP

Sepanjang COP 1 dan COP 2 hampir tidak ada kesepakatan yang berarti dalam upaya penurunan emisi GRK (Gasa Rumah Kaca). Sedangkan pada COP 3 sudah dapat dipastikan merupakan ajang perjuangan negosiasi antara negara-negara Annex 1 yang lebih dulu mengemisikan GRK sejak revolusi industri dengan negara-negara berkembang yang rentan terhadap perubahan iklim. Negara-negara maju memiliki kepentingan bahwa pembangunan di negara mereka tidak dapat lepas dari konsumsi energi dari sektor kelistrikan, transportasi, dan industri. Untuk mengakomodasikan kepentingan antara kedua pihak tersebut Protokol Kyoto adalah satu-satunya kesepakatan internasional untuk berkomitmen dalam mengurangi emisi GRK yang mengatur soal pengurangan emisi tersebut dengan lebih tegas dan terikat secara hukum.

Pada saat pertemuan otoritas tertinggi tahunan dalam UNFCCC ke-3 (Conference of Parties 3 – COP) yang diadakan di Kyoto (Jepang), suatu perangkat aturan yang disebut Protokol Kyoto diadopsi sebagai pendekatan untuk mengurangi emisi GRK. Kepentingan protokol tersebut adalah mengatur pengurangan emisi GRK dari semua negara-negara yang meratifikasi. Protokol Kyoto ditetapkan tanggal 12 Desember 1997, kurang lebih 3 tahun setelah Konvensi Perubahan Iklim mulai menegosiasikan bagaimana negara-negara peratifikasi konvensi harus mulai menurunkan emisi GRK mereka. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi atau pengeluaran CO2 dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukses diterapkan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata suhu global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050.

  1. Komitmen di bawah UNFCCC

Kerangka kerja umum – UNFCCC membuat kerangka kerja keseluruhan dalam upaya memenuhi tantangan perubahan iklim. Pada dasarnya target dari konvensi adalah menstabilkan konsentrasi GRK pada level yang dapat menghindari kerusakan pada sistem iklim. Konvensi mempunyai anggota mendekati jumlah negara di dunia pada Juni 2007, yaitu 191 negara yang meratifikasi emisinya. Negara-negara ini kemudian menjadi anggota dari Konvensi.

Pelaporan Emisi – Seluruh anggota dari Konvensi setuju berkomitmen pada point-point perihal perubahan iklim. Seluruh anggota harus membuat dan secara periode memberikan laporan khusus yang disebut dengan National Communication (NC). NC ini harus berisi informasi emisi GRK masing-masing dan menjelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan untuk menerapkan komitmen dari Konvensi.

Program Nasional – Konvensi mengharuskan seluruh anggotanya menerapkan program secara nasional dan langkah-langkah dalam mengkontrol emisi GRK dan mengatasi pengaruh dari perubahan iklim. Anggota juga harus setuju untuk mendorong pengembangan dan penggunaan teknologi ramah-iklim, mendorong pendidikan dan kesadaran publik pada perubahan iklim serta dampaknya, manajemen berkelanjutan pada sektor kehutanan dan ekositemnya yang dapat menyerap CO2 di atmosfer, dan bekerjasama antara seluruh anggotan dalam masalah ini.

Komitmen negara-negara industri – Negara – negara industri, yang disebut sebagai anggota Annex I mempunyai komitmen-komitmen tambahan. Seluruh anggotanya setuju untuk membuat kebijakan dan langkah-langkah untuk mencapai tujuan mengembalikan emisi GRK mereka ke kondisi pada tahun 1990 pada tahun 2000. Anggota Annex I juga harus memberikan NC secara berkala dan memberikan laporan tahunan terpisah mengenai emisi GRK mereka.

Penggunaan teknologi bersama – Negara-negara maju (disebut sebagai Annex II) juga harus mendorong dan menfasilitasi transfer teknologi yang ramah iklim kepada negara-negara berkembang dan negara yang mengalami transisi ekonomi. Mereka juga harus memberikan pendanaan untuk membantu negara-negara berkembang menerapkan komitmen mereka melalu Global Environment Facility yang melayani mekanisme pendanaan dan kerjasama biateral maupun multilateral.

  1. COP-15 (Kopenhagen. 7 – 18 Desember 2009)

Berbagai LSM melihat masih banyak kelemahan dalam dua draf keputusan KTT ke-15 Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark yang resmi dikeluarkan oleh UNFCCC. Tiga LSM yaitu Oxfam Internasional, WWF dan CSF Indonesia di Kopenhagen, melihat dua draf tersebut tidak secara jelas mencantumkan masalah pembiayaan dan kewajiban penurunan emisi dari negara maju (Annex-1 Protokol Kyoto). Oxfam Internasional melihat dua draf keputusan tersebut tidak memasukkan pembiayaan jangka panjang untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi perubahan iklim.

Pada draf keputusan AWG-KP tidak disebutkan tentang Amerika Serikat dan pada draf keputusan AWG-LCA tidak mencerminkan hasil perundingan resmi selama dua tahun. Meski banyak mengandung banyak kelemahan draf tersebut secara jelas menunjukkan kemungkinan adanya sebuah kesepakatan.
Dua draft – Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) sebagai penyelenggara KTT ke-15 Perubahan Iklim secara resmi merilis dua draf keputusan di bawah AWG-LCA dan AWG-KP. AWG-LCA (Ad Hoc Working Group on Long-term Cooperative Action under the Convention) atau Pokja Ad-hoc untuk Kerja sama Jangka Panjang merupakan perundingan dari negara-negara peserta Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) yang membahas kerja sama jangka panjang untuk menangani perubahan iklim. Sedangkan AWG-KP (Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I Parties under the Kyoto Protocol) merupakan perundingan dari negara-negara UNFCCC yang meratifikasi Protokol Kyoto.

DAFTAR PUSTAKA

Antara News. 2009. Draf Keputusan COP 15 Banyak Kelemahan. http://www.antaranews.com/. 23 Desember 2009.

Haifa, 2008. Konferensi Rio de Janerio 1992 dan Protokol Kyoto 1997. http://abu-nawas.blogspot.com/2008/11/konferensi-rio-de-janerio-1992-dan.html. 23 Desember 2009

Jurnal PDF : Sekilas Tentang Perubahan Iklim – Climate of Change at a Glance.

UNFCCC. http://unfccc.int/2860.php. 23 Desember 2009.

Disusun oleh:

Hafiz Muchti Kurniawan

Aadrean

Faurizki Fitra

Dewi Sartika

Fauzan

Rian Eka Putra

Tulisan ini merupakan tugas mata kuliah Biologi Lingkungan program studi Biologi Pascasarjana Universitas Andalas

4 Responses to UNITED NATION FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE (UNFCCC)

  1. santi mengatakan:

    waaahhh….nti copy ya ad…
    utk bahan kuliah biologi lingkungan…

  2. fachruddin s mengatakan:

    kira2 klo mau nyari bahan yg lengkap tentang semua deklarasi (stockholm,nairobi,rio,dll) dmn yah? trims

    • Aadrean mengatakan:

      Maaf Pak Fachruddin, Saya belum tau apakah sudah ada penulis blog Indonesia yang telah merangkumnya. Kalau yang dalam bentuk tugas kuliah, saya yakin sudah pernah ada yang membuatnya. Ide juga tuh buat tulisannya “apa saja konferensi dunia seputar lingkungan hidup dan konservasi”. Bagi yang pernah buat tugas kuliah tentang ini, diharapkan menerbitkannya dalam blog masing-masing.
      Kalau saya biasanya cari di situs resmi masing-masing konferensi saja. Google biasanya akan mengantarkan kita ke situs resmi. Tapi ya.. berbahasa Inggris, sekalian bisa ajang latihan “improve” bahasa Inggris kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: