Galo-galo (Trigona spp.): Lebah tak bersengat berpotensi besar

Lebah itu banyak macamnya, “dunsanak”nya pun banyak. Salah satu anggota keluarga dari lebah adalah galo-galo dalam bahasa Minang, atau stingless bee dalam bahasa Inggrisnya, atau kelulut dalam bahasa Jawa Melayunya (edited: bahasa Jawanya Klanceng). Secara ilmiah hewan ini bernama Trigona spp. Istilah “spp” itu artinya, galo-galo ini bergenus Trigona dan punya banyak jenis. Entah berapa jenisnya di Indonesia, saya pun tidak tau pasti. Kalau untuk seluruh dunia, Wikipedia menyebutkan 150 jenis trigona.

Sarang galo-galo

Galo-galo yang baru bersarang di salah satu tiang bambu penyangga di rumah saya.

Masyarakat yang tinggal di kampung-kampung, umumnya telah mengenal galo-galo. Di kampung saya hewan ini dikenal umum bersarang pada dinding-dinding rumah yang terbuat dari batu tanpa plesteran, dinding yang memiliki retakan atau rongga di sekitar batu pasangannya itu. Sarang mereka khas, karena memiliki terowongan dari zat lilin yang mengarah keluar sebagai gerbang sarang, serta sebagai tempat mendarat dan lepas landas.

Kenapa dikatakan berpotensi besar?
Ya, galo-galo ini berpotensi besar dijadikan bisnis peternakan dan riset teknologi.
Karena Galo-galo ini satu subfamily Apinae dengan lebah penghasil madu, hewan ini juga punya madu. Dan juga, sesuai dengan nama Inggrisnya, galo-galo adalah lebah yang tak memiliki sengat. Jadi, tidak perlu takut terhadap hewan ini, kalau diternakkan akan aman.

Lalu bagaimana dengan kualitas dan kuantitas madunya?
Dari sebuah kegiatan “jalan-jalan” ke Hutan Harapan di Jambi, saya dapat ilmu yang menarik. Pihak Harapan Rain Forest (HRF) sedang mengembangkan makhluk ini sebagai tambahan sumber penghasilan masyarakat asli di sana. Dari salah seorang karyawan HRF yang mengelola program ini mengatakan bahwa walaupun kuantitas tidak banyak, namun kualitas madu galo-galo lebih baik dari madu lebah biasa. Hal ini sudah diteliti oleh seorang profesor dari Universitas Brawijaya (mudah-mudahan saya tidak salah ingat), yang juga ikut serta dalam program itu.

Itu baru madunya saja, bagaimana dengan propolisnya?
Propolis adalah air liur lebah yang berfungsi menjaga sarang dan dirinya dari bakteri pengganggu. Zat ini sekarang sedang naik daun dalam media pengobatan sekarang ini. Tapi propolis yang digunakan itu adalah propolis dari lebah. Saya termasuk salah satu orang yang berkeyakinan bahwa setiap jenis memiliki sesuatu yang khas pada dirinya. Jadi, sangat mungkin sekali jika propolis galo-galo punya kemampuan yang berbeda, siapa tau salah satu jenis memiliki propolis yang sangat hebat zat kandungannya. Kalau ini ditemukan, maka potensinya akan bisa dimanfaatkan. Nah, profesor yang disebutkan sebelumnya di atas, beliaulah yang berminat dan mungkin telah melakukan penelitian propolis dari berbagai jenis galo-galo dari Hutan Harapan, yang dari info penduduk setempat lebih dari 20 jenis, berdasarkan identifikasi sederhana bentuk morfologi dan sarangnya saja.

Sarang buatan galo-galo di Solok

Sarang buatan galo-galo di Solok

Bagaimana cara beternaknya?
Dari yang saya lihat, sepertinya mudah sekali. Tinggal ambil sarangnya yang berisi galo-galo, masukkan ke dalam kotak kayu yang ditutup rapat sehingga hanya ada satu lubang kecil sebagai tempat keluar masuk. Lalu biarkan saja. Nanti mereka akan bertambah banyak dan menghasilkan madu. Tapi, pastilah tidak sesederhana itu, tentunya ada tips dan caranya agar si hewan itu betah, cepat berkembang, banyak madu. Pertanyaannya lagi, bagaimana cara memperbanyak sarang dari satu menjadi dua? Bagaimana cara membedakan ratu, jantan dan pekerjanya? Bagaimana cara mengambil madunya? Bagaimana cara memanen propolisnya? dan banyak pertanyaan lain.

Kesimpulannya, galo-galo itu berpotensi besar dalam bidang kesehatan, ekonomi, dan juga di bidang penelitian. Ayo, siapa yang berminat meneliti?!!

O ya, bicara soal penelitian tentang galo-galo, hal pertama kali saya ketahui adalah, ternyata ada galo-galo yang ditemukan di Sumatera Barat sehingga diberi nama Trigona minangkabau. Infonya lagi , karena jenis inilah profesor yang juga pembimbing 1 saya dulu waktu skripsi, Prof. Dr. Siti Salmah, mendapatkan Doktor di Jepang dan menjadi profesor.

——————————

# Alhamdulillah tulisan ini telah diterbitkan juga di Majalah Serangga. Terima kasih banyak.

21 Responses to Galo-galo (Trigona spp.): Lebah tak bersengat berpotensi besar

  1. yoriyuliandra mengatakan:

    Pertamaaax….

    Saya juga pernah beternak galo-galo ini… Atau lebih tepatnya, membiarkannya hidup, bersarang, dan berkembang biak di rumah gadang kami.

    They are stingless… tapi kalau digigit tetap pedih juga, dikit. Apalagi kalau dia menggigit dengan aroma dendam karena sarangnya diobrak-abrik… :))

  2. email90 mengatakan:

    ooh.. bu Siti Salmah ternyata meneliti lebih iko yo da Aad?

    *wah..wah.. terkagum2*

  3. Gusti 'ajo' Ramli mengatakan:

    ndak ado foto galo-galonyo doh??

  4. nsputra mengatakan:

    Menarik mas Aad. Teman juga ada yang pelihara Trigona, dan katanya produk yang paling potensial adalah propolis. Hmm..sepertinya bisa jadi sumber pendapatan juga ya mas..? Terima kasih sudah berbagi.

  5. Hadi Putra mengatakan:

    Terima kasih sudah berbagi informasinya…
    kebetulan saya sedang mengerjakan PKM-P Trigona laeviceps bersama teman-teman…

    Saya tertarik untuk memperlajari Tirgona minangkabau juga nih… Soalnya saya keturunan Minangkabau, di Sumanik, Batusangkar dan suatu saat ingin membuka peternakan di kampung…

    Boleh minta alamat emailnya da?

    • Aadrean mengatakan:

      Senang sekali jika bermanfaat banyak.
      Hadi Putra ini angkatan 2009 di Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB yo?
      Alamat email a2drean[at]gmail[dot]com.
      Sebenarnya saya tidak paham tentang galo-galo ini, bidang saya mammalia, khususnya lagi tentang berang-berang. Yang paham itu pembimbing saya, Prof. Dr. Siti Salmah, dosen Biologi Unand.

      • Hadi Putra mengatakan:

        Ko bisa tau departemen dan angkatan saya?

        kalau boleh, bisa minta email dosennya tidak?

        terima kasih

    • Aadrean mengatakan:

      He he, kan ada internet!
      email Prof. Dr. Siti Salmah: salmah.idrus[at]gmail[dot]com

      • Hadi Putra mengatakan:

        hehe, iseng juga ternyata…
        terima kasih untuk email dosen uda

        oiya, kalau mungkin ada pertanyaan tentang peternakan khususnya di bidang budidaya dan teknologi hasil, bisa dicoba mengirim email ke hadi.putra@live.com, akan saya usahakan jawab

        sekali lagi terima kasih banyak da

  6. AJO mengatakan:

    TERIMAKASIH INFORMASI GALO2NYO

  7. putrakejora mengatakan:

    Luar biasa.. sangat menarik da. Satu hal yang sangat membuat saya penasaran adalah apa yang menyebabkan kualitas madu dari stingless bee lebih baik daripada madu honey bee biasa? Apakah karena perilaku mencari makan yang berbeda?
    Thanks again uda

    • Aadrean mengatakan:

      Wow… pertanyaannya berat. Saya rasa belum ada yang tahu. Setau saya, Prof Siti Salmah hanya beliau lah yang pakarnya meneliti kajian biologi stingless bee ini di Indonesia. Dan ibuk ini baru sampai kajian taksonomi, perbedaan morfologi dan sarangnya saja.
      Berita sedihnya, beliau sudah pensiun. Penggantinya belum tampak ada yang serius.
      Entahlah kalau ada peneliti lain di Jawa, yang saya ketahui baru hanya kajian aplikatif kandungan zatnya saja.
      Peluang penelitian nih….! Lanjutkan!🙂
      CMIIW.

  8. Dafid Pirnanda mengatakan:

    saya sudah merasakan madu dari galo2 rasanya sangat enak

  9. Manziz mengatakan:

    aku juga beternak lebah trigona ini, tidak susah kok cara pemindahan koloni, cuman masalahnya semut aja yang bikin aku kerepotan jadi harus sering di cek tiap hari supaya semut tidak masuk ke dalam peti merusak sarang. jika koloni baru sudah berumur diatas 1bulan, sudah bisa dibilang aman lah dari serangan semut.

  10. Sri Rejeki mengatakan:

    Maaf, sedikit saya ralat: Istilah Kelulut itu tidak populer di Jawa, namun populer di Malaysia (silakan search di Google). Bahasa Jawanya yang lebih populer: Klanceng atau Lanceng, sedangkan bahasa Sundanya: Teuweul. Saya punya 3 sub species, Klanceng Gagak (biasa senang tinggal di bambu), Klanceng Tanah (buat sarangnya di tanah) dan Klanceng Semut (paling kecil).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: