Heterogeneity (keanekaragaman) pada bentang alam

Dalam bidang ekologi bentang alam (Landscape ecology), istilah heterogeneity sering muncul untuk menyebutkan keanekaragamannya. Istilah ini merupakan lawan dari homogeneity atau keseragaman. Heterogeneity juga bisa sama artinya dengan diversity. Heterogeneity itu berbicara tentang tingkat atau nilai keanekaragaman pada bentang alam itu.

Kalau bicara keanekaragaman pada bentang alam, kita akan berbicara secara empat dimensi. Tiga dimensi pada dimensi ruang ditambah satu dimensi pada waktu.

Dimensi ruang ini disebut dengan istilah spatial, sedangkan dimensi waktu ini disebut temporal.

Pada dimensi spatial, keanekaragaman bentang alam terbagi menjadi dua macam yaitu: keanekaragaman komposisi dan keanearagaman konfigurasi

Apa pula itu?

Komposisi berbicara tentang apa saja penyusunnya. Misalnya, pada sebuah bentang alam yang tersusun dari 5 jenis tipe tutupan lahan, maka keanekaragamannya lebih tinggi dari pada yang hanya punya 3 jenis tipe tutupan lahan.

Konfigurasi berbicara tentang bagaimana tersusunnya. Misalnya, dengan jumlah tipe bentang alam sama-sama 5, bentang alam yang tutupan lahannya tersusun secara kecil-kecil dan tersebar akan lebih keanekaragamannya lebih tinggi dari pada yang tersusun mengumpul.

Bagaimana cara menghitung nilai keanekaragaman tersebut?

Sebagai contoh, dari artikel open access terbaru dari Santana et al. (2017): Combined effects of landscape composition and heterogeneity on farmland avian diversity. Kenekaragaman komposisi dan konfigurasi dapat dihitung dengan menggunakan beberapa pendekatan sebagai berikut:

Keanekaragaman komposisi (compositional heterogeneity)

  • kekayaan (richness) = jumlah tipe tutupan lahan
  • Keragaman (diversity) = indeks keragaman Shannon dari proporsi tutupan lahan
  • Kesamarataan (evenness) = indeks kesamarataan Shannon dari proporsi tutupan lahan

Keanekaragaman konfigurasi (configurational heterogeneity)

  • persentase tutupan lahan dari patch terbesar (largest patch index). [Patch ini bahasa Indonesianya apa ya?]
  • rata-rata ukuran patch (mean patch size)
  • Kerapatan daerah tepi (edge density) antara patch alami dan patch produksi pertanian
  • rata-rata kompleksitas bentuk (mean shape complexity) dari patch = rata-rata dari keliling berbanding luas

—-

Catatan: Jika seandainya para peneliti merumuskan dan menuliskan teori-teori ini dengan bahasa Indonesia, pastilah kita tak akan susah memahaminya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: