Kehilangan student ID card

Ini sebuah cerita lama, lebih dari 2 tahun yang lalu. Sempat tertuliskan di Facebook, sekarang saya pindahkan ke blog.

———–

Pagi, seperti biasa tergesa-gesa mengejar jadwal bis yang kedua yaitu 08:15, karena jadwal bis pertama 07:40 sudah lewat. Pakai jaket berbulu hangat, penutup penghangat leher, penutup kepala atau kupluk (namanya apa ya?). Ambil tas. O ya, saya lupa student ID card. Saya ambil, lalu kalungkan dan diselipkan ke dalam jaket.
Dengan bersepatu bot yang ada corak kuning noraknya (hehe) saya berangkat dari apato ke bus stop. Kami biasa naik bus yang disebut sebagai Mame Bus, belum tahu juga kenapa diberi nama seperti itu. Bus ini adalah servis pelayanan gratis hanya untuk penghuni apato yang dikelola oleh Noka Estate. Bus hanya satu dan punya jadwal empat kali ke kampus pada pagi hari, dan 4 kali pulang kampus pada sore harinya. Jadwal bus ke dua ini termasuk yang padat. Karena jadwal ini cocok sekali untuk mahasiswa yang masuk pagi. O ya, jadwal kuliah pertama di sini jam 08:45.
Karena padat, saya harus berdiri, namun yang mau naik masih banyak, geser-geser hingga sampai akhirnya sampai ke belakang. Mahasiswa-mahasiswi di sini berdiri di dalam bus dengan sangat rapi. Mereka membuat 3 berbanjar dari depan sampai ke belakang, dan semuanya menghadap ke depan.
Singkat cerita, dengan diiringi cuaca yang diperkirakan sebagai pengantar badai salju (Pada saat tulisan ini ditulis badai salju dan es sedang banyak-banyaknya) saya sampai di kampus. Saya berjalan menuju lift, eh ternyata si lift baru saja berangkat naik. Rombongan mahasiswa yang lain berbelok mereka naik tangga. Tak mau kalah saya juga ikut naik tangga. Tidak terlalu tinggi hanya dari B2 menuju F2 (3 kali naik). Saya harus cepat, karena setelah meletakkan beberapa perkakas di lab, dan ganti sepatu boot menjadi sepatu biasa, saya harus ke kelas Nihon Go yang jaraknya lumayan, dua kali menyeberang jembatan Acanthus. Masuk ke lab tak bisa orang sembarangan. Di kampus ini, masuk ke lab harus dengan kuncinya yaitu student ID card.

Di depan pintu lab, saya rogoh student card yang tadi saya gantungkan di leher. Saya masukkan tangan ke dalam leher jaket, saya raih talinya. Loh… mana kartunya? Ternyata hanya talinya saja. Kartunya lepas. Dimanakah terjatuhnya?

Dimanakah student card saya? Apa akibatnya kalau kartu itu hilang? Yang pasti, saya tak akan bisa masuk ke lab. Waduh, besok saya harus presentasi. Apakah bisa buat kartu baru ya? Mahalkah biayanya? Pikiran pun berkecamuk.

Pikiran saya mulai surut balik, mengingat dimana saja saya lewat tadi. Saya telusuri kembali jalan yang dilalui, namun tak ada. Mungkin jatuh di bus. Lihat jadwal, ternyata beberapa menit lagi bus Mame akan kembali lewat. Saya tunggu bus bergambar kacang hijau ini di halte. Badai belum reda. Saya hanya bisa berlindung di balik tonggak halte dan membelakangi arah angin agar dingin tak langsung mengenai wajah.
Tepat waktu, bus ini pun datang. Lumayan banyak yang turun di halte Shizenken ini. Tepat setelah tak ada lagi yang turun, saya bergegas naik. Bus Mame ini memiliki 7 perhentian. Empat buah perhentian di luar kampus, dan tiga perhentian di dalam kampus. Halte shizenken ini adalah perhentian nomor 5, ada dua perhentian lagi yaitu di central dan di Utara kampus. Di halte Utara kampus, penumpang akan turun semua, lalu bus akan kembali ke halte nomor satu, sehingga Bus ini membentuk jalur melingkar melanjutkan trip berikutnya. Halte no 1 ini lah perhentian terdekat dengan rumah.
Singkat cerita, setelah semua penumpang turun di halte Utara (halte 7), saya hampiri pak sopir yang umurnya saya perkirakan sudah masuk usia pensiun. Kalau bertanya dalam bahasa Inggris, tidak akan dimengerti oleh bapak ini. Sebagai ganti saya tak jadi masuk kelas Nihon go hari ini, saya akan coba praktek langsung. Hehe…

Berikut percakapannya saya coba ingat-ingat lagi. Sebagai keterangan, tanda […] itu artinya saya tidak paham apa yang dibilang oleh Bapak tua ini. Saya buat terjemahannya dalam tanda kurung (). O ya, bagi yang paham bahasa Jepang, jangan tertawakan Nihon Go saya yang kacau ini ya. He he…
S: “Sumimasen. Gakusei no kaado, mimasuka”. (Maaf. kartu mahasiswa, lihat kah?)
Sambil saya tunjukkan tali gantungan student card
B: “Kino […]” (Kemarin bla bla bla). Gak tau apa yang dibilangnya
S: ? Sambil mengerenyitkan kening tanda tak paham

B: “Itsu” (Kapan?) Nah, kalau ini saya paham.
S: “Kyo” (hari ini)
B: […] si Bapak berbicara sambil menunjuk ke bagian belakang, ke arah deretan bangku penumpang. Tak satu pun saya paham apa katanya. Saya kira-kira saja mungkin artinya: Sudah lihat di belakang gak, mungkin saja ada terjatuh.
S: “Arimasen” (Tak ada)

B: “O..” (O…) Si Bapak ini heran dan berfikir.
S: “Doko he ikimasuka. Koko de uci he kaerimasu, mo ii desu ka. Watashi no uci wa Asahimachi ichome” (Mau ke mana? Dengan (bus) ini saya pulang ke rumah, boleh kah? Rumah saya di Asahimachi 1-chome)

Maksudnya saya ingin pulang ke rumah numpang bus ini. Normalnya, perjalanan bus dari halte 7 ke halte 1 itu tidak ada yang menumpang. Kalau mau pulang hanya pada sore hari dengan jalurnya terbalik dari 7 ke 6, 5, 4 dst sampai ke 1. Asahimachi 1-chome itu lokasi halte 1.
S: “Uci de, may be” (di rumah, mungkin) Ha ha… campur-campur. Saya tak tahu “mungkin” itu bahasa jepangnya apa, saya pakai bahasa inggris saja, may be.

B: Hai (ya).

Akhirnya saya dapat tumpangan pulang gratis. He he… Jika tak pakai bus ini, maka saya harus naik bus umum dan harus bayar 170 yen.

—-

Singkat cerita, ada mahasiswa yang menemukan kartu itu dan memberikannya ke administration office. Alhamdulillah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: