Bismillah…, belajar dari penjual paragede

Banyak berjalan, banyak yang dilihat, dan banyak juga dapat pelajaran.

Rutinitas tiap selasa pagi menyetop bus pertama jurusan Padang-Batusangkar telah banyak memberikan kesan dan pelajaran yang berharga bagi saya.

Pagi itu pak sopir Doris Abadi memberhentikan bus sebentar untuk hasratnya ke WC di pos paragede Lembah Anai, sekaligus memberikan kesempatan kepada penjual paragede untuk menjajakan jualannya, paragede (pergedel) jagung. Saya pun memperhatikan dengan seksama ada seorang Uda yang menghampiri bus kami, membuka pintu, lalu menyorakkan sorakan khasnya: “paragede…, paragede angek…, paragede angek…“. “Paragede limo ribu pitih“, sahut seorang ibu-ibu. Dengan sigap Uda itu mengambil 5 bungkus paragede dan memasukkannya ke dalam kantong plastik kresek, lalu diiringi ucapan yang lugas dan jelas sekali terdengar, “bismillah…”. Saya tersentak kagum, “subhanallah...”. Namun saya langsung termenung, “astaghfirullahal ‘azhim…“. Perbuatan ringan penuh berkah, baca bismillah ini saja, seringkali tidak saya lakukan!.

Pikiran kembali memutar ingatan. Apakah ada saya tadi keluar rumah baca bismillah? Apakah ada saya tadi naik bus baca bismillah? Apakah ada saya tadi makan pagi baca bismillah?

Astaghfirullahal’azhim…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: