Kendala dan hambatan dalam survei berang-berang

Ada beberapa kendala yang akan ditemui di lapangan ketika survei berang-berang, diantaranya:

1.Berang-berang merupakan hewan yang hidup di daerah lahan basah. Ketika survei, maka kita harus siap juga berbasah-basah. Dalam hal berbasah-basah, maka akan banyak ditimbulkan kendala seperti ketidak mampuan atau ketidak sesuaian fisik dalam kondisi lembab. Peralatan elektronik juga akan sangat rentan rusak terjatuh air atau basah dan lembab sehingga menjadi rusak.

2. Medan atau jalur survei yang harus ditempuh bukanlah jalur yang mudah. Kalau lokasi survei berada pada sungai besar atau danau, maka memakai perahu/sampan merupakan pilihan yang menarik dan mudah. Namun jika lokasi pada rawa yang dangkal, atau sungai kecil, bersemak, berhutan atau berbatu besar, maka kita akan susah melintasinya. Terhalang oleh air, lumpur, hutan, batu, tebing, dan segala bentuk bentang alam lainnya.

3. Daerah tropis merupakan daerah yang sangat suka hujan. Apalagi pada daerah-daerah tertentu (misal: Sumatera Barat sebelah baratnya Bukit barisan), bisa dikatakan setiap hari pada musim kapan pun akan ada peluang hujan. Hal ini akan sangat berpengaruh sekali. Ketinggian air yang bisa berubah mendadak sewaktu-waktu menjadi ancaman tersendiri. Hujan yang sering juga akan menghilangkan segala macam tanda-tanda keberadaan berang-berang. Sehingga akan semakin memperkecil peluang ditemukannya tanda seperti jejak, kotoran dan lain-lain. Waktu survei pun menjadi semakin singkat, karena hanya bisa sampai siang, sebab sorenya hujan.

4. Daerah jelajah hewan ini cukup jauh, akan ada kemungkinan kita tidak menemukan tanda. Hal ini terjadi bukan karena tidak ada berang-berang, tapi karena mereka itu yang sedang tidak ada di sana, sedang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hasil pengamatan pribadi pada satu “toiletnya”, berang-berang akan kembali lagi pada toilet itu setelah satu bulan lebih.

Namun, kendala dan hambatan yang diterima ini akan terlunasi dengan perasaan senang bahagia ketika melihat indahnya alam ini dan terutama ketika kita bisa bertemu langsung dengan si hewan. Apalagi jika bisa bertemu si Most Wanted, Lutra sumatrana. Mungkin saya akan berjingkrak-jingkrak, antara senang dan duka. Senang karena melihat langsung, namun duka karena mereka terancam punah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: