Memperpanjang SIM – part 1.

Hari itu hari kamis 30 Januari 2014. Saya pergi memperpanjang SIM di kantor satuan pelayanan administrasi Satpas SIM Polres Padang Pariaman. Di kantor yang terletak di sebuah tikungan di kecamatan Nan Sabaris.

Saya datang di pagi hari sekitar pukul 9-an, Saya mendapati sebuah kantor yang di halamannya terdapat beton angka 8 besar (sepertinya tempat ujian praktek berbelok-belok sepeda motor), dan di sampingnya ada mobil putih untuk ujian praktek SIM. Saat itu sedang sepi, hanya ada 2 orang yang baru saja keluar dari loket pelayanan.

Saya masuk ke dalam kantor tersebut. Di sebelah kanan terdapat meja pelayanan. Di balik meja itu ada 3 orang: 2 orang berpakaian sipil, satu berseragam polisi. Saya langsung menanyakan ke polisi yang berseragam.

 

Berikut percakapan saya (S) dengan pak polisi. Kita sebut saja P1, artinya pak polisi pertama. Untuk polisi yang berbeda akan saya kasih nomor berbeda, P2, P3 dst.

O ya, seluruh percakapan yang terjadi dalam kisah hidup saya kali ini, sebenarnya semuanya menggunakan bahasa minang dengan logat khas piaman. Agar mudah dipahami secara nasional dan internasional, maka akan saya translate ke bahasa Indonesia. He he…

 

S: Pak, mau memperpanjang SIM. SIM A dan SIM C

P1: Silahkan cek ke B**** J*** dulu (Pak polisi menyebut sebuah nama)

P1: Nanti untuk mengurus SIM bayarnya ke petugas BRI (sambil menunjuk seorang wanita di samping kanannya)

S: Berapa biayanya pak?

P1: Silahkan ke B**** J*** dulu, baru nanti kembali lagi ke sini

S: Berapa biaya SIM nya pak, saya perpanjangan

P1: Perpanjangan? Masih hidup kartunya?

S: Masih Pak.

P1: Untuk SIM C biaya PNBP nya 75ribu dan sim A 80 ribu. Ke sana dulu, (sambil menunjuk arah jalan) kemudian lihat ke sebelah kiri, ada tulisannya B**** J***

S: Terima kasih Pak

 

Saya kemudian keluar dan dengan mengendarai motor ke arah yang ditunjuk oleh pak polisi tadi. Saya berjalan pelan sesuai dengan arah yang ditunjuk. Yang terbayang dalam benak saya waktu itu adalah sebuah klinik tempat cek kesehatan.

 

Sekitar 150m saya melihat plang B**** J***. Ini dia!. O… ternyata sebuah lembaga tempat kursus keterampilan mengemudi. Terlihat di dalamnya ada 2 orang wanita. Saya langsung menuju ke wanita yang berpakaian jas putih (mungkin dokter). Di belakangnya ada poster putih berisi huruf-huruf yang beragam ukurannya mulai dari ukuran yang besar sampai yang sangat kecil.

Dua wanita ini kita sebut saja sebagai BJ1 dan BJ2

 

S: Buk, mau urus surat keterangan untuk memperpanjang SIM A dan C

BJ1: Ada KTP?

Waktu itu SIM sedang dalam gengaman tangan saya, saya perlihatkan kedua SIM itu

BJ1: O… pakai SIM saja

Wanita itu mulai menulis pada 2 buah kertas kuning yang dipojok kanan atasnya ada lambang yang ada palang merahnya

S: nama saya memang 2 huruf A nya Buk, agar di absen selalu menjadi nomor satu.

Ternyata saya masih sempat bercanda he he…

BJ1: He he… iya juga ya.

BJ1: Biasanya berapa tensi nya? Alat kami sedang rusak

S: Biasanya 120 Buk, 120 per 80

Wanita itu menulis. Tapi kok yang ditulis 120 per 70 ya?

Lalu saya sampaikan berat, tinggi dan jenis golongan darah saya.

Setelah itu saya disodorkan buku berisi gambar-gambar penuh bulatan warna-warni, yang mozaiknya membentuk gambar angka-angka

BJ1: Coba berapa angkanya ini?

O… kalau tes ini alhamdulillah saya dikarunia tidak buta warna. Saya jawab semuanya dengan cepat, lugas dan tepat semua angkanya he he… alhamdulillah…

Sembari si ibuk itu menulis, saya lanjutkan bolak-balik buku tes buta warna itu. Ternyata ada keterangannya. Saya baca dan pelajari. O… ternyata gini dan gitu ya? Saya dapat pengetahuan baru tentang buta warna.

BJ1: Oke, sekarang pindah ke sebelah (sambil menunjuk wanita yang disebelah kirinya. Si ibuk berkaca mata, kita beri nama BJ2).

 

Saya lalu pindah kursi dan dipersilahkan duduk dengan ramah. Ibuk BJ2 pun telah menerima 2 buah kertas kuning saya tadi. Saya memperhatikan si ibuk itu sedang menulis pada sebuah kertas. Kali ini kertasnya berwarna putih, dan di pinggirnya bercorak bingkai warna biru dan di tengah atasnya bertuliskan SERTIFIKAT.

 

Hah?!

 

S: Buk, ini sertifikat apa buk? Saya memperpanjang SIM Buk. (tanya saya yang mulai cemas)

BJ2: O… ini sertifikat bukti menguasai dengan baik cara mengemudi dengan benar

S: Harus pakai sertifikat ya buk?

BJ2: Iya, kalau tidak ada sertifikat dari lembaga pendidikan mengemudi, maka akan ada ujian teori dan ujian praktek.

S: Kalau memperpanjang SIM pakai tes juga ya buk? Berapa biayanya? (Tanya saya beruntun dan menunjuk ke sertifikat yang sudah mulai tertulis nama saya.

BJ2: Iya. Biayanya, dua-duanya menjadi 280 ribu.

 

Hah?! Gubrak!! Kalau seandainya bisa diilustrasikan dengan film kartun atau komik manga jepang, maka mungkin saya sudah terjungkal ke belakang atau muncul tetes air besar di depan kepala saya. Namun, sebenarnya saku saya lah yang sedang shock dan menangis mendengar angka 280 ribu itu.

 

S: Kalau tidak pakai sertifikat harus tes ya buk? Walau perpanjangan?

BJ2: Ya

S: Uang saya tak cukup buk (sambil garuk-garuk kepala, sambil mikir kok pakai tes pula ya?)

S: Saya tes saja lah buk

BJ2: Hampir sama saja habis dananya itu, kalau tes selesainya bisa 2 minggu atau malah lebih, dan kita juga harus bolak-balik.

S: Ya, gak apa-apa buk. Saya tes saja lah. Saya ambil surat keterangan kesehatan saja. Berapa buk?

BJ2: hmm… kalau surat keterangan kesehatan 20 ribu

S: Ya, surat keterangan saja. Ya gak apa-apa tes saja.

BJ2: Hmm… tunggu dulu. Coba saya tanya ke polisi dulu. (Kemudian si ibuk itu mengambil hapenya)

BJ2: Pak, ini ada bapak ini tes katanya (kata si ibuk ke hapenya, entah bicara sama siapa saya tidak tau)

Lalu si ibuk itu mengangguk-angguk

BJ2: Pak, coba tanya langsung saja kembali ke pos satpas (kata si ibuk itu ke saya)

S: Surat keterangan kesehatannya?

BJ2: Ke satpas saja pak.

S: OK buk, terima kasih banyak Buk

 

Yah… gak jadi deh dapat surat keterangan kesehatan

Saya kembali ke satpas, melapor ke pak polisi

 

S: Pak, rupanya pakai sertifikat bayar 280 ribu. Saya tak punya uang pak. Kalau tak pakai sertifikat, tes ya pak? Saya tes saja, gak apa-apa

P1: Tes ya? Hmm… kembali lagi hari Sabtu, lagian kertas kartu SIMnya juga sedang habis.

P2: Ya benar! kartu SIM nya sedang habis (Langsung ditimpal oleh polisi yang kedua, dari dalam ruangan)

S: Sabtu? Gak libur ya pak?

P1: O ya, Sabtu hari terjepit. Hari Senin saja lah (Sabtu dijepit oleh jum’at yang libur imlek)

S: Oke pak, terima kasih banyak.

S: O ya Pak. Saya isi saja lah dulu formulirnya. (Saya kembali berbalik badan)

 

Saya dikasih formulir. Lumayan banyak, kalau tak salah ada 3 lembar. Lalu saya isi. Pak polisi P1 juga memberikan panduan contoh pengisian.

Setelah selesai, saya berikan formulirnya ke pak P1.

 

P1: Ya, Ok. Sudah.

S: Bayarnya gak sekarang Pak?

P1: Gak, kalau sudah akan beres saja nanti.

S: Terima kasih banyak Pak

 

Lalu saya kembali pulang dengan pikiran yang berkecamuk. Kok tes ya? Padahal dulu ada SIM keliling, sangat mudah pengurusannya. Saya cari informasinya di internet dulu ah!

 

Setiba di rumah di Lubuk Alung, saya hidupkan modem wifinya Spidi. Lalu laptop dikonekkan ke internet. Saya searching di Gugel dengan kata kunci “Perpanjangan sim tes”. Ternyata keluar informasi bahwa sejak bulan Maret 2013 untuk perpanjangan akan dilakukan tes, yaitu tes simulator saja. Kalau SIM baru maka tesnya mulai dari tes teori, praktek dan simulator. Namun sumber info itu berasal dari sebuah berita. Saya lupa cek situs resmi polri.

O… ada tes simulator ya? Wah, asyik nih pakai simulator. Saya akan mencoba “main game”. Pasti seru! he he…

 

OK. Cerita hari Kamis 30 Januarinya sudah selesai. Kita akan lanjutkan ke cerita yang paling seru di hari Seninnya tanggal 3 Februari 2014.

One Response to Memperpanjang SIM – part 1.

  1. Ping-balik: Memperpanjang SIM – part 2 | Tulisanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: