Sungai kita semakin parah!

sungai
Sangat susah sekarang ini kita bisa menjumpai sungai yang masih bagus. Dengan airnya yang jernih bening, jika digayung dengan telapak tangan maka tidak akan ada tampak satu butirpun partikel yang terkandung di dalamnya, dasarnya berbatu-batu yang indah, dengan terlihatnya ikan-ikan kecil seperti kapareh (Puntius binotatus), ikan zebra beserta kawan-kawan nya yang berenang-berenang hilir mudik. Terkenang ketika masih SD dulu ketika sekolah sore duduk di pinggir sungai dengan bekal makan siang yang dibungkus dari rumah. Sesekali butiran-butiran nasi dilemparkan dan disambut gembira oleh ikan penghuni sungai. Masih teringat ketika dahulu kita menampung dengan tangan rembesan mata air yang keluar dari pinggiran tebing sungai, rembesan itulah yang langsung diminum.

Dahulu, peristiwa adanya peningkatan debit sungai secara mendadak, yang dikenal dengan nama lidah air merupakan peristiwa yang sangat langka. Peristiwa yang menjadi bahan cerita bagi orangtua untuk menakuti-nakuti anaknya agar tidak ikut berenang di sungai. Namun sekarang peristiwa lidah air ini bukan menjadi suatu hal yang luar biasa. Bagi pemerhati sungai atau yang belum, silahkan amati apa yang terjadi dengan sungai jika ada hujan? Dahulu, hujan/tidak hujan, tidaklah menghambat minat anak-anak untuk mandi di sungai. Kalau sekarang, bisa dikatakan tidak ada jeda antara hujan dengan meningkatnya dengan dahsyat debit sungai.

Cobalah perhatikan, hujan sedikit saja telah membuat sungai menjadi mendadak besar, arus sangat kencang dan warna sangat keruh seperti warna kapucino. Bagi mahasiswa Unand, cobalah perhatikan sungai dari Limau Manih yang kita lintasi jembatannya di dekat gerbang Unand. Coba perhatikan ketika hari cerah, maka akan terlihat sungai yang sepertinya asyik untuk duduk-duduk di atas batu-batu besar, bermain-main dengan air serta bercanda dengan ikan. Sungai ini pun sangat bermanfaat bagi penduduk lokal, tempat mencuci pakaian serta tempat berenangnya “putra duyung” dan “putri duyung”. Nah, lalu coba perhatikan ketika hujan, sangat mengerikan sekali!

jembatan paragede runtuh

Kalau sudah diamati, pikirkanlah! Bagaimanakan caranya para ikan bisa menyelamatkan diri dari bencana yang menghadang rumahnya tersebut? Bagaimanakah sistem dan teknik yang harus digunakan oleh para petani dalam mengalirkan air ke sawahnya? Seberapa tahankah pinggiran sungai bisa menahan terjangan arus sungai? Lalu bagaimana nasib masyarakat yang memiliki rumah, ladang atau menggembalakan ternak di pinggiran sungai? Apakah para insinyur yang membuat jembatan dulunya telah memperhitungkan ini? Telah banyak jembatan yang roboh (Karena aie gadang, telah ambruknya jembatan di “paragede” Aie Mancue, karena aie gadang pulalah telah robohnya jembatan kereta api di daerah Kayutanam, sehingga rencana kereta api wisata Padang-Padang Panjang tidak jadi beroperasi tahun ini). Telah banyak sawah dan ladang yang rusak (sawah dan ladang di pinggiran Batang Anai di Lubuk Alung banyak yang telah hilang) dan banyak contoh hasil kerusakan dan kerugian kita lainnya yang diakibatkan oleh sungai ini (satu contoh lagi: porak porandanya Taman Wisata Alam Mega Mendung) dan pasti banyak contoh kasus lainya, (kalau saja penulis tau, pasti akan ditulis).

Lalu, kenapa ini bisa terjadi????

One Response to Sungai kita semakin parah!

  1. santi mengatakan:

    nice post aad…. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: