Sains Khalayak (Citizen Science)

Ilmu pengetahuan teruslah berkembang pesat. Untuk ilmu yang berasal dari lapangan, butuh usaha besar dari ilmuwan untuk melakukan observasi atau survei pengambilan data di lapangan. Jumlah ilmuwan sangatlah sedikit, namun data dan cakupan daerah yang harus disurvei sangatlah banyak. Untuk mengatasi masalah ini, sekarang ini mulai marak penggunaan metoda yang disebut dengan Citizen Science. Sepertinya belum ada terjemahan resmi dari metoda ini. Ada sebuah blog yang menerjemahkannya menjadi Sains Warga. Namun, saya lebih cenderung menerjemahkannya menjadi Sains Khalayak, karena ada acara di TVRI yang bernama Jurnalisme Khalayak yang merupakan bentuk citizen journalism.

Apa itu sains khalayak?
Sains khalayak adalah ketika masyarakat umum berkolaborasi dengan ilmuwan profesional dalam mengkoleksi, menuliskan, mengelompokkan, dan atau menganalisa data yang berkontribusi untuk menambah pemahaman kita, serta dalam rangka pengelolaan alam dan lingkungan.
Pada intinya, masyarakat umum ikut serta menjadi tim peneliti, minimal sebagai tim pengkoleksi data yang memberikan datanya kepada si ilmuwan.

Ada beberapa tahapan-tahapan yang umum dilakukan ketika melakukan sebuah usaha yang termasuk ke dalam kategori sains khalayak.
1. Memilih permasalahan ilmiah yang akan diteliti
2. Membuat tim ilmuwan/pendidik/teknokrat/evaluator yang menjadi tim inti
3. Mengembangkan, menguji dan memperbaiki protokol, isian data dan materi pendukung lainnya
4. Merekrut partisipan, masyarakat yang bersedia ikut serta dalam tim ini
5. Melatih partisipan
6. Menerima, menyunting dan menampilkan data
7. Menganalisa dan menginterpretasikan data
8. Menyebarkan data
9. mengukur manfaat yang didapatkan

Sains khalayak ini mirip dengan penelitian yang menggunakan kuisioner, bedanya adalah dari sudut pandangnya. Jika kuisioner yang umum digunakan, kita menganggap masyarakat umum sebagai responden. Kalau sains khalayak ini, masyarakat adalah sebagai tim yang membantu mengumpulkan data. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, tidak hanya data berupa tulisan saja yang bisa dikirim, foto, video, berkas, data lokasi GPS dan lain-lain bisa dikirimkan berkolaborasi dengan masyarakat. Apalagi dengan menjamurnya teknologi telepon canggih saat ini, semuanya ada di genggaman. Tinggal bagaimana membuatkan wadah salurannya, bisa melalui halaman situs, email, media sosial, aplikasi di telepon genggam, dan lain lain.

Hal ini sangat mungkin bisa dikembangkan, apalagi di Indonesia yang daerahnya sangat luas, objek penelitian sangat banyak. Hanya butuh kepedulian dari masyarakat untuk berpartisipasi. Contoh sederhana di bidang biologi keanekaragaman hayati adalah: penelitian inventarisasi jenis hewan atau tumbuhan. Peneliti tinggal membuatkan wadah saluran bagi masyarakat untuk memasukkan data yang mereka ketahui di lapangan. Hitungan sederhananya, jika masing-masing pulau di Indonesia satu orang saja mengirimkan data mereka, maka setidaknya kita punya catatan data sekitar 17.000 data.

Di dunia satwa liar, sebenarnya sudah ada berbagai kegiatan yang melibatkan khalayak umum, seperti pengamatan burung pantai, raptor dll. Tinggal bagaimana cara mengelola potensi ini menjadi sebuah ajang pesta sains. Yaitu ajang menghasilkan sebuah dokumentasi ilmiah yang bisa diakses dan dibaca oleh khalayak ramai, yang bisa dirujuk oleh kegiatan penelitian berikutnya, dan yang bisa menjadi sebuah acuan dalam kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Ingin tahu lebih lengkap tentang Sains Khalayak ini? Silahkan baca artikel ini:
Citizen Science: A Developing Tool for Expanding Science Knowledge and Scientific Literacy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: