Memperpanjang SIM – part 2

Nah, sekarang kita lanjutkan kembali kisah hidup saya ini. Bagi yang belum baca part 1, silahkan baca dulu → Part 1.

Senin 3 Februari 2014.

I like Monday. Hari senin adalah hari yang sangat saya suka untuk masalah mengurus-urus surat dan segala sesuatunya. Karena pada hari ini pegawai atau petugas sudah kembali fresh setelah libur di hari Minggu nya. Hari senin biasanya semuanya hadir. Kalau hari lain kadang-kadang banyak kepala atau pimpinan yang tidak hadir atau dinas luar. Hal itu seringkali memperlambat urusan kita.

Pagi itu saya berangkat pagi-pagi sekali, berharap sebagai orang yang pertama datang. Satpas SIM buka pukul 08:00, saya datang 07:45. Namun, ternyata bukan saya yang pertama. Ada seorang bapak yang sudah menunggu di sana. Saya pun duduk di teras, di kursi tunggu.

Delapan teng, belum ada petugas yang siap. Seorang ibuk-ibuk masih sedang menyapu dan membersihkan ruangan. Setelah beberapa menit, ada seorang pak Polisi (Polisi P2) yang sudah ada dalam ruangan dan mondar-mandir.

Saya masuk dan bertanya ke pak polisi itu.

S: Pak, memperpanjang SIM, berkasnya sudah masuk hari Kamis kemarin.

P2: Ya, silahkan duduk dulu Pak.

Saya kembali ke ruangan tunggu. Orang sudah mulai banyak berdatangan untuk mengurus SIM. Mulai dari yang muda sampai yang tua, dari yang berpakaian pakaian dinas rapi sampai ke anak muda yang berpakaian jeans robek di lutut. Tapi tak ada yang bercelana pendek, karena ada peringatan bagi yang bercelana pendek dan datang pakai motor tak berhelm maka tak akan dilayani.

Selang beberapa lama, nama saya dipanggil. Saya masuk dan dipandu oleh polisi P2 untuk ke dalam ruangan di sebelah dalam. Dalam ruangan itu disudut kirinya ada perangkat mobil dan motor simulasi yang dilingkari dengan pita garis polisi, dan di sebelah kanan ada kursi yang berjejer seperti ruangan kelas, sepertinya itu tempat ujian.

P2: Bapak tes ya.

S: Saya memperpanjang sim, Pak. Simnya masih hidup

Pak polisi itu sibuk mencari-cari di lembar-lembaran tumpukan kertas.

P2: Ada nampak kunci jawaban ujian sim C dan A? (dengan sedikit bersorak ke polisi lain, yang berada di ruangan lain)

Sembari mencari, si Bapak polisi itu bertanya-tanya kepada saya, tinggal dimana, apa pekerjaannya dll. Kalau dialog ini saya skip saja, karena ini akan bisa membeberkan siapa saya sebenarnya. He he…

P2: Ini soal tesnya dan jawab di lembar jawabannya. Ini yang untuk sim C dan ini untuk sim A. (Pak polisi P2 menyerahkan dua buah map dan dua lembar soal)

P2: Silahkan mengerjakannya di bangku ini.

S: Ya Pak.

P2: Bapak punya pena? (kata bapak itu ketika melihat saya sibuk mencari pena)

S: Tak ditemukan Pak, saya permisi mau beli pena dulu.

P2: Pakai pena ini saja (Wah…, bapak polisinya baik!)

S: Terima kasih banyak Pak.

Saya lihat soalnya. Kertas soalnya berbentuk satu lembar besar, mungkin seukuran A3, dicetak bolak balik berwarna, lalu dilaminating. Bentuk soal pilihan berganda. Soalnya ada yang pertanyaan teori, dan banyak yang berupa contoh kasus. Contoh kasusnya disajikan dalam bentuk skema gambar kondisi jalan raya, kemudian akan dipertanyakan apa yang harus dilakukan misalnya oleh mobil A, atau mana yang lebih dulu jalan, mana yang harus diprioritaskan dan lain-lain.

Setelah sekitar setengah jam, pak polisi P2 kembali datang. Saya pun hanya tinggal mengecek ulang jawaban saja.

P2: Sudah selesai?

S: Sedikit lagi pak, ada yang ragu. Sim becak apa ya? (Kemudian saya pilih saja salah satu opsi jawaban, lalu saya serahkan ke Pak polisi P2 itu)

P2: Silahkan tunggu diluar dulu.

S: Terima kasih banyak Pak.

Saya kembali menunggu diluar. Saya lihat kemudian pak polisi itu mulai sibuk dengan memeriksa lembaran jawaban saya. Sambil menunggu, dari pada hening saja saya sapa seorang Bapak-bapak yang juga mengurus SIM. Si Bapak (B) ini juga memperpanjang SIM, SIMnya sudah mati beberapa bulan.

B: Sudah selesai? tadi di dalam ngapain saja?

S: O.. tadi ada isian yang harus diisi (saya yang tak mau memberitahukan bahwa saya ini kasusnya berbeda, he he…)

B: Berapa bayarnya, tadi saya di sana bayar 140 ribu.

S: Saya hanya di sini saja Pak, SIM saya masih hidup. (Saya masih saja tak ingin membeberkan kasus khusus saya ini).

Tiba-tiba nama saya dipanggil dari dalam. Saya bergegas masuk

P2: Pak, jawabannya sudah diperiksa. Yang ini nilainya 20, sedangkan yang ini nilainya 40. (Pak polisi itu menyodorkan kertas jawaban yang sudah diperiksa dengan tinta merah dan tertulis nilai yang sudah dilingkari). Bapak kembali 14 hari lagi untuk tes ulang.

Wow… Bodoh sekali saya!! Teriak saya dalam hati. Kok bisa ya? Saya mulai berfikir kencang sekali. Ada apa ini?!

O… berarti sudah saatnya ini!!!

S: Pak, kalau memperpanjang, tes teori juga ya Pak? Saya lihat di internet kalau memperpanjang SIM yang masih hidup hanya tes simulator. Kalau yang sudah mati, iya tes teori, praktek dan simulator.

P3: O… Bapak memperpanjang SIM?! (Celetuk polisi yang lain yang duduk agak di belakang)

P2: Bapak memperpanjang SIM? bilang lah dari tadi (waduh, si bapak P2 ini ikut-ikutan juga)

S: Kan sudah saya bilang dari tadi Pak (Malahan sejak hari Kamis sudah saya bilang dengan jelas-jelas)

P2: O…, kalau begitu silahkan bapak meminta surat keterangan kesehatan dulu ke B**** J***

S: Ya pak terima kasih banyak.

Berarti tak pakai sertifikat, hanya surat keterangan saja. Pikir saya dalam hati. Saya pun berangkat ke lembaga yang disebutkan pak polisi itu.

Setiba di sana, ternyata ada 3 orang. Ada si ibuk BJ2 yang berkacamata, namun untuk pemeriksaan kesehatannya sudah berganti, kali ini lebih muda, kita beri nama BJ3. Kemudian ada Bapak polisi yang sudah berumur. Kalau pangkatnya tak tau saya apa namanya, tapi kalau di tentara biasanya akrab disebut berpangkat kelelawar dua buah. Kita panggil saja pak polisi ini dengan P4.

Situasinya, pak Polisi P4 sedang duduk di kursi sedang bercerita dengan buk BJ2 yang sedang berdiri. Di tangan pak P4 itu ada segenggam uang yang dominan dengan warna merah-merahnya. Kalau petugas kesehatan buk BJ3 sedang duduk di kursinya.

Saya datang menghampiri.

S: Buk, minta surat keterangan kesehatan, surat keterangan kesehatan saja, tak pakai sertifikat.

Saya duduk lalu mulai diperiksa oleh buk BJ3. Saya berikan KTP. Dia mulai menulis.

Lalu tangan saya dipasang alat pengukur tekanan darah. Sepertinya alatnya sudah baik. Namun kok periksanya cepat sekali ya? Belum lagi tangan terasa dicengkram kuat oleh alat, si ibuk BJ3 itu sudah saja selesai. Lalu menuliskan hasilnya di kertas.

BJ2: Bapak yang kemarin itu ya?. (Rupanya si ibuk ini masih ingat)

S: Ya Buk, hanya surat keterangan kesehatan saja. Sertifikat tidak.

BJ2: Hanya surat keterangan saja?

S: Iya, kalau memperpanjang sim yang masih hidup surat kesehatan saja. Yang dites itu, kalau yang sudah  mati

P4: Kata siapa? (Pak polisi itu celetuk ikut bicara, namun dengan gaya yang cool tanpa ekspresi)

S: Saya baca diinternet Pak. Kalau perpanjangan SIM yang masih aktif, hanya tes simulator saja, kalau yang sudah lewat, baru pakai tes teori, praktek dan simulator. Berlaku sejak Maret 2013. Tapi entahlah kalau sekarang sudah bertukar. (Jawab saya panjang lebar, namun ditanggapi dingin tanpa ekspresi saja oleh pak P4)

BJ2: Coba lah bapak tanyakan kembali dulu ke satpas. Biasanya seluruhnya pakai sertifikat. Tak pernah yang tak pakai sertifikat. (Saat itu saya baru saja menyelesaikan tes buta warna)

BJ2: Coba lah Bapak tanyakan lagi.

S: Ya Buk.

Saya berangkat balik ke Satpas.

S: Pak, katanya pakai sertifikat Pak.

P2: Iya, harus pakai sertifikat

S: Kalau memperpanjang juga harus pakai sertifikat?

P2: Iya, semuanya pakai sertifikat, baik baru ataupun memperpanjang.

P2:  Bagaimana, sudah paham Bapak?! (Wow…, nadanya sudah mulai meninggi)

S: Maaf Pak, saya hanya bertanya

P2: O ya Pak, silahkan (nadanya sudah turun kembali, he he…)

S: Jadi semuanya harus pakai sertifikat, baik itu baru atau memperpanjang?

P2: Iya, seperti itu peraturan dari komandan Pak.

Saya termenung sejenak. Ada yang tak beres nih! Pikiran semakin kencang.

Saya mulai memperhatikan nama pak P2 dan pak P3, saya perhatikan juga Kasatlantas yang ada tertulis plang namanya di atas pintu masuk sebuah ruangan. Agar tak lupa, saya catat melalui sms pada hp saya yang hanya bisa telpon dan sms saja. (Radio dan senter juga bisa sih.🙂 )

S: Berarti saya pulang dulu nih Pak. Soalnya uang saya tak cukup.

P2: Berapa bapak bawa uang?

S: 200 ribu

P2: Kalau 200 ribu, untuk satu sim saja itu tidak cukup.

S: Ya Pak, saya balik dulu pak.

Saya berbalik pulang.

Sepanjang perjalanan pikiran saya berkecamuk. Ini ada yang salah. Ini harus diperbaiki. Maka saya pun bertekad, mencari informasi lebih lengkap. Apakah saya harus ke Kapolres? Atau kepada siapakah saya harus bertanya?

Setiba di rumah di Lubuk Alung, kembali saya menyalakan Spidi dan mengkonekkan dengan laptop biru saya. Saya cari prosedur pengurusan SIM, saya menemukannya di situs resmi Polri. Benar! Tak ada tes bagi perpanjangan. Saya cari kontak pengaduan layanan. Ketemu nomor telpon 110. Maka untuk pertama kalinya saya menelpon 110.

Saya berbicara dengan seseorang yang bersuara wanita. Saya tanyakan prosedur perpanjangan SIM. Benar! Tak ada tes, persis seperti di website polri. Berarti yang ada pada sebuah artikel berita bahwa yang harus pakai tes simulator itu tak berlaku lagi ya? pikir saya. Lalu saya ceritakanlah kejadian ini bahwa di Padang Pariaman harus pakai sertifikat dari lembaga.

Kemudian si ibuk 110 ini menyarankan untuk menelpon NTMC Polri 021-500669. Saya tanyakan hal yang sama. Benar! Tak ada tes. Lalu saya laporkan kejadian ini. Saya ceritakanlah kronologis lengkapnya. Si Ibuk NTMC ini menerima laporan saya dan akan berjanji untuk memprosesnya. Saya diberi tahu agar melapor kembali ke Satpas dan bilang bahwa sudah lapor ke NTMC dan bahwa perpanjang SIM tak pakai sertifikat.

Dialog detail dengan 110 dan NTMC ini tak usah saya rinci. Terlalu panjang jadinya. He he…

Bermodal kekuatan kebenaran dan bekingan dari NTMC, saya kembali ke Satpas SIM.

Setiba di Satpas

S: Pak boleh bertanya lagi pak, saya masih bingung

P2: Apa pak?

S: Tadi saya menelepon NTMC Polri, katanya untuk memperpanjang SIM tak ada pakai sertifikat.

P2: NTMC?

S: Ya, NTMC Polri. Saya barusan menelepon hotline nya.

P2: Silahkan duduk dulu Pak (Pak polisi ini mulai bingung, sepertinya agak gagap juga)

Sembari duduk menunggu di ruang tunggu, saya masih bisa mendengar. Saya diperbincangkan di dalam oleh sesama polisi, bahwa saya menelepon NTMC.

Nama saya dipanggil lagi. Kali ini saya dipanggil oleh polisi yang berbeda. Kita sebut sebagai P5.

Saya masuk, kemudian diajak masuk ke dalam ruangan tempat saya tes tadi.

P5: Jadi bapak memperpanjang sim. Tadi siapa yang bapak telepon?

S: NTMC Polri. Tak pakai sertifikat katanya. (mental saya semakin naik)

P5: Mana sim bapak?

Lalu saya serahkan kedua SIM. Pak P5 ini memperhatikan sim saya.

P5: O… kalau ini data basenya ada di kota Pariaman.

S: Kan alamatnya kabupaten Pak

P5: Iya benar, tapi datanya ada di kota. Kalau kode nomornya ini di kota (pak P5 itu menyebutkan kode nomor yang ada di nomor SIM

P5: Bapak ini simnya SIM kota. Coba lihat, kalau di sini kode nomornya ini! (dengan suara yang sedikit bersorak, sambil menunjuk kepada map-map pengurusan sim lainnya)

S: Jadi, memperpanjangnya di kota ya Pak?

P5: Ya, Bapak ini sim kota. Tentu tidak bisa kami bantu! (Dengan suara yang keras seperti sedang mengumumkan ke semua orang)

S: Ya Pak, terima kasih banyak.

Dulu waktu saya mengurus SIM tahun 2009, kota Pariaman belum terpisah dari kabupaten Padang Pariaman. Sekarang sudah ada Kota Pariaman dan Kabupaten Pariaman.

Perjalanan pun berlanjut menuju kota Pariaman.

Sampai di polres kota, saya langsung menuju loket SIM.

S: Pak, memperpanjang sim, SIM A dan SIM C (langsung saya sodorkan SIM dan KTP)

P6: Silahkan ke B**** J*** dan urus surat keterangan kesehatan dan sertifikat, kantornya dekat kantor walikota.

S: Kalau memperpanjang SIM pakai sertifikat juga pak?

P6:Ya

S: Pak, tadi saya sudah menghubungi NTMC Polri, katanya untuk memperpanjang SIM tidak pakai sertifikat

P6: NTMC?

S: Ya, NTMC pusat

P6: Oh, silahkan menunggu sebentar. (dengan wajah yang sedikit heran dan bingung)

Lalu saya duduk menunggu. Terlihat pak polisi P6 itu berbicara kepada rekannya dan terdengar lah mereka menyebut-nyebut NTMC.

Nama saya dipanggil lagi

S: Ya, pak.

P6: Memang pak, prosedurnya seperti itu. Silahkan bapak minta sertifikat dan kesehatan ke B**** J***.

S: Tapi saya sudah menanyakan ke NTMC pak. Katanya tidak pakai sertifikat. Tadi saya juga sudah balik dari polres Padang Pariaman.

(si Bapak mulai sedikit termenung)

P6: Ok, silahkan minta surat keterangan kesehatan.

S: Surat keterangan kesehatan saja kan pak? (Saya harus meyakinkan sekali lagi)

P6: Iya

S: Terima kasih Pak.

Lalu saya berangkat ke lokasi yang ditunjuk, terletak di dekat kantor Balaikota Pariaman.

Di sana ada dua orang wanita lagi, satu bagian berpakaian biasa (BJ4). Satu lagi berpakaian tenaga kesehatan putih-putih (BJ5).

S: Buk, memperpanjang SIM, cek kesehatan.

BJ5: Ya, silahkan duduk pak.

S: memperpanjang SIM A dan C. Tapi surat keterangan saja, tak pakai sertifikat

BJ5: Tapi…, biasanya semuanya pakai sertifikat

S: Saya memperpanjang buk.

BJ5: Ya memperpanjang juga pakai sertifikat.

S: Ini beda buk. Ini khusus. (jawab saya yang tak mau bertele-tele lagi).

S: Surat keterangan kesehatan saja.

Tanpa memperpanjang detail pemeriksaan, akhirnya saya dapat suratnya dengan membayar 40rb. Alhamdulillah.

Saya kembali ke kantor polisi. Loketnya sudah mulai ditutup, namun pak P6 masih berada di dalam.

S: Sudah tutup pak?

(Pak polisi itu membuka penutup loket dan langsung mengambil berkas saya, kemudian menutupnya lagi.)

P6: Silahkan tunggu sebentar nanti dipanggil untuk foto.

Singkat cerita, saya dipanggil, sidik jari dan berfoto. Menunggu sebentar akhirnya selesai. Alhamdulillah.

Dengan perasaan gembira dan puas, saya kembali pulang ke Lubuk Alung. Namun tak lupa saya menyinggahi Satpas SIM polres Padang Pariaman untuk melapor.

S: Pak, sudah selesai (Saya masuk ke dalam menerobos kerumunan orang yang antri)

P2: O… sudah dapat SIMnya?

S: Sudah, pak

P2: Mohon maaf ya pak, kami tadi tidak bisa membantu. Bapak simnya kota sih…

(ha ha ha…, tertawa saya dalam hati)

S: Ya pak, mohon maaf juga. Saya telah banyak bertanya-tanya ke Bapak.

P2: Ya sama-sama

S: Terima kasih pak.

Saya pamit, saya singgah juga ke B**** J*** yang di kabupaten untuk melapor.

S: Buk, lapor buk. Saya sudah selesai SIMnya. Kalau memperpanjang SIM tidak pakai sertifikat.

BJ2: Sudah selesai? Tidak pakai sertifikat?

S: Ya, tadi saya sudah melapor ke NTMC Polri. Katanya perpanjangan SIM tak pakai sertifikat.

BJ2: NTMC Polri?!

Si ibuk ini sepertinya mulai heran dan gugup. Sambil terlihat tangannya yang mencoba menarik laci meja secara pelan-pelan, dan mengambil hp di dalamnya.

S: Terima kasih banyak ya buk. (Saya tinggalkan begitu saja)

Alhamdulillah…. Hampir saja saya keluar uang banyak. Jadi saya hanya mengeluarkan uang sebesar 195 ribu rupiah. 75ribu untuk SIM C, 80ribu untuk SIM A dan 40ribu untuk pemeriksaan kesehatan. Kalau saya menuruti saja kemauan mereka, maka saya harus membayar 435 ribu rupiah.

195 vs 435.

Wow!!!

Alhamdulillah…
ALLAHU AKBAR!!!

2 Responses to Memperpanjang SIM – part 2

  1. tiwi mengatakan:

    Salut atas kesabaran bapak bolak balik seperti kisah diatas. Kalo saya mungkin sudah tidak sabar & langsung protes🙂

  2. Rifa mengatakan:

    Saya suka artikel bapak,,meskipun saya kena tipu dalam perpanjangan sim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: