Memulai itu memang sulit: Studi kasus penggunaan kertas bekas

Memulai sesuatu itu memang lah sulit. Namun berkat kegigihan dan kesabaran, insyaAllah semua itu akan bisa berhasil. Hal inilah yang bisa saya gambarkan untuk sebuah usaha kecil yang diharapkan berdampak besar terhadap kelestarian alam demi keberlangsungan makhluk hidup di atas dunia ini. Yaitu, kampanye penggunaan kertas bekas. Kampanye ini dilakukan di sebuah jurusan Biologi di sebuah kampus yang begitu asri, karena langsung berbatasan dengan AC alami hutan tropis Bukit Barisan, yaitu kampusnya Universitas Andalas. Berawal dari sebuah praktikum mata kuliah Biokonservasi, dan ide brilian yang penuh berkah dari seorang dosen muda yang didampingi para asistennya senior-senior saya yang penuh semangat.

Setiap pertemuan pada praktikum di jurusan Biologi, hampir selalu ada tes atau kuis uji pemahaman bagi mahasiswa yang praktikum, baik sebelum atau sesudah praktikum itu dilakukan. Tes ini populer kami sebut dengan istilah “respon”. Sebelumnya kertas yang digunakan untuk respon ini adalah harus kertas HVS A4 baru. Masih teringat ketika tahun-tahun awal dulu ketika saya masuk pertemuan praktikum, eh ternyata saya lupa bawa HVS. Kalau mau tak keluar modal, saya “palak” saja teman-teman cewek (Biasanya cewek itu selalu siap dengan cadangan he he…). Sepertinya ada juga teman saya yang hobinya memalak ini (Peace… bagi yang merasa). Tak jarang juga saya harus berlari dan minta izin ke asisten praktikum untuk beli HVS dulu. Pemandangan para makhluk ber-jaslab yang tergesa-gesa berdesakkan di depan kios fotokopi sambil meminta ke petugasnya, “bali HVS Da!” merupakan pemandangan yang umum terlihat waktu itu.

Namun pemandangan itu tak terlihat lagi. Semua praktikum sudah membolehkan penggunaan kertas bekas, dan malah mulai banyak praktikum yang mengharuskan penggunakan kertas bekas. Alhamdulillah…. Tak hanya itu. Kini dosen pun pada umumnya tak menganggap masalah lagi jika kita diskusi dan memberikan draft skripsi yang diprint pada kertas bekas.

Inisiasi ini dahulunya sempat mendapat pro kontra. Ada beberapa senior yang mencemeeh ide ini, dan mengatakan bahwa ini hanya gaya-gaya an saja, hanya ingin exist dan lain sebagainya. Penerapannya dulu di praktikum memang dengan cara dipaksa, yaitu mewajibkan pakai kertas bekas, kalau bukan kertas bekas responnya tak diperiksa, sehingga ada yang mahasiswa “cerdas” dengan membekaskan kertas barunya he he…. Pernah juga ketika awal-awalnya dulu, beberapa mahasiswa dikembalikan draft skripsinya oleh dosen pembimbing karena menggunakan kertas bekas, mungkin karena dianggap kurang menghormati. Permasalahan juga timbul dari si praktikan. Ada beberapa praktikan yang diduga menggunakan kertas terserak yang sudah remuk dan juga mencabut pamflet yang tertempel di mading sehingga masih ada selotipnya tertempel di kertas itu. Hal ini juga bisa membuat asisten menjadi ill feel ketika memeriksanya.

Pada awal-awal inovasi ini hanya dilakukan pada tiga buah praktikum yang dihandel oleh sang dosen muda itu. Namun satu persatu hasil didikan yang sebelumnya jadi praktikan, kemudian pada semester berikutnya menjadi asisten, mulai menerapkan ide ini pula. Dari awalnya hanya satu dua dosen saja yang anak bimbingannya menggunakan kertas bekas, sekarang ini umumnya dosen sudah membolehkannya. Alhamdulillah….

Itu di jurusan Biologi, bagaimana dengan jurusan lain? Saya belum tahu. Penggunaan kertas bekas di jurusan Biologi sebenarnya bisa digaungkan menjadi sebuah inovasi besar menjadi sebuah gerakan se-kampus Unand yang dipelopori oleh jurusan Biologi. Jika gerakan ini berhasil, tentu akan banyak lagi berkah bagi lingkungan. Mahasiswa pun akan mendapatkan manfaat besar, karena dahulu saya banyak mendengar keluhan dari teman-teman yang butuh banyak uang hanya untuk beli kertas dan print.

—-

#tulisan ini dibuat ketika praktikum Perkembangan Hewan sedang berlangsung. Objek hari ini adalah respon umum. Masing-masing mahasiswa rata-rata menghabiskan tiga helai kertas HVS. Hampir seluruhnya kertas bekas.🙂
#saya hanya sebagai follower dari gerakan ini. Cerita versi lengkap tentunya akan lebih menarik jika dipaparkan oleh pelaku utama he he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: