Bersyukurlah wahai warga Padang

Bersyukurlah wahai warga Padang

Termasuk di dalamnya warga Padang – Pariaman, daerah tempat saya menghabis lebih banyak umur selama ini. Daerah ini merupakan daerah yang mendapatkan nikmat yang banyak. Memang, kalau kita yang hanya tinggal di daerah ini tanpa membandingkan dengan daerah lain, maka tidak akan terasa nikmatnya.

Ketika daerah lain di Indonesia heboh dengan kekeringan, daerah ini tidaklah terlalu merasakan. Dengan Bukit Barisan yang berfungsi sebagai penangkap hujan, setidaknya hujan akan hampir selalu ada di daerah perbukitan walaupun hanya sedikit.
Ketika kota Pekanbaru sudah tercekik dengan asap, Bukit Barisan menahannya tak sampai ke Padang. Kalaupun sampai, asap debu sudah tersaring oleh Bukit itu, dengan sedikit hujan saja udara kembali segar.
Walaupun cerobong asap Semen Padang membubung dengan pekatnya, lagi-lagi Bukit Barisan dan hujan membersihkannya. Bukit Barisan itu layaknya AC bagi daerah ini.
Walapun panas terik jam 12 pun, cukup dengan berteduh di bawah sebatang pohon saja kita bisa menikmati suasana teduh angin semilir yang sejuk. Apalagi yang berada di pinggir sungai, tidur siang pun jadi sebuah nikmat dunia. Begitu juga jika berada di sawah, sebuah pondok sawah pun sudah cukup.
Ketika daerah lain susah mencari air bersih, namun di daerah ini cukup dengan menggali sebuah sumur kecil di pinggir sungai sudah bisa mendapatkan air bersih. Sungai dan mata air yang berjumlah banyak sekali yang muncul berasal dari Bukit Barisan. Musim kemarau pun tak membuat sungai menjadi mengering.

Rumput tetangga memang sepertinya lebih hijau. Ketika melihat foto-foto indahnya taman yang penuh bunga sakura di Jepang, seakan-akan suasana begitu menyenangkan. Ternyata bunga itu harus dinikmati dengan cuaca yang dingin, dan banyaknya spora berterbangan yang membuat alergi. Ketika cuaca menghangat, ternyata hangatnya negeri Jepang tidaklah senyaman hangatnya mentari pagi kita. Di musim panas kita tak akan bisa nyaman berteduh di bawah pohon, karena angin/udaranya yang panas, serasa kita berada di belakang kipasnya mesin AC. Tak nyaman. Apalagi ketika salju turun, cukup sehari saja yang membuat kita excited. Setelah itu kita akan merasakan susahnya beraktiftas.

Bersyukurlah…
Ketika kita masih bisa tiap hari membuka jendela di pagi hari, menghirup udara segar yang berhembus menenangkan hati dan pikiran.

Bersyukurlah…
Ketika hujan masih segar layaknya mandi dibawah curahan shower.

Bersyukurlah…

Karena yang saya takutkan adalah wanti-wanti dari Allah:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Bersyukurlah… Karena tak akan sedikit pun sulit bagi Allah untuk mengazab negeri ini.
Cukup dengan hanya memfokuskan curah hujan di suatu titik lokasi saja di hulu Bukit Barisan, ini sudah cukup untuk mendatangkan banjir bandang alias galodo.
Cukup dengan hanya melepaskan ikatan yang menahan sesar Mentawai, gempa 9 skala richter plus tsunami pun diprediksi oleh para ahli.
Cukup dengan hanya menghidupkan salah satu dari 3 gunung api aktif yang berada di sekitar daerah ini (Marapi, Tandikek, Talang), hujan api dan kembang api bencana pun akan semarak di daerah ini.

Bersyukurlah…
Dan janganlah merusaknya…

#SelfReminder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: