Penyiksaan Telaga Dewi di Tahun Baru

Tahun baru menjadi ajang suka cita bagi kebanyakan orang, dirayakan dengan segala macam kegiatan seperti tiup terompet, acara kesenian, bakar-bakaran dan lain-lain. Bagi pecinta alam, kegiatan pendakian gunung menjadi pilihan menarik. Kalau untuk daerah Sumatera Barat, gunung Marapi sepertinya menjadi pilihan utama, karena daerah puncaknya memiliki hamparan cadas yang luas dan pemandangan yang indah. Pilihan berikutnya adalah gunung Singgalang dengan pemandangan Telaga Dewi menjadi tempat yang menggiurkan bagi sebagian orang.

Namun ajang tahun baru ini menjadi ajang penyiksaan bagi Telaga Dewi. Berbagai perusakan pun terjadi dengan mengambil alasan tahun baru. Penyiksaan itu diantaranya adalah:

  1. Kayu-kayu ditebang
    Sedang mengayunkan kapak untuk menebang satu dahan pohon

    Sedang mengayunkan kapak untuk menebang satu dahan pohon

    Untuk acara malamnya, sebagai penghangat dihidupkanlah api unggun. Api unggun tentunya membutuhkan kayu. Celakanya kayu yang dipotong adalah kayu yang masih hidup. Memang kayu di Telaga Dewi itu walaupun masih hidup, apinya bagus untuk api unggun. Daun dari pohon berdaun kerdil yang ada di sekitar telaga tersebut sepertinya memiliki kandungan minyak. Walaupun daun yang masih hidup, api menyala dengan baik. Nah, kayu bakar ini didapatkan dengan cara ditebang hidup-hidup. Coba bayangkan kayu-kayu sebesar paha dan lengan ditebang begitu saja. Kalau kayu yang berukuran besar, cabangnya lah  yang ditebang. Tahukah anda berapa lamanya agar pohon tersebut bisa  tumbuh seukuran tersebut. Saya tidak tahu pasti, tetapi dengan patokan umur pohon biasa, pohon tersebut kira-kira lebih tua dari si penebang, para pemuda bangsa tersebut.

    Pohon yang ditebang di Telaga dewi

    Pohon yang ditebang di Telaga dewi

    Suatu hal yang penting diketahui, Telaga Dewi adalah telaga yang terbentuk dari bekas kawah gunung api. Keberadaan telaga ini ibarat seperti bak air pada gunung Singgalang. Gunung yang berketinggian 2877mdpl ini, dengan mata airnya merupakan sumber air utama bagi masyarakat disekeliling gunung ini. Dan pohon-pohon yang berada di sekeliling telaga itulah salah satu penyokong utama keberadaan sumber air ini.

  2. Buat api unggun di pangkal pohon hidup
    Api unggun di pangkal pohon

    Api unggun di pangkal pohon

    Ini yang kedua. Tidak cukup dengan menebang, bagian pangkal dari pohon yang diameter 60cm ke atas menjadi sasaran sebagai tempat api unggun. Dan pohonnya pun disiksa dalam keadaan masih hidup. Pangkal pohon besar ini menyediakan tumpuan bagi penyusunan kayu bakar dan membuat api agar mudah hidup dan tahan lama (…katanya).

  3. Sampah berserakan
    Pasca acara terjadilah penyiksaan berikutnya. Setelah barang-barang dikemas, lalu merekapun pulang. Tapi ternyata ada yang ketinggalan, yaitu sampah!.

Hal yang paling ironis adalah. Para rombongan tersebut dengan bangganya membawa bendera pecinta alam baik dari tingkat mahasiswa atau siswa, dari dalam propinsi Sumatera Barat maupun luar Sumatera Barat. (Dengan tujuan agar tidak menjelek-jelekan nama lembaga, maka nama atau fotonya dihindarkan ditampilkan di sini). Bisa dikatakan bahwa mereka seluruhnya memiliki hubungan dengan pecinta alam. Kalaupun pergi tidak membawa nama lembaga pecinta alam, mereka adalah anggota pecinta alam, atau seminimal-minimalnya ada satu orang yang anggota atau pernah menjadi pecinta alam yang dalam pendakian ini digunakan sebagai pemandu, guide, pembina atau pemimpin dari kelompok-kelompok ini. Lalu timbul pertanyaan, “benarkah mereka pecinta alam?” Lalu apa artinya slogan: “Jangan ambil apapun selain gambar, jangan tinggalkan apapun selain jejak”, dan slogan-slogan lainnya? Lalu jika hal ini adalah kita, bagaimanakah perilaku yang akan kita perbuat?

Mudah-mudahan ini bisa menjadi masukan dan pemikiran bagi kita semua, para pemuda bangsa.

6 Responses to Penyiksaan Telaga Dewi di Tahun Baru

  1. Santi mengatakan:

    Benar Ad, kondisi spt itu sudah berlangsung lama. Kayaknya disana ga ada rambu2 bagi pengunjung agar bisa lebih menjaga etika terhadap lingkungan. Ja Perlu diberi palang rambu2 yang cukup besar ukurannya yang harus dipatuhi oleh pengunjung baik di lokasi maupun di kedua pintu masuk (Pandai Sikek dan di Jorong Pak Sati…hehe lupa nama Jorongnya)

  2. nilam komala sari mengatakan:

    artikelnya bagus pak,,,,ini bisa jdi intropeksi bgi para pecinta alam ,termasuk saya sendiri yg memang sudah berkecimpung di dunia ke pecinta alaman,,,(mapala pagaruyung stain batusangkar)…
    tp smua hal di atas tidak kseluruhan mapala melakukan hal itu…mngkin ini mahasiswa pecinta alam yang tdak bertanggung jawab,,,hnya luarny saja sbgai pecinta alam tp dalamny gag sma skali…
    knapa sya brani mngtakan hal it,sebab..,,slama saya dan anggota mapala pagaruyung laen yg pergi ksna,,,kami tidak prnah menebang kayu yg masih hdup..kami hnya mengambil kayu yg sdah bnyak mati ato patah yang ada di skitar sna…api unggun pun kami buat di tengah,,,dan sebelum kami berangkat dari sana,terlebih dhulu kami ngumpulin smpah yg ada di sna dan membakarnya….
    itupun kmi lakukan tiap kmi pergi mndaki gunung,,,dan kami pun brusaha untuk bisa memahami motto kami sndiri,,,
    tpi terima kasih bnyak pak…soalny masalah ini bisa di bahas dalam lingkar mahasiswa pecinta alam…
    LESTARiiiii!!!!!

    • Aadrean mengatakan:

      Ya betul Nilam, tidak semua mapala yang berbuat rusak tersebut, mereka hanya oknum.
      Akan sangat bagus sekali jika hal ini bisa dibahas dalam lingkar mahasiswa pecinta alam.
      Terima kasih banyak.
      Salam Lestari…
      Salam Konservasi…

    • lasek mengatakan:

      Jangan memberikan pembelaan,tp cukup introspeksi aja,trus klo liat kejadian yg kaya gitu cukup tegur mereka,klo nga mau denger jitakin aja.

    • lasek mengatakan:

      Jangan berikan pembelaan dan bersikap kita paling bener,tp cukup introspeksi diri aja.

  3. Green Borne mengatakan:

    Wew…………. ^^ apa neh… So Hard>> Very Hard

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: