Al Ma’idah 41

Al Maidah 51 merupakan ayat yang paling populer sejak tahun 2016 lalu. Dengan ayat ini banyak hal besar yang terjadi di Indonesia. Berbagai polemik sosial, politik, hingga yang terbaru masalah penerapan hukum. Pagi ini saya menemukan ada yang menarik di ayat 41, sepuluh ayat sebelumnya. Pada tafsir Al Qur’an per kata yang disusun oleh Dr. Ahmad Hatta, MA (ini bukan proklamator Muhammad Hatta ya. Apakah ada hubungannya dengan beliau, saya pun belum tahu 🙂 ), ada asbabun nuzul untuk ayat 41 ini. Berikut saya salin asbabun nuzulnya.

Al Barra’ ra. Menjelaskan bahwa suatu hari, Rasulullah saw. berpapasan dengan orang-orang Yahudi. Mereka membawa seseorang dari kalangan mereka yang dihukum jemur dan cambuk. Beliau pun bertanya kepada mereka. “Apakah seperti ini hukuman bagi pezina di dalam kitab kalian?” “Ya,” jawab mereka. Lalu Rasul saw. memanggil seorang pendeta mereka dan bertanya, “Demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa. Apakah benar seperti ini hukuman bagi pezina di dalam kitab kalian?” Pendeta Yahudi itu menjawab, “Sesungguhnya tidak seperti itu. Jika tadi kau tak bersumpah terlebih dahulu, aku takkan menjelaskan yang sebenarnya. Di dalam Kitab kami, hukuman zina adalah rajam. Namun, karena banyak dari kalangan pembesar melakukannya, kami pun membiarkannya. Jika pelakunya adalah dari kalangan rakyat, kami menerapkan hukuman itu atasnya. Karena itu berdasarkan hasil musyawarah, kami menerapkan atas kalangan pembesar dan rakyat, hukuman jemur dan cambuk.” Rasul saw. pun bersabda “Ya Allah, aku adalah orang pertama yang menghidupkan kembali perintah-Mu setelah dihapus mereka”. Rasul saw. lalu menetapkan hukuman rajam bagi pezina. Kemudian, Rasul saw. pun melakukan perajaman atas Yahudi yang berzina itu. Maka turunlah ayat ini. (HR. Ahmad dan Muslim).

Ternyata kasus ketimpangan hukum dan merubah-rubah hukum seenaknya sudah ada sejak zaman dahulu.
Bagaimana kalau kita dihadapkan dengan kondisi hukum seperti itu, apa yang harus kita lakukan?
Menurut saya yang hanya sebagai orang awam, pada ayat 41 itu sudah ada jawabannya. Ayat 41 itu dibuka dengan menyuruh Rasul saw. jangan bersedih hati karena melihat orang-orang munafik itu berlomba-lomba pada kekafiran. Jadi kita pun jangan bersedih, tetaplah teguh dalam memegang prinsip kita. Terus sampaikanlah yang benar. Kalaupun kita merasakan ketidakadilan hukum merajalela, sabar saja. Karena ayat 41 ini ditutup dengan janji Allah, “Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang besar”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: