Catatan seorang pengawas

Ha ha ha… Hari gini masih percaya jimat?!
Setumpuk jimat berhasil saya kumpulkan. Tak puas di lokal yang saya awasi, ekspansi ke lokal sebelah ternyata mendapatkan hasil berlimpah. He he…🙂
Dari pengalaman beberapa kali mengawas ujian, ada beberapa hal ilmu yang telah saya dapatkan:
– Jujur itu ternyata masih langka
– Gerak-gerik orang yang sedang dan berniat nyontek, itu bisa diketahui. Kalau kita serius mengawasi, maka akan terlihat dengan jelas.

Beberapa modus ketidak jujuran di ujian adalah:
LIRIK
– tengok punya teman sebelah tanpa diketahui oleh yang punya
– tengok punya teman sebelah diketahui dan difasilitasi oleh si teman itu, misalnya dengan mengarahkan kertas jawabannya, memiringkan kertas dll
Untuk urusan lirik melirik ini, ternyata penggunaan kacamata dapat menyamarkan gerakan mata, dan menyulitkan pengawas mendeteksinya

TUKAR
– tukar kertas jawaban sementara waktu
– tukar kertas soal. Di kertas soal itu sudah ditulis jawabannya
– tukar kertas buram. Ini modus yang paling umum digunakan dalam ujian matematika dan sejenis

DISKUSI
– diksusi ini dilakukan oleh peserta ujian yang berada di posisi yang jauh aman tak terdengar oleh dosen pengawas

JIMAT
– dengan cara meminjam catatan temannya yang lengkap dan bersih, lalu difotokopi menjadi sangat kecil

Semua modus di atas bisa saya atasi dengan mudah, kalau serius mengawasinya.

Ada satu modus yang kalau seandainya digunakan oleh mahasiswa, tak bisa saya deteksi atau atasi yaitu modus penggunaan hp untuk merekam catatan yang dibacakan. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan headset yang disembunyikan di balik jilbab. Kalau ini perlu saya cari teknik pendeteksiannya. Ada yang sudah pernah melakukannya? Bagaimana cara mendeteksinya? Ada kah modus lain yang belum saya ketahui🙂

Lalu timbul pertanyaan: Akankah saya bisa menjadi salah satu pengawas yang ditakuti oleh mahasiswa? yang membuat mereka meratapi dan merasa dunia akan kiamat ketika nama saya tertulis sebagai salah satu pengawasnya?

Ada dua kemungkinan jawaban: Yang pertama, Ya mereka akan ketakutan. Yaitu ketika kejujuran merupakan barang langka di negeri Indonesia tercinta ini. Yang kedua, tidak akan ketakutan. Yaitu ketika kejujuran sudah menjadi budaya oleh para pemuda harapan bangsa, yang di tangan merekalah negara ini akan maju “cigin!”. Saya berharap dan berdoa yang terjadi adalah kemungkinan yang kedua.

Kenapa saya berusaha ketat mengawas?
Mungkin bisa terjawab dengan sebuah kisah berikut ini:

Pada saat sidang di akhirat, seorang pendidik diadili ditimbang pahala dan dosanya.
“OK, anda telah memberikan ilmu anda dengan ikhlas, tidak melakukan korupsi waktu, anda taat beribadah. Anda silahkan masuk ke surga…” kata malaikat.
Dengan senyum terkembang pak guru itu berjalan bahagia menuju pintu surga.

Tiba-tiba segerombolan orang yang berjumlah ratusan dan mungkin ribuan, datang berbondong-bondong berlari menyusul si guru itu.
“Tunggu pak!, Sebelum anda masuk ke surga anda harus bertanggung jawab terhadap kami” teriak kumpulan masa yang berdemontrasi itu.

“Kenapa? Apa yang harus saya tanggung jawabkan?. Oh kalian semua murid saya ya. Tanggung jawab apa? Bukankah kalian semua di dunia telah sukses menjadi orang kaya dan terkenal, dan itu berkat ilmu yang telah saya ajarkan?”

“Benar pak, kami telah kaya dan sukses. Tapi kami kaya dan sukses karena kami berlaku curang dan tidak jujur pak. Sehingga kami dituntut di akhirat perkara kecurangan dan ketidakjujuran kami. Maka bapak sebagai guru harus bertanggung jawab!”

“Kalau kalian tidak jujur itu adalah dosa kalian sendiri, kenapa saya harus bertanggung jawab? Saya tak pernah mengajarkan ketidakjujuran”

“Benar pak. Bapak memang tidak pernah mengajarkan ketidakjujuran kepada kami. Namun bapak membiarkan kami mencontek dan berbuat curang ketika ujian dulu. Bapak tahu kami melakukan semua itu, tapi bapak membiarkan kami. Asalkan tidak ribut, kami bebas saja melakukannya. Bapak harus tahu, bahwa gara-gara kami tidakjujur dengan ujian, nilai kami tinggi sehingga kami dapat sekolah dan pekerjaan yang tinggi. Namun semua itu tidak berkah. Memang kami menjadi kaya, namun pribadi kami semakin miskin, kami semakin terbiasa melakukan kecurangan. Berbagai macam trik dan tips telah mahir kami pelajari. Semua kami gunakan dalam kehidupan kami masing-masing di atas dunia”
“Oleh karena itu bapak harus bertanggung jawab. Ayo ikut kembali ke persidangan bersama kami!”

Lalu kerumunan masa menarik paksa Guru itu.
“Tidaaaa……..kkkkkkkkkkk!”

#######

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: