Problema Lahan Pertanian di Jepang

Jepang dan Indonesia memiliki kesamaan dalam hal makanan pokok. Kita sama-sama makan nasi. Jepang itu adalah negara yang padat. Dengan total luas yang lebih kecil dari pulau Sumatra, namun penduduknya setengah Indonesia. Dengan musim tanam yang hanya satu kali setahun, hebatnya negara ini tidak mengimpor beras, mereka swasembada beras. Kok bisa? Di sinilah hebatnya mereka. Namun hal itu bukanlah tanpa masalah. Berikut akan saya coba ceritakan rangkuman sejarah dan permasalahan lahan pertanian di Jepang. Dengan rujukan utamanya adalah buku yang sensei saya sebagai editornya (Usio & Miyashita, 2014).
Pasca perang dunia kedua, masyarakat Jepang banyak yang kelaparan. Untuk mengatasi hal itu pemerintahnya mengeluarkan kebijakan bahwa kepemilikan lahan pertanian yang sebelumnya dikuasai oleh tuan tanah, diserahkan kepada petani penggarap. Setelah tahun 60-an, ekonomi jepang mulai membaik, industri mulai berkembang. Mulailah terjadi kesenjangan antara industri dan pertanian. Produksi pertanian menurun, harga tanah terus meningkat karena permintaan untuk dibangun jadi kawasan industri. Sedangkan peraturan bahwa petani harus memiliki lahan yang digarapnya, menghambat perkembangan pertanian. Berbagai usaha dilakukan seperti membeli dan menggabungkan lahan pertanian menjadi skala yang lebih besar, namun petani tak mau melepas karena merasa harga akan terus meningkat. Setelah tahun 1970 mulai dikeluarkan peraturan baru bahwa petani boleh menyewa dan menggadaikan lahan pertanian.
Namun problem kesenjangan antara pertanian dan industri terus berlanjut. Yang muda-muda berangkat ke kota. Ditambah dengan berkurangnya jumlah kelahiran, membuat semakin banyak penduduk tua yang tinggal di pedesaan. Sehingga semakin banyak sawah-sawah menjadi terlantar. Saat ini jumlah sawah yang ditelantarkan seluas 396 ribu hektar, yaitu sama luasnya dengan prefektur Shiga atau prefektur Saitama.
Untuk mengatasi hal ini pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan subsidi. Untuk daerah perbukitan mendapatkan subsidi khusus. Sawah dengan kemiringan 1/20 atau lebih mendapatkan 21.000 Yen per 10 are (1 are = 100m2). Petani dengan sawah kemiringan dari 1/100 sampai 1/20 mendapatkan 8.000 Yen per 10 are. Tidak hanya diperbukitan, di daerah datar juga diberikan subsidi untuk merawat lahan pertanian dan sumber air. Jumlahnya tidak sebanyak yang di daerah perbukitan.
Pada tahun 2014, kementerian pertanian, perikanan dan kehutanan Jepang (dalam bahasa Inggris disingkat menjadi MAFF) mengeluarkan kebijakan subsidi lagi. Kebijakan subsidi ini diberi nama kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia sederhana mungkin disebut sebagai sistem bantuan langsung ala Jepang. Kenapa harus ditekankan bahwa ada “ala Jepang”nya? Karena untuk membedakan bantuan ala Jepang dengan ala Eropa. Kalau ala Eropa, bertujuan untuk menambah pendapatan petani, kalau ala Jepang ini lebih fokus ke restorasi lahan dan penguatan fungsi masyarakat di pedesaan. Bantuan ini berupa seperti mempertahankan budaya desa (Furusato, misalnya) sehingga menjadi tempat menarik untuk pariwisata. Bantuan juga bisa ditujukan untuk membuat memperbanyak sawah dan membuatnya menjadi semakin ramah lingkungan, dengan menggunakan berbagai metoda yang ada dll.
Walaupun sistem ini cukup sukses untuk mempertahankan produksi pertanian, namun para peneliti Jepang masih pesimis. Masalah terberatnya adalah semakin banyaknya penduduk tua, menjadi penghalang semuanya. Dalam bahasa sederhana, orang Jepang harus punya banyak anak kalau mau membantu negaranya. 🙂

Buku sensei saya:
Usio N, Miyashita T (2014) Social-ecological restoration in paddy-dominated landscape. Springer, Japan.
Tapi, cerita di atas lebih banyak bersumber dari bab pertama nya saja. Yang ditulis oleh Hashiguchi T., yang berjudul “Japan’s Agricultural Policies After World War II: Agricultural Land Use Policies and Problems”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: