Bicara untuk Pilkada

Saya mau bicara lewat aksara untuk pilkada, walaupun sebenarnya ini konteks umum tentang pemimpin. Pilkada adalah tema yang paling hangat saat ini. Sebuah titik loncatan sejarah bagi sebagian besar daerah di Indonesia.

Manusia itu diberikan Allah sebuah kemampuan yang makhluk hidup lain tidak ada yang bisa menyainginya. Salah satunya adalah kemampuan berbicara, berkomunikasi. Kita tak akan bisa menilai seseorang dari niat yang ada di dalam hatinya, karena ini hanya Allah yang punya kemampuan. Yang bisa kita tahu adalah apa yang telah dilakukan yang kita lihat, dan apa yang ia bicarakan. Pemimpin manusia bukanlah hanya yang kuat dalam mengatur dan mengendalikan, tapi juga bagaimana cara ia memimpin. Salah satunya adalah dengan kemampuannya berbicara.

1. Bicara dengan cerdas

Dalam ilmu biologi, pembeda manusia dengan hewan salah satunya adalah kemampuan bicara ini. Bagi hewan, mereka tak bisa menyampaikan pesan yang sama tapi dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan siapa penerima pesannya. Bagi mereka, marah itu hanya satu bentuk, contoh: Hanya berupa hardikan dan seringai saja. Bagi manusia, marah itu bisa dikemas dalam berbagai bentuk ucapan, yang bisa disesuaikan dengan siapa objek yang dimarahi. Karena yang terpenting itu adalah pesan tersampaikan dengan baik. Ini butuh kecerdasan yang tinggi, karena psikologis atau perasaan manusia yang sangat unik dan rumit.

2. Bicara untuk dipegang

Ada ungkapan yang sangat melekat di hati dan perbuatan orang Minang “Kabau dipacik talinyo, Urang dipacik katonyo”. Kalau terjemahan lurusnya dalam bahasa Indonesia “Kerbau dipegang talinya, Orang dipegang kata-nya”. Bagi orang minang, ungkapan singkat ini sangatlah tajam. Seakan mau menyampaikan kalau seseorang tidak bisa dipegang ucapannya, apakah harus kita pegang talinya? Sedangkan yang dipegang talinya itu apa?

3. Bicara bukan untuk mengolok sang pemberi kemampuan bicara

Sangat aneh, kalau ada pemimpin yang pembicaraannya menghina atau mengolok-olok pembicaraan sang pemberi bicara. Manusia itu adalah makhluk yang serba punya kesalahan. Tapi, kalau dengan kesalahannya itu ia bangga, lalu malah mengolok-olok aturan yang diberikan oleh Tuhannya. Dengan aturan Tuhan saja ia tak bisa terkendali, apakah bisa ia mengendalikan hawa nafsunya untuk kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya? walaupun ia mengklaim bisa membangun kemegahan negeri. Contoh terdahsyat yang pernah ada dalam sejarah adalah Fir’aun. Bukan hanya sekedar mengolok Tuhan, tapi malah mengklaim dirinya jadi Tuhan. Sosok ini berhasil membangun gedung pencakar langit yang megah. Raja ini berhasil memajukan kesejahteraan kaumnya. Ya, kaumnya saja, sedangkan kaum lain (bani Israil) itu ditindas, bahkan sampai bayi tak berdosa pun dibunuhinya. Lihat! kemegahan yang semu, menghantarkan kebinasaan di dunia dan di akhirat.

Sila pertama dasar negara kita adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Mari buktikan bahwa kita itu hamba tuhan yang baik. Dengarkan perkataan-Nya. Taati perintah-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: