Ketika Buah Semakin Manis

Sepanjang umur saya, saya mulai merasakan bahwa sepertinya buah semakin manis. Dulu rasanya tomat itu asam, sekarang tomat itu manis bisa dimakan langsung. Dulu pepaya yang tumbuh di halaman jadi cemilan sore kami itu berwarna kuning cerah, lunak ketika masak dengan rasanya cukup manis tapi ada nuansa kelat dikit di ujung-ujungnya. Tapi entah kemana pepaya kuning itu sekarang?. Berganti sudah dengan pepaya penang. Dulu semangka itu pun tak semanis sekarang. Dulu yang diharap ketika makan semangka itu adalah airnya, manis itu adalah bonus. Buah-buahan pun sudah banyak berembel-embel nama “madu” menandakan luar biasa manisnya jika dibandingkan yang biasa. Dulu makan mangga itu sejenis ampalam, kuini atau pauah, atau malah ambacang yang asam-asam sedap. Tapi sekarang susah juga menemukannya. Berganti dengan mangga golek harum manis dlsb.

Timbul pertanyaan, apakah ada korelasi manisnya buah itu dengan manisnya kehidupan? Apakah kehidupan sekarang juga semakin manis? Atau jangan-jangan kebalikan. Ketika kita hanya mengenal dan menikmati yang manis-manis saja, sedikit saja asam dinamika hidup, mungkin membuat kita merasa sudah sangat menderita. Dinamika lidah mungkin berhubungan dengan dinamika kita menikmati hidup. Apakah kita bisa dianggap bersyukur, jika lidah hanya diperkenalkan dengan yang manis saja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: