Gotong royong ala kekinian

Gotong royong adalah budaya luhur Indonesia. Ternyata budaya ini sekarang sedang pesat digunakan oleh dunia internasional, yang cakupannya tidak hanya kelas kampung atau RW saja. Sekarang mainnya kelas dunia. Dengan keterbatasan pertemuan fisik, dunia maya lah jadi tempatnya.

Sebut saja Wikipedia. Semua orang berhak dan boleh bergotong royong menyumbangkan kata demi kata demi membangun sebuah ensiklopedi yang mantap di dunia. Sekarang artikel Wikipedia sudah bisa menjadi rujukan yang paling mantap dan cepat, tak ada rasanya ensiklopedia lain yang bisa mengalahkannya.

Linux dan Android. Semua orang boleh bergotong royong dalam membangun sebuah perangkat lunak dan sistem operasi. Saking cepatnya perkembangan Linux dan Android, sampai-sampai Windows pun ikut jadi sponsor karena takut ketinggalan. Termasuk juga berbagai perangkat lunak sumber terbuka (Opensource software) yang semakin pesat dan diakui orang. Sebagai contoh, saya menggunakan QGIS dan R dalam analisa data penelitian. Kedua perangkat lunak ini semakin mumpuni diakui di bidang ekologi. Tak ada bedanya dengan software berbayar lainnya.

Google pun tak mau kalah. Sadar atau tidak, Google mengumpulkan kekuatan seluruh pengguna internet di dunia, dengan cara membangun sebuah sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligent). Sistem ini mengumpulkan dan mempelajari semua apa saja yang kita kerjakan di internet, mencari pola dan hubungan sesuatu dengan yang lainnya. Sehingga muncul lah mesin pencari Google yang tak hanya sekedar bantu mencari, tapi juga mampu memprediksi.

Di bidang pendanaan, sekarang muncul istilah urun dana (crowdfunding), ramai-ramai membantu menyumbangkan sen demi sen dari penjuru dunia. Contoh suksesnya, melalui Kitabisa dot com terkumpul dana lebih dari 3 milyar untuk membangun sebuah masjid di Chiba Jepang.

Di bidang penelitian, muncul istilah sains khalayak (citizen science). Semua orang boleh memberikan data yang mereka punya, sehingga mempermudah tim peneliti, tidak harus menghabiskan dana hanya untuk biaya alat, perjalanan, akomodasi, makanan dan honor tim survei, yang semua itu hanya untuk mengumpulkan data sampai ke ujung-ujung negri. Sebagai contoh, penelitian pemantauan burung migran. Siapa saja yang melihat burung bisa memberikan datanya, walaupun anak kampung yang baru belajar memotret pakai ponsel cerdas nya.

Dan mungkin berbagai bentuk aplikasi lainnya, yang disebut dengan istilah urun daya (crowdsourcing).

Semua contoh di atas merupakan contoh gotong royong yang melibatkan dunia maya (daring), lalu bagaimana dengan dunia nyata?

Contoh terbaru dan terdahsyat yang menggabungkan dunia nyata dan dunia maya adalah Aksi Bela Islam. Semua bergotong royong untuk mewujudkan satu tujuan. Di dunia maya ada tim media (cyber team). Kalau di dunia nyata silahkan saja lihat liputan dokumentasi aksi kemarin. Orang bergotong royong untuk hadir, memberikan konsumsi, meliput, memberikan semangat, ada tim drone, ada semut Ibrahim dll, serta yang terlemah pun ada tim pengaminkan. Luar biasa!

Gotong royong itu sebuah metoda mengumpulkan energi potensial yang luar biasa. Tinggal bagaimana cara mengelolanya. Pinjam istilah Aa Gym, “mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini juga”.

Jum’at barokah. Allahuakbar!!

Iklan

Satu respons untuk “Gotong royong ala kekinian

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: