Berang-berang bukanlah “si pembuat bendungan”

Mungkin banyak dari kita sangat mengenal berang-berang sebagai “si Pembuat Bendungan”. Informasi ini didapatkan dari berbagai sumber, baik cerita, film kartun, film dokumenter, film dan artikel Harun Yahya dan dari sumber lainnya. Informasi ini menyesatkan, karena berang-berang tidak memiliki kebiasaan membuat bendungan. Hewan cerdik yang mampu membuat bendungan dari tumpukan batang kayu tersebut adalah “beaver”. Apa bahasa Indonesianya? “Ya, tidak ada!”. Karena beaver ini hanya terdapat di Amerika bagian Utara. Sedangkan yang disebut berang-berang dalam bahasa Inggrisnya adalah “otter”. Inilah yang ada di Indonesia. Berikut akan dijelaskan sedikit tentang berang-berang (otter) yang sebenarnya.

ottervsbeaver

Gambar 1. kiri: berang-berang Eurasia (Lutra lutra); kanan: beaver (Castor canadensis); insert kanan atas: foto gigi beaver yang mencirikan bangsa pengerat (ordo Rodentia).

otter holt and beaver dam

Gambar 2. kiri: sarang berang-berang di lubang-lubang batu di tepi sungai; kanan: bendungan beaver yang dibuat dari batang kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk bendungan yang kokoh.

Berang-berang merupakan hewan yang tergolong ke dalam bangsa hewan pemakan daging (ordo Carnivora), famili Mustelidae, subfamili Lutrinae. Berang-berang ada 13 jenis tersebar di seluruh dunia kecuali Australia. Di Indonesia ada empat jenis berang-berang yaitu Aonyx cinereus, Lutra lutra, L. sumatrana dan Lutrogale perspicillata. Dua dari empat jenis tersebut, L. lutra dan L. sumatrana termasuk ke dalam hewan yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah no 7 tahun 1999. Sedangkan beaver merupakan bangsa pengerat (Ordo Rodentia) (Gambar 1), termasuk famili Castoridae yang terdiri dari dua jenis Castor canadensis dan C. fiber. Keduanya hanya terdapat di Amerika bagian Utara.

Berang-berang dapat ditemukan pada berbagai tipe habitat lahan basah, habitat air tawar, payau dan air laut, sungai dataran rendah dan tinggi, danau, rawa, persawahan dan pesisir pantai. Keberadaannya lebih dipengaruhi oleh tersedianya makanan yang cukup, air tawar dan vegetasi di sekitarnya untuk beristirahat, membersihkan badan dan menelisik (grooming) dan membuat sarang. Dari segi makanannya, berang-berang termasuk ke dalam kelompok piscivora, artinya hewan yang makanan dominannya adalah ikan. Selain ikan, mereka juga suka kepiting, katak, ular, serangga, dan beberapa mamalia kecil dan burung.

Berbeda dengan beaver yang membuat sarang dan bendungannya sendiri, berang-berang menempati sarang pada lubang-lubang batu (Gambar 2), liang tanah, di antara akar-akar kayu dan tempat yang sesuai lainnya yang telah terbentuk dengan alaminya. Namun, sarang ini hanya ditempati secara menetap ketika sedang memelihara anak, jika tidak mereka akan menggunakan sarang ini hanya sebagai tempat singgah sementara ketika berkeliling mencari makan mengitari wilayah kekuasaannya (home range). Hewan ini memiliki wilayah home range yang bisa mencapai panjang 18Km, bahkan untuk jantan Lutra lutra wilayah kekuasaannya bisa mencapai sungai sepanjang 38Km.

Karena kebiasaannya yang makan ikan, hewan yang biasa nokturnal ini dianggap sebagai musuh oleh petani budidaya ikan. Berang-berang biasanya akan terbunuh jika terjadi perjumpaan dengan manusia, namun di beberapa daerah menerapkan kearifan lokal dalam mengatasi serangan berang-berang ini. Selain itu, berang-berang juga terancam dalam hal perusakan habitat. Sekarang ini sangat sulit mencari sungai yang masih memiliki sumber ikan yang banyak, dan memiliki vegetasi yang masih baik di tepi sungainya. Beberapa bentuk kegiatan yang mengancam sungai secara umum adalah penambangan pasir, penambangan emas, pembukaan lahan di bagian hulu sungai, dan limbah yang dialirkan ke sungai baik limbah domestik (rumah tangga) maupun limbah industri. Tidak hanya sungai, rawa yang merupakan salah satu rumah bagi kenekaragaman hayati juga terancam. Pembukaan kebun sawit besar-besaran mengancam daerah rawa di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Sangat disayangkan sekali, hewan yang bisa disebut sebagai “harimaunya” lahan basah ini kurang mendapat perhatian, baik oleh peneliti maupun oleh pengambil kebijakan. Padahal fungsi ekologisnya yang sangat besar karena merupakan top carnivore dan berada di puncak piramida makanan di habitat lahan basah. Perubahan lingkungan akan sangat mempengaruhi hewan yang bisa dijadikan indikator lingkungan perairan yang masih sehat ini. Masih banyak fungsi ekologisnya yang belum diketahui dari jenis ini, banyak hal yang butuh penelitian lebih lanjut, misalnya apakah hewan ini memiliki peranan dalam menjaga agar populasi ikan tetap sehat, apakah berang-berang berfungsi sebagai pengontrol hama tikus dan keong mas di area persawahan. Semua itu butuh perhatian dan penelitian yang lebih untuk mengungkapkannya.

Info lebih lanjut tentang berang-berang ini dapat diakses di:

By: West Sumatra Otter Project

Didukung Oleh:

rufford small grants

Iklan

15 thoughts on “Berang-berang bukanlah “si pembuat bendungan”

Add yours

  1. saya ini orang Kalimantan, ya di Kalimantan Selatan masih banyak berang-berang yang hidup di sekitar manusia kasian mereka karena harus mencari makan di lingkungan perumahan manusia. Mungkin 10 tahun lagi berang-berang hanya tinggal foto – foto. Mari kita lestarikan hewan yang satu ini.

    1. Terima kasih atas komentarnya Budi, mohon bagi-bagi cerita tentang bagaimana berang-berang di Kalimantan. Kurang sekali informasi tentang hewan ini, ada nggak cerita, mitos atau informasi lainnya?. Terima kasih.

  2. wah..tulisan yang mencerahkan nih, makasih buat informasinya ya, jadi tahu tentang perbedaannya sekarang 🙂
    oya, tukeran link ya, link nya sudah aku pasang di blogku, ada di Friend List

  3. tpt sekali kt Budi d kalimantan selatan msh byk berang2. Saya jg tinggal di Kalsel dan hampir saban mlm d belakang rmh sy yg kebetulan aliran sungai kecil sering muncul sekelompok berang2, dan biasanya kelompok berang2 akan muncul nyari ikan sekitar jam 1 dini hari. binatang yg menakjubkan bagi saya. semoga mereka tdk akan punah….

  4. saya juga tinggal dikalsel
    dekat rumah saya ada berang2
    kadang waktu subuh saat org adzan.. berang2 itu muncul dan menyeberang kejalanan depan rumah saya
    saya ingin sekali memelihara berang2 tapi kalo saya tangkap takutnya di gigit 😀
    padahal ada banyak kadang sampai 6 berang2 atau lebih yg lewat

    1. Wahhh g usah d plhara aja. Mrka lbh sng kok hdup d alam. smoga kita bisa mmbntu mnjga kelestariannya.semoga mrka g punah.amin

  5. Terima kasih atas infonya. Tapi penulis di prolog seolah menuduh (salah satunya) Harun Yahya memberi info yang menyesatkan. Menurut saya info yang disampaikan oleh Harun Yahya tidaklah menyesatkan. Hanya sedikit kesalahan. Dan itu pun dari penerjemahnya. Bukan dari Harun Yahyanya. Coba saja lihat video atau bukunya, yang diperlihatkan ya gambar beaver ini. Jadi salah penerjemahnya yang mungkin kurang peka. Atau mungkin salah masyarakat kita yang sudah terlanjur menterjemahkan arti beaver dengan berang2. Tapi memangnya gak boleh ya 2 hewan memiliki nama yang sama?

    1. Karya Harun Yahya adalah salah satu yang saya sukai, banyak saya dapatkan ilmu dan inspirasi, dan memberikan pengaruh yang besar bagi saya dalam memandang sains dan agama.
      Iya benar, yang salah itu penerjemahnya. Selain berang-berang masih banyak lagi jenis hewan atau tumbuhan yang salah terjemahnya. Sebagai contoh sederhana, spinach yang dimakan oleh Popeye itu diterjemahkan sebagai bayam, padahal spinach itu bukan bayam. Bayam bahasa Inggrisnya adalah Amaranth. Mungkin penerjemah mencari terjemahan yang gampang untuk dipahami. Kalau secara umum, kesalahan penamaan mungkin jadi hal yang biasa. Tapi bisa sangat berbahaya. Contohnya, misalnya kita dapat info bahwa ada nama sebuah tumbuhan A yang dapat membunuh kanker, dan ternyata di daerah lain ada juga yang sama namanya, atau yang diterjemahkan ke nama yang salah, dan mungkin tumbuhan itu bukan menyembuhkan malah mematikan.
      Nama dibuat untuk bisa mengenali dan membedakan antara satu dengan yang lain. Kalau jenisnya berbeda jauh tapi namanya sama maka akibatnya akan banyak terjadi kesalahan-kesalahan. Kalau di manusia ibaratnya, yang melakukan kejahatan orang lain, yang ditangkap lain pula, walaupun namanya sama. he he…

  6. dibelakang rumah saya di wilayah sleman Yogjakarta ada sungai kecil yang mengalir, disitu banyak sekali berang berangnya /disini di sebut regul, lingsang [jateng]. Sayang sekali kali kecil ini setiap ada makluknya di dalam air buru buru di setrum oleh orang orang rakus yang ndak tau aturan ,apalagi musim kemarau air mulai mengecil, seakan tidak satu makhlukpun yang bisa hidup di air.
    Kalau sudah demikian maka saya yang menjadi penyumbang tetap buat makan pasukan berang berang itu, karena mereka menyerbu kolam-kolam saya yang ada di tepi sungai bahkan kadang berani naik dan menyerbu kolam yang di depan rumah. Mereka menyerang dini hari dan selalu berombongan dengan suara yang sangat gaduh.
    Saya mencoba mengikhlaskan mereka menyantap sebagian ikan ikan saya .tapi yang sering membuat saya dongkol kelakuan’boros’ mereka yang keterlaluan bahkan cenderung ‘mubazir’ (apa mereka marah ya .. sungai sungai di habisin ikanya).
    Bagai mana tidak mereka tidak sekedar makan kenyang dan pergi sering kalau tidak keburu saya usir nyaris semua ikan yang ada di kolam di tangkap dan di bunuh. Tidak dimakan hanya di kerat kerat di bunuh dan di sebar di daratan .
    Pernah sekali waktu saya membeli hampir 1 kuintal lele yang besarnya selengan orang dewasa belum sempat pinggiran kolam saya beri jaring sudah di serang ‘sahabat sahabat’ kita si regul ini. Pagi harinya saya menyaksikan pemandangan yang mengerikan seperti ladang pembantaian Nazi,lele lele sudah bertebaran dalam keadaan sekarat ,ada yang terpotong, ada yang kepalanya buntung , ekornya hilang atau isi perutnya terburai .
    Itulah cerita saya tentang berang-berang alias regul binatang yang saya anggap super cerdas karena sampai saat ini belum pernah saya berhasil menangkapnya [dasarnya saya juga tidak tega, dan tidak sungguh sungguh ingin menangkapnya, sebab mereka menjadi hama ulah manusia mamalia yang lebih cerdas dan rakus,menghabiskan segala makluk yang seharunya mereka lindungi].
    Tentang mustika regul …itu boong cerita isapan jempol belaka, barangkali aja ada regul kehabisan ikan di sungai kemudian untuk menahan rasa lapar nelen kerikil dan di berakin lagi yang oleh manusia doyan mistik dianggap batu akik nulis ini saya sambil ketawa ya hi hi hi..
    Berarti di Jogja di tempat tempat tertentu masih banyak berang berang dan dalam kondisi kelaparan,(mudah mudahan yang sering nyetrum ikan di sungai, terkena imbas kenaikan tarif listrik hingga kapok ndak nyetrum lagi , regulnya kembali lestari dan gemuk gemuk).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: