Konservasi berbasiskan spesies

Dalam usaha konservasi, berbagai pendekatan dilakukan untuk mencapai tujuan konservasi ini. Pendekatan yang umumnya dilakukan ada dua yaitu: konservasi berbasiskan kawasan dan konservasi berbasiskan spesies. Dalam pemilihan lokasi yang akan dikonservasi (konservasi berbasis kawasan) kawasan mana yang akan dikonservasi, pun biasanya juga berdasarkan pertimbangan jenis apa saja yang terdapat di ekosistem tersebut. Dalam pendekatan konservasi berbasiskan spesies, berbagai istilah digunakan oleh para konservasionist untuk menciptakan ikon dalam mempromosikan konservasi, yaitu umbrella species, flagship species dan keystone species.


Umbrella species

umumnya didefinisikan:

  • spesies yang memiliki penyebaran yang luas yang membutuhkan banyak spesies lain
  • spesies yang membutuhkan area yang luas sehingga perlindungan jenis ini juga melindungi hewan lain yang juga menempati daerah yang sama.

Deskripsi lain:

  • perlindungan umbrella species otomatis akan memperluas perlindungan ke jenis lain misalnya spotted-owl dan pohon tua.
  • umbrella species secara tradisional digunakan pada hewan yang badannya relatif lebih besar dan jenis hewan vertebrata tingkat tinggi yang penyebarannya luas

Flagship species

Adalah spesies yang dipilih sebagai duta besar, ikon atau simbol untuk mendefinisikan suatu habitat, isu, kampanye atau dampak lingkungan. Dengan memfokuskan dan mengusahakan konservasi jenis ini, status dari jenis lain yang menempati habitat yang sama atau rawan menjadi ancaman yang sama juga akan menjadi lebih baik. Flagship species biasanya relatif berukuran besar, dan kharismatik dalam budaya barat contohnya panda. Rafflesia, dan jenis lainnya yang biasa dijadikan simbol di dalam lambang dsb. Flagship species bisa merupakan keystone species, atau indicator species maupun tidak sama sekali.

Keystone species

keystone species memainkan peranan yang penting di dalam struktur, fungsi atau produktifitas dari habitat atau ekosistem (habitat, tanah, dan pemencar biji, dll). Jika hilangnya jenis ini akan mengakibatkan perubahan yang signifikan atau fungsi yang salah yang bisa berefek pada skala yang lebih besar. Contohnya termasuk peranana gajah dalam memelihara struktur habitat, dan kelelawar dan serangga di dalam polinasi. Dengan memfokuskan pada keystone species, aksi konservasi dari spesies ini membantu melindungi struktur dan fungsi habitat yang luas yang berhubungan dengan spesies ini selama siklus hidupnya

Definisi lain dari keystone species adalah jenis yang jika hilang keberadaannya pada ekosistem maka akan mengakibatkan perubahan yang hebat terhadap populasi jenis lain atau proses ekosistem; serta yang memiliki fungsi yang vital dalam komunitasnya.

Konservasi berbasiskan spesies tingkat internasional

Secara Internasional, lembaga yang bergerak dalam konservasi adalah IUCN dengan memiliki komisi Species Survival Commission yang bergerak khusus di konservasi berbasis spesies dengan berbagai program dan aksi konservasinya.

IUCN (International Union for Conservation of Nature)

IUCN (International Union for Conservation of Nature) adalah lembaga yang membantu dunia untuk menumukan solusi terhadap tekanan lingkungan dalam tantangan pembangunan. Lembaga ini mendukung penelitian ilmiah, mengelola proyek penelitian lapangan di seluruh dunia dan mengajak pemerinthan, LSM, agensi PBB, perusahan dan komunitas lokal bersama-sama mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan, hukum dan cara terbaik. IUCN adalah jaringan lingkungan global yang tertua dan terbesar-dengan keanggotaan lebih dari 1000 organisasi pemerintahan dan LSM dan hampir 11000 ilmuwan sukarelawan dari lebih dari 160 negara.

Visi IUCN yaitu dunia yang menghargai dan mengkonservasi alam, dengan misi mepengaruhi, mengajak dan membantu masyarakat di seluruh dunia untuk mengkonservasi kesatuan dan keanekaragaman alam dan memastikan penggunaan sumber daya yang setara dan keberlangsungan secara ekologis.

IUCN memiliki enam komisi dari berbagai disiplin ilmu. Enam komisi itu adalah

  1. Commission on Education and Communication (CEC)
  2. Commission on Environmental, Economic and Social Policy (CEESP)
  3. Commission on Environmental Law (CEL)
  4. Commission on Ecosystem Management (CEM)
  5. World Commission on Protected Areas (WCPA)
  6. Species Survival Commission (SSC)

SSC inilah komisi yang bergerak dalam konservasi berbasis spesies. SSC ini memberikan saran dalam aspek teknis dari konservasi spesies dan menggerakkan aksi untuk spesies tersebut.

Anggota SSC terdiri dari:

  • peneliti
  • pegawai pemerintah
  • dokter hewan
  • karyawan institusi/lembaga botani dan zoologi
  • ahli biologi laut
  • manejer kawasan konservasi
  • para ahli tumbuhan, burung, mammalia, ikan, amfibi, reptil dan invertebrata

Anggota SSC terbagi ke dalam lebih dari 100 Specialist Group dan Task Forces. Beberapa kelompok menangani isu konservasi yang berkaitan dengan tumbuhan atau hewan, sedangkan yang lain fokus pada isu-isu dengan topik seperti reintroduksi spesies kembali ke habitat atau masalah kesehatan satwa liar.

Daftar Specialist Group dan Task Force nya dapat dilihat di

http://www.iucn.org/about/work/programmes/species/about_ssc/specialist_groups/

Dalam Specialist Group ini akan berkumpul para ilmuwan di bidang taksanya atau bidangnya masing-masing. Para ilmuwan ini akan mengadakan pertemuan tahunan untuk workshop dan pertemuan ilmiah lainnya yang bertujuan untuk membahas status dan kondisi dari serta membahas apa rencara aksi konservasi (Action Plan) yang akan dilakukan. Action plan inilah yang akan digunakan diseluruh dunia sebagai patokan dalam rencana konservasi yang akan dilakukan. Contoh, IUCN Otter Specialist Group (spesialis berang-berang) telah membuat dokumen Otter Action Plan. Selain action plan, juga dibuatlah panduan-panduan lain seperti panduan pemeliharaan (minimum husbandry), panduan kesehatan, panduan rehabilitasi dll.

IUCN Red List

Salah satu bentuk program yang dibentuk oleh IUCN SSC adalah IUCN Red List. IUCN Redlist adalah sebuah pendekatan global dan mengevaluasi status konservasi dari jenis tumbuhan dan hewan. status ini sekarang digunakan dan berperan penting dalam bentuk aktifitas konservasi yang dilakukan oleh pemerintahan, LSM dan lembaga penelitian. Tujuan dari IUCN Red List ini adalah untuk mengidentifkasi dan mendokumentasikan spesies yang sangat butuh perhatian serta menyediakan indeks global dari bentuk perubahan keanekaragaman hayati.

Dalam penilaiannya terhadap kondisi dan status jenis hewan dan tumbuhan, Red List membuat dan mengelompokkan berdasarkan status keterancaman dan kondisinya. Kategori-kategorinya yaitu Extinct (EX), Extinct in the Wild (EW), Critically Endangered (CR), Endangered (EN), Vulnerable (VU), Near Threatened (NT) dan Least Concern (LC). Bagi jenis yang kekurangan informasi tentang kondisi populasinya, dikelompokkan ke dalam Data Deficient (DD), dan bagi jenis yang belum dianalisa dimasukkan ke dalam kategori Not Evaluated (NE).

redlist category

redlist category

Pada tahun ini, tahun 2010 ditetapkan sebagai tahun keanekaragaman hayati Internasional. Untuk meningkatkan kepedulian terhadap variasi dari keseluruhan kehidupan dunia serta menampilkan profil jenis yang terancam, maka IUCN Redlist meluncurkan program IUCN Red List ‘Species of the Day. Setiap hari pada tahun 2010 ini, akan ditampilkan jenis terancam yang berbeda. Daftar jenis yang terpilih dapat dilihat di http://www.iucnredlist.org/species-of-the-day.

Konservasi berbasis spesies di Indonesia

Dasar hukum konservasi di Indonesia adalah Undang-Undang no 5 th 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya. Pada tahun 1990 itu juga Indonesia membuat flora dan fauna maskot propinsi melalui SK Mendagri no 522.4/1458/SJ tanggal 2 Juni 1990 tentang flora dan fauna maskot propinsi. Terdapat 27 maskot untuk masing-masing propinsi. Contohnya maskot propinsi Sumatera Barat adalah andalas (Morus macroura) untuk flora dan burung kuau (Argusianus argus) untuk faunanya. Pada saat itu masing-masing daerah tingkat kabupaten dan kota juga dihimbau untuk menetapkan maskot flora dan faunanya.

Pembentukan flora dan fauna maskot bertujuan:

  • sebagai upaya pengenalan suatu daerah dipandang dari keunikan suatu jenis tumbuhan dan satwa asli/khas yang terdapat di daerah sehingga menggambarkan ciri khas daerah.
  • diharapkan dapat meningkatkan rasa ikut memiliki dan menanamkan kebanggaan terhadap suatu jenis tumbuhan dan satwa,
  • meningkatkan kesadaran masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam upaya melestarikan keberadaannya
  • serta sebagai sarana peningkatan promosi kepariwisataan daerah.

Pada tahun 1993, presiden Soeharto menerbitkan Keppres no 4 tahun 1993 tentang satwa dan bunga nasional. Tiga jenis satwa yang masing-masing mewakili satwa darat, air, dan udara, dinyatakan sebagai Satwa Nasional, dan selanjutnya dikukuhkan penyebutannya sebagai berikut :

  1. Komodo (Varanus komodoensis), sebagai satwa nasional;
  2. Ikan Siluk Merah (Sclerophages formosus), sebagai satwa pesona; dan
  3. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), sebagai satwa langka.

Tiga jenis bunga dinyatakan sebagai bunga Nasional, dan selanjutnya dikukuhkan penyebutannya sebagai berikut :

  1. Melati (Jasminum sambac), sebagai puspa bangsa;
  2. Anggrek bulan (Palaenopsis amabilis), sebagai puspa pesona; dan
  3. Padma Raksasa (Rafflesia arnoldi), sebagai puspa langka.

Pada tahun 1999, pemerintah membuat PP no 7 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa dan membuat daftar jenis-jenis hayati yang dilindungi. Peraturan ini dapat diunduh di situs resmi Departemen Kehutanan (atau dari halaman Unduhan di blog ini)

Pada tahun 2003, Indonesia membuat rencana jangka panjangnya dalam menghadapi persoalan keanekaragaman hayati yaitu dengan menyusun dokumen Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia / IBSAP (Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003-2020. Dengan telah tersusunnya dokumen ini, maka pada tahun 2007, Indonesia membuat Rencana Aksi (Action Plan) untuk beberapa hewan flagship species yang sering menjadi simbol dan acuan di dalam kegiatan konservasi di Indonesia. Hewan tersebut adalah orangutan, harimau, badak, gajah, elang jawa. Dokumen ini dipersiapkan sebagai arahan kegiatan konservasi yang berlaku sampai tahun 2017.

Bahan bacaan:

Anonim. 2010. Umbrella species. http://en.wikipedia.org/Umbrella_species. 13 Mei 2010

Anonim. 2010. Keystone species. http://en.wikipedia.org/Keystone_species. 13 Mei 2010

Anonim. 2010. Flagship species. http://www.worldwildlife.org/species/flagship-species.html 13 Mei 2010

Darwall, W. R. T., & Vie, J. C. 2005. Identifying important sites for conservation of freshwater biodiversity: extending the species-based approach. Fisheries Management and Ecology 12, 287–293

Roberge, J. & Angelstam. 2004. Usefulness of the Umbrella Species Concept as a Conservation Tool . Conservation Biology 18: 76–85

Website:

Tulisan ini merupakan tugas kuliah Manajemen Konservasi, Biologi Pascasarjana Universitas Andalas

About these ads

4 Responses to Konservasi berbasiskan spesies

  1. santi mengatakan:

    ni nti copy juga y ad…. ^_^

  2. agung mengatakan:

    Mantap aad…………….bisa jadi bahanbacaan and nambah wawasan,
    terima kasih

  3. Destinhy mengatakan:

    Info yang lengkap dan bagus. Sangat membantu dalam mengerjakan tugas. Terima kasih :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.279 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: