Catatan seorang pengawas

Ha ha ha… Hari gini masih percaya jimat?!
Setumpuk jimat berhasil saya kumpulkan. Tak puas di lokal yang saya awasi, ekspansi ke lokal sebelah ternyata mendapatkan hasil berlimpah. He he… :)
Dari pengalaman beberapa kali mengawas ujian, ada beberapa hal ilmu yang telah saya dapatkan:
- Jujur itu ternyata masih langka
- Gerak-gerik orang yang sedang dan berniat nyontek, itu bisa diketahui. Kalau kita serius mengawasi, maka akan terlihat dengan jelas.

Beberapa modus ketidak jujuran di ujian adalah:
LIRIK
- tengok punya teman sebelah tanpa diketahui oleh yang punya
- tengok punya teman sebelah diketahui dan difasilitasi oleh si teman itu, misalnya dengan mengarahkan kertas jawabannya, memiringkan kertas dll
Untuk urusan lirik melirik ini, ternyata penggunaan kacamata dapat menyamarkan gerakan mata, dan menyulitkan pengawas mendeteksinya

TUKAR
- tukar kertas jawaban sementara waktu
- tukar kertas soal. Di kertas soal itu sudah ditulis jawabannya
- tukar kertas buram. Ini modus yang paling umum digunakan dalam ujian matematika dan sejenis

DISKUSI
- diksusi ini dilakukan oleh peserta ujian yang berada di posisi yang jauh aman tak terdengar oleh dosen pengawas

JIMAT
- dengan cara meminjam catatan temannya yang lengkap dan bersih, lalu difotokopi menjadi sangat kecil

Semua modus di atas bisa saya atasi dengan mudah, kalau serius mengawasinya.

Ada satu modus yang kalau seandainya digunakan oleh mahasiswa, tak bisa saya deteksi atau atasi yaitu modus penggunaan hp untuk merekam catatan yang dibacakan. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan headset yang disembunyikan di balik jilbab. Kalau ini perlu saya cari teknik pendeteksiannya. Ada yang sudah pernah melakukannya? Bagaimana cara mendeteksinya? Ada kah modus lain yang belum saya ketahui :)

Lalu timbul pertanyaan: Akankah saya bisa menjadi salah satu pengawas yang ditakuti oleh mahasiswa? yang membuat mereka meratapi dan merasa dunia akan kiamat ketika nama saya tertulis sebagai salah satu pengawasnya?

Ada dua kemungkinan jawaban: Yang pertama, Ya mereka akan ketakutan. Yaitu ketika kejujuran merupakan barang langka di negeri Indonesia tercinta ini. Yang kedua, tidak akan ketakutan. Yaitu ketika kejujuran sudah menjadi budaya oleh para pemuda harapan bangsa, yang di tangan merekalah negara ini akan maju “cigin!”. Saya berharap dan berdoa yang terjadi adalah kemungkinan yang kedua.

Kenapa saya berusaha ketat mengawas?
Mungkin bisa terjawab dengan sebuah kisah berikut ini:

Pada saat sidang di akhirat, seorang pendidik diadili ditimbang pahala dan dosanya.
“OK, anda telah memberikan ilmu anda dengan ikhlas, tidak melakukan korupsi waktu, anda taat beribadah. Anda silahkan masuk ke surga…” kata malaikat.
Dengan senyum terkembang pak guru itu berjalan bahagia menuju pintu surga.

Tiba-tiba segerombolan orang yang berjumlah ratusan dan mungkin ribuan, datang berbondong-bondong berlari menyusul si guru itu.
“Tunggu pak!, Sebelum anda masuk ke surga anda harus bertanggung jawab terhadap kami” teriak kumpulan masa yang berdemontrasi itu.

“Kenapa? Apa yang harus saya tanggung jawabkan?. Oh kalian semua murid saya ya. Tanggung jawab apa? Bukankah kalian semua di dunia telah sukses menjadi orang kaya dan terkenal, dan itu berkat ilmu yang telah saya ajarkan?”

“Benar pak, kami telah kaya dan sukses. Tapi kami kaya dan sukses karena kami berlaku curang dan tidak jujur pak. Sehingga kami dituntut di akhirat perkara kecurangan dan ketidakjujuran kami. Maka bapak sebagai guru harus bertanggung jawab!”

“Kalau kalian tidak jujur itu adalah dosa kalian sendiri, kenapa saya harus bertanggung jawab? Saya tak pernah mengajarkan ketidakjujuran”

“Benar pak. Bapak memang tidak pernah mengajarkan ketidakjujuran kepada kami. Namun bapak membiarkan kami mencontek dan berbuat curang ketika ujian dulu. Bapak tahu kami melakukan semua itu, tapi bapak membiarkan kami. Asalkan tidak ribut, kami bebas saja melakukannya. Bapak harus tahu, bahwa gara-gara kami tidakjujur dengan ujian, nilai kami tinggi sehingga kami dapat sekolah dan pekerjaan yang tinggi. Namun semua itu tidak berkah. Memang kami menjadi kaya, namun pribadi kami semakin miskin, kami semakin terbiasa melakukan kecurangan. Berbagai macam trik dan tips telah mahir kami pelajari. Semua kami gunakan dalam kehidupan kami masing-masing di atas dunia”
“Oleh karena itu bapak harus bertanggung jawab. Ayo ikut kembali ke persidangan bersama kami!”

Lalu kerumunan masa menarik paksa Guru itu.
“Tidaaaa……..kkkkkkkkkkk!”

#######

:)

Kegiatan Baca Buku Cerita Berang-berang

Bercerita merupakan sebuah kegiatan yang menarik apalagi untuk anak-anak. Lewat cerita kita bisa menyampaikan pesan dengan mudah. Hal ini pula lah yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Andalas disebuah sekolah di Sumatera Barat.

Selasa 2 Juli 2013, mahasiswa berpakaian almamater hijau ini mengunjungi sebuah sekolah MTsN di kecamatan Panti, kabupaten Pasaman. Panti adalah sebuah desa yang bersebelahan dengan Cagar Alam Rimbo Panti. Cagar Alam ini memiliki bentang alam yang unik yaitu hutan rawa yang terdapat di dalamnya sumber air panas. Kawasan ini dilalui oleh sebuah sungai dan menjadi habitat berang-berang.

Peserta kegiatan baca buku cerita ini adalah siswa baru kelas 1. Mereka sedang dalam masa orientasi sekolah. Sedangkan instrukturnya adalah mahasiswa Universitas Andalas. Mahasiswa-mahasiswa ini sedang melakukan kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) ke masyarakat. KKN merupakan kegiatan tahunan bagi mahasiswa semester tujuh untuk mengaplikasikan dan membagi pengetahuan dan keterampilan ke masyarakat. Banyak kegiatan yang mereka lakukan ke masyarakat dalam kerja tim-tim mereka. Untuk kegiatan bercerita ini kegiatan dipimpin oleh Adha Rilascka, seorang mahasiswa Biologi Universitas Andalas.

Pada kesempatan pertama, instruktur memperkenalkan diri kepada seluruh siswa. Kemudian agar suasana semakin hangat, instruktur telah menyiapkan permainan dan aktifitas menarik. Kemudian siswa dibagikan buku cerita dan disuruh membaca dan menginterpretasikan cerita yang ada di dalamnya. Siapa yang dapat dengan baik menceritakan kembali buku ceritanya maka akan mendapatkan door prize. Selain itu para siswa juga mendapatkan motivasi pesan-pesan agar kita selalu melindungi seluruh makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan dan termasuk juga berang-berang yang sebagai flagship kegiatan ini. Selain itu siswa juga dimotivasi agar menjadi ramah lingkungan, bisa menjadi pemimpin dan orang sukses di masa depan.

Buku cerita yang dibagikan ada sebanyak 5 judul. Buku-buku yang bercerita tentang dongeng-dongeng yang melibatkan berang-berang di dalam ceritanya. Buku cerita ini berasal dari IUCN Otter Specialis Group, yang langsung dikirim oleh koordinator IUCN OSG regional Asia, Prof. Padma deSilva.

Walaupun kegiatan ini sangat menarik, namun terdapat kendala dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Buku cerita berang-berang ini ditulis dengan bahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah pelajaran yang akan mereka pelajari pada semester ini. Siswa didaerah pedesaan tidak memahami Bahasa Inggris. Orang tua mereka yang kurang mampu, tidak memberikan anaknya belajar tambahan untuk meningkatkan pemahaman bahasa Inggris. Untuk mengatasi ini, siswa didampingi oleh instruktur dan dibantu dalam menerjemahkan. Untungnya buku ini banyak memiliki gambar sehingga mudah untuk dimengerti.

Setelah acara selesai, buku disimpan di sekolah sehingga guru bahasa Inggris dapat menggunakannya sebagai bahan ajar bahasa Inggris.

foto-foto:

Adha was talking about animal conservation including otter a young ladies reads an otter book DSCN5656 DSCN5660 Instructors

Memperpanjang SIM – part 2

Nah, sekarang kita lanjutkan kembali kisah hidup saya ini. Bagi yang belum baca part 1, silahkan baca dulu → Part 1.

Senin 3 Februari 2014.

I like Monday. Hari senin adalah hari yang sangat saya suka untuk masalah mengurus-urus surat dan segala sesuatunya. Karena pada hari ini pegawai atau petugas sudah kembali fresh setelah libur di hari Minggu nya. Hari senin biasanya semuanya hadir. Kalau hari lain kadang-kadang banyak kepala atau pimpinan yang tidak hadir atau dinas luar. Hal itu seringkali memperlambat urusan kita.

Pagi itu saya berangkat pagi-pagi sekali, berharap sebagai orang yang pertama datang. Satpas SIM buka pukul 08:00, saya datang 07:45. Namun, ternyata bukan saya yang pertama. Ada seorang bapak yang sudah menunggu di sana. Saya pun duduk di teras, di kursi tunggu.

Delapan teng, belum ada petugas yang siap. Seorang ibuk-ibuk masih sedang menyapu dan membersihkan ruangan. Setelah beberapa menit, ada seorang pak Polisi (Polisi P2) yang sudah ada dalam ruangan dan mondar-mandir.

Saya masuk dan bertanya ke pak polisi itu.

S: Pak, memperpanjang SIM, berkasnya sudah masuk hari Kamis kemarin.

P2: Ya, silahkan duduk dulu Pak.

Saya kembali ke ruangan tunggu. Orang sudah mulai banyak berdatangan untuk mengurus SIM. Mulai dari yang muda sampai yang tua, dari yang berpakaian pakaian dinas rapi sampai ke anak muda yang berpakaian jeans robek di lutut. Tapi tak ada yang bercelana pendek, karena ada peringatan bagi yang bercelana pendek dan datang pakai motor tak berhelm maka tak akan dilayani.

Selang beberapa lama, nama saya dipanggil. Saya masuk dan dipandu oleh polisi P2 untuk ke dalam ruangan di sebelah dalam. Dalam ruangan itu disudut kirinya ada perangkat mobil dan motor simulasi yang dilingkari dengan pita garis polisi, dan di sebelah kanan ada kursi yang berjejer seperti ruangan kelas, sepertinya itu tempat ujian.

P2: Bapak tes ya.

S: Saya memperpanjang sim, Pak. Simnya masih hidup

Pak polisi itu sibuk mencari-cari di lembar-lembaran tumpukan kertas.

P2: Ada nampak kunci jawaban ujian sim C dan A? (dengan sedikit bersorak ke polisi lain, yang berada di ruangan lain)

Sembari mencari, si Bapak polisi itu bertanya-tanya kepada saya, tinggal dimana, apa pekerjaannya dll. Kalau dialog ini saya skip saja, karena ini akan bisa membeberkan siapa saya sebenarnya. He he…

P2: Ini soal tesnya dan jawab di lembar jawabannya. Ini yang untuk sim C dan ini untuk sim A. (Pak polisi P2 menyerahkan dua buah map dan dua lembar soal)

P2: Silahkan mengerjakannya di bangku ini.

S: Ya Pak.

P2: Bapak punya pena? (kata bapak itu ketika melihat saya sibuk mencari pena)

S: Tak ditemukan Pak, saya permisi mau beli pena dulu.

P2: Pakai pena ini saja (Wah…, bapak polisinya baik!)

S: Terima kasih banyak Pak.

Saya lihat soalnya. Kertas soalnya berbentuk satu lembar besar, mungkin seukuran A3, dicetak bolak balik berwarna, lalu dilaminating. Bentuk soal pilihan berganda. Soalnya ada yang pertanyaan teori, dan banyak yang berupa contoh kasus. Contoh kasusnya disajikan dalam bentuk skema gambar kondisi jalan raya, kemudian akan dipertanyakan apa yang harus dilakukan misalnya oleh mobil A, atau mana yang lebih dulu jalan, mana yang harus diprioritaskan dan lain-lain.

Setelah sekitar setengah jam, pak polisi P2 kembali datang. Saya pun hanya tinggal mengecek ulang jawaban saja.

P2: Sudah selesai?

S: Sedikit lagi pak, ada yang ragu. Sim becak apa ya? (Kemudian saya pilih saja salah satu opsi jawaban, lalu saya serahkan ke Pak polisi P2 itu)

P2: Silahkan tunggu diluar dulu.

S: Terima kasih banyak Pak.

Saya kembali menunggu diluar. Saya lihat kemudian pak polisi itu mulai sibuk dengan memeriksa lembaran jawaban saya. Sambil menunggu, dari pada hening saja saya sapa seorang Bapak-bapak yang juga mengurus SIM. Si Bapak (B) ini juga memperpanjang SIM, SIMnya sudah mati beberapa bulan.

B: Sudah selesai? tadi di dalam ngapain saja?

S: O.. tadi ada isian yang harus diisi (saya yang tak mau memberitahukan bahwa saya ini kasusnya berbeda, he he…)

B: Berapa bayarnya, tadi saya di sana bayar 140 ribu.

S: Saya hanya di sini saja Pak, SIM saya masih hidup. (Saya masih saja tak ingin membeberkan kasus khusus saya ini).

Tiba-tiba nama saya dipanggil dari dalam. Saya bergegas masuk

P2: Pak, jawabannya sudah diperiksa. Yang ini nilainya 20, sedangkan yang ini nilainya 40. (Pak polisi itu menyodorkan kertas jawaban yang sudah diperiksa dengan tinta merah dan tertulis nilai yang sudah dilingkari). Bapak kembali 14 hari lagi untuk tes ulang.

Wow… Bodoh sekali saya!! Teriak saya dalam hati. Kok bisa ya? Saya mulai berfikir kencang sekali. Ada apa ini?!

O… berarti sudah saatnya ini!!!

S: Pak, kalau memperpanjang, tes teori juga ya Pak? Saya lihat di internet kalau memperpanjang SIM yang masih hidup hanya tes simulator. Kalau yang sudah mati, iya tes teori, praktek dan simulator.

P3: O… Bapak memperpanjang SIM?! (Celetuk polisi yang lain yang duduk agak di belakang)

P2: Bapak memperpanjang SIM? bilang lah dari tadi (waduh, si bapak P2 ini ikut-ikutan juga)

S: Kan sudah saya bilang dari tadi Pak (Malahan sejak hari Kamis sudah saya bilang dengan jelas-jelas)

P2: O…, kalau begitu silahkan bapak meminta surat keterangan kesehatan dulu ke B**** J***

S: Ya pak terima kasih banyak.

Berarti tak pakai sertifikat, hanya surat keterangan saja. Pikir saya dalam hati. Saya pun berangkat ke lembaga yang disebutkan pak polisi itu.

Setiba di sana, ternyata ada 3 orang. Ada si ibuk BJ2 yang berkacamata, namun untuk pemeriksaan kesehatannya sudah berganti, kali ini lebih muda, kita beri nama BJ3. Kemudian ada Bapak polisi yang sudah berumur. Kalau pangkatnya tak tau saya apa namanya, tapi kalau di tentara biasanya akrab disebut berpangkat kelelawar dua buah. Kita panggil saja pak polisi ini dengan P4.

Situasinya, pak Polisi P4 sedang duduk di kursi sedang bercerita dengan buk BJ2 yang sedang berdiri. Di tangan pak P4 itu ada segenggam uang yang dominan dengan warna merah-merahnya. Kalau petugas kesehatan buk BJ3 sedang duduk di kursinya.

Saya datang menghampiri.

S: Buk, minta surat keterangan kesehatan, surat keterangan kesehatan saja, tak pakai sertifikat.

Saya duduk lalu mulai diperiksa oleh buk BJ3. Saya berikan KTP. Dia mulai menulis.

Lalu tangan saya dipasang alat pengukur tekanan darah. Sepertinya alatnya sudah baik. Namun kok periksanya cepat sekali ya? Belum lagi tangan terasa dicengkram kuat oleh alat, si ibuk BJ3 itu sudah saja selesai. Lalu menuliskan hasilnya di kertas.

BJ2: Bapak yang kemarin itu ya?. (Rupanya si ibuk ini masih ingat)

S: Ya Buk, hanya surat keterangan kesehatan saja. Sertifikat tidak.

BJ2: Hanya surat keterangan saja?

S: Iya, kalau memperpanjang sim yang masih hidup surat kesehatan saja. Yang dites itu, kalau yang sudah  mati

P4: Kata siapa? (Pak polisi itu celetuk ikut bicara, namun dengan gaya yang cool tanpa ekspresi)

S: Saya baca diinternet Pak. Kalau perpanjangan SIM yang masih aktif, hanya tes simulator saja, kalau yang sudah lewat, baru pakai tes teori, praktek dan simulator. Berlaku sejak Maret 2013. Tapi entahlah kalau sekarang sudah bertukar. (Jawab saya panjang lebar, namun ditanggapi dingin tanpa ekspresi saja oleh pak P4)

BJ2: Coba lah bapak tanyakan kembali dulu ke satpas. Biasanya seluruhnya pakai sertifikat. Tak pernah yang tak pakai sertifikat. (Saat itu saya baru saja menyelesaikan tes buta warna)

BJ2: Coba lah Bapak tanyakan lagi.

S: Ya Buk.

Saya berangkat balik ke Satpas.

S: Pak, katanya pakai sertifikat Pak.

P2: Iya, harus pakai sertifikat

S: Kalau memperpanjang juga harus pakai sertifikat?

P2: Iya, semuanya pakai sertifikat, baik baru ataupun memperpanjang.

P2:  Bagaimana, sudah paham Bapak?! (Wow…, nadanya sudah mulai meninggi)

S: Maaf Pak, saya hanya bertanya

P2: O ya Pak, silahkan (nadanya sudah turun kembali, he he…)

S: Jadi semuanya harus pakai sertifikat, baik itu baru atau memperpanjang?

P2: Iya, seperti itu peraturan dari komandan Pak.

Saya termenung sejenak. Ada yang tak beres nih! Pikiran semakin kencang.

Saya mulai memperhatikan nama pak P2 dan pak P3, saya perhatikan juga Kasatlantas yang ada tertulis plang namanya di atas pintu masuk sebuah ruangan. Agar tak lupa, saya catat melalui sms pada hp saya yang hanya bisa telpon dan sms saja. (Radio dan senter juga bisa sih. :) )

S: Berarti saya pulang dulu nih Pak. Soalnya uang saya tak cukup.

P2: Berapa bapak bawa uang?

S: 200 ribu

P2: Kalau 200 ribu, untuk satu sim saja itu tidak cukup.

S: Ya Pak, saya balik dulu pak.

Saya berbalik pulang.

Sepanjang perjalanan pikiran saya berkecamuk. Ini ada yang salah. Ini harus diperbaiki. Maka saya pun bertekad, mencari informasi lebih lengkap. Apakah saya harus ke Kapolres? Atau kepada siapakah saya harus bertanya?

Setiba di rumah di Lubuk Alung, kembali saya menyalakan Spidi dan mengkonekkan dengan laptop biru saya. Saya cari prosedur pengurusan SIM, saya menemukannya di situs resmi Polri. Benar! Tak ada tes bagi perpanjangan. Saya cari kontak pengaduan layanan. Ketemu nomor telpon 110. Maka untuk pertama kalinya saya menelpon 110.

Saya berbicara dengan seseorang yang bersuara wanita. Saya tanyakan prosedur perpanjangan SIM. Benar! Tak ada tes, persis seperti di website polri. Berarti yang ada pada sebuah artikel berita bahwa yang harus pakai tes simulator itu tak berlaku lagi ya? pikir saya. Lalu saya ceritakanlah kejadian ini bahwa di Padang Pariaman harus pakai sertifikat dari lembaga.

Kemudian si ibuk 110 ini menyarankan untuk menelpon NTMC Polri 021-500669. Saya tanyakan hal yang sama. Benar! Tak ada tes. Lalu saya laporkan kejadian ini. Saya ceritakanlah kronologis lengkapnya. Si Ibuk NTMC ini menerima laporan saya dan akan berjanji untuk memprosesnya. Saya diberi tahu agar melapor kembali ke Satpas dan bilang bahwa sudah lapor ke NTMC dan bahwa perpanjang SIM tak pakai sertifikat.

Dialog detail dengan 110 dan NTMC ini tak usah saya rinci. Terlalu panjang jadinya. He he…

Bermodal kekuatan kebenaran dan bekingan dari NTMC, saya kembali ke Satpas SIM.

Setiba di Satpas

S: Pak boleh bertanya lagi pak, saya masih bingung

P2: Apa pak?

S: Tadi saya menelepon NTMC Polri, katanya untuk memperpanjang SIM tak ada pakai sertifikat.

P2: NTMC?

S: Ya, NTMC Polri. Saya barusan menelepon hotline nya.

P2: Silahkan duduk dulu Pak (Pak polisi ini mulai bingung, sepertinya agak gagap juga)

Sembari duduk menunggu di ruang tunggu, saya masih bisa mendengar. Saya diperbincangkan di dalam oleh sesama polisi, bahwa saya menelepon NTMC.

Nama saya dipanggil lagi. Kali ini saya dipanggil oleh polisi yang berbeda. Kita sebut sebagai P5.

Saya masuk, kemudian diajak masuk ke dalam ruangan tempat saya tes tadi.

P5: Jadi bapak memperpanjang sim. Tadi siapa yang bapak telepon?

S: NTMC Polri. Tak pakai sertifikat katanya. (mental saya semakin naik)

P5: Mana sim bapak?

Lalu saya serahkan kedua SIM. Pak P5 ini memperhatikan sim saya.

P5: O… kalau ini data basenya ada di kota Pariaman.

S: Kan alamatnya kabupaten Pak

P5: Iya benar, tapi datanya ada di kota. Kalau kode nomornya ini di kota (pak P5 itu menyebutkan kode nomor yang ada di nomor SIM

P5: Bapak ini simnya SIM kota. Coba lihat, kalau di sini kode nomornya ini! (dengan suara yang sedikit bersorak, sambil menunjuk kepada map-map pengurusan sim lainnya)

S: Jadi, memperpanjangnya di kota ya Pak?

P5: Ya, Bapak ini sim kota. Tentu tidak bisa kami bantu! (Dengan suara yang keras seperti sedang mengumumkan ke semua orang)

S: Ya Pak, terima kasih banyak.

Dulu waktu saya mengurus SIM tahun 2009, kota Pariaman belum terpisah dari kabupaten Padang Pariaman. Sekarang sudah ada Kota Pariaman dan Kabupaten Pariaman.

Perjalanan pun berlanjut menuju kota Pariaman.

Sampai di polres kota, saya langsung menuju loket SIM.

S: Pak, memperpanjang sim, SIM A dan SIM C (langsung saya sodorkan SIM dan KTP)

P6: Silahkan ke B**** J*** dan urus surat keterangan kesehatan dan sertifikat, kantornya dekat kantor walikota.

S: Kalau memperpanjang SIM pakai sertifikat juga pak?

P6:Ya

S: Pak, tadi saya sudah menghubungi NTMC Polri, katanya untuk memperpanjang SIM tidak pakai sertifikat

P6: NTMC?

S: Ya, NTMC pusat

P6: Oh, silahkan menunggu sebentar. (dengan wajah yang sedikit heran dan bingung)

Lalu saya duduk menunggu. Terlihat pak polisi P6 itu berbicara kepada rekannya dan terdengar lah mereka menyebut-nyebut NTMC.

Nama saya dipanggil lagi

S: Ya, pak.

P6: Memang pak, prosedurnya seperti itu. Silahkan bapak minta sertifikat dan kesehatan ke B**** J***.

S: Tapi saya sudah menanyakan ke NTMC pak. Katanya tidak pakai sertifikat. Tadi saya juga sudah balik dari polres Padang Pariaman.

(si Bapak mulai sedikit termenung)

P6: Ok, silahkan minta surat keterangan kesehatan.

S: Surat keterangan kesehatan saja kan pak? (Saya harus meyakinkan sekali lagi)

P6: Iya

S: Terima kasih Pak.

Lalu saya berangkat ke lokasi yang ditunjuk, terletak di dekat kantor Balaikota Pariaman.

Di sana ada dua orang wanita lagi, satu bagian berpakaian biasa (BJ4). Satu lagi berpakaian tenaga kesehatan putih-putih (BJ5).

S: Buk, memperpanjang SIM, cek kesehatan.

BJ5: Ya, silahkan duduk pak.

S: memperpanjang SIM A dan C. Tapi surat keterangan saja, tak pakai sertifikat

BJ5: Tapi…, biasanya semuanya pakai sertifikat

S: Saya memperpanjang buk.

BJ5: Ya memperpanjang juga pakai sertifikat.

S: Ini beda buk. Ini khusus. (jawab saya yang tak mau bertele-tele lagi).

S: Surat keterangan kesehatan saja.

Tanpa memperpanjang detail pemeriksaan, akhirnya saya dapat suratnya dengan membayar 40rb. Alhamdulillah.

Saya kembali ke kantor polisi. Loketnya sudah mulai ditutup, namun pak P6 masih berada di dalam.

S: Sudah tutup pak?

(Pak polisi itu membuka penutup loket dan langsung mengambil berkas saya, kemudian menutupnya lagi.)

P6: Silahkan tunggu sebentar nanti dipanggil untuk foto.

Singkat cerita, saya dipanggil, sidik jari dan berfoto. Menunggu sebentar akhirnya selesai. Alhamdulillah.

Dengan perasaan gembira dan puas, saya kembali pulang ke Lubuk Alung. Namun tak lupa saya menyinggahi Satpas SIM polres Padang Pariaman untuk melapor.

S: Pak, sudah selesai (Saya masuk ke dalam menerobos kerumunan orang yang antri)

P2: O… sudah dapat SIMnya?

S: Sudah, pak

P2: Mohon maaf ya pak, kami tadi tidak bisa membantu. Bapak simnya kota sih…

(ha ha ha…, tertawa saya dalam hati)

S: Ya pak, mohon maaf juga. Saya telah banyak bertanya-tanya ke Bapak.

P2: Ya sama-sama

S: Terima kasih pak.

Saya pamit, saya singgah juga ke B**** J*** yang di kabupaten untuk melapor.

S: Buk, lapor buk. Saya sudah selesai SIMnya. Kalau memperpanjang SIM tidak pakai sertifikat.

BJ2: Sudah selesai? Tidak pakai sertifikat?

S: Ya, tadi saya sudah melapor ke NTMC Polri. Katanya perpanjangan SIM tak pakai sertifikat.

BJ2: NTMC Polri?!

Si ibuk ini sepertinya mulai heran dan gugup. Sambil terlihat tangannya yang mencoba menarik laci meja secara pelan-pelan, dan mengambil hp di dalamnya.

S: Terima kasih banyak ya buk. (Saya tinggalkan begitu saja)

Alhamdulillah…. Hampir saja saya keluar uang banyak. Jadi saya hanya mengeluarkan uang sebesar 195 ribu rupiah. 75ribu untuk SIM C, 80ribu untuk SIM A dan 40ribu untuk pemeriksaan kesehatan. Kalau saya menuruti saja kemauan mereka, maka saya harus membayar 435 ribu rupiah.

195 vs 435.

Wow!!!

Alhamdulillah…
ALLAHU AKBAR!!!

Memperpanjang SIM – part 1.

Hari itu hari kamis 30 Januari 2014. Saya pergi memperpanjang SIM di kantor satuan pelayanan administrasi Satpas SIM Polres Padang Pariaman. Di kantor yang terletak di sebuah tikungan di kecamatan Nan Sabaris.

Saya datang di pagi hari sekitar pukul 9-an, Saya mendapati sebuah kantor yang di halamannya terdapat beton angka 8 besar (sepertinya tempat ujian praktek berbelok-belok sepeda motor), dan di sampingnya ada mobil putih untuk ujian praktek SIM. Saat itu sedang sepi, hanya ada 2 orang yang baru saja keluar dari loket pelayanan.

Saya masuk ke dalam kantor tersebut. Di sebelah kanan terdapat meja pelayanan. Di balik meja itu ada 3 orang: 2 orang berpakaian sipil, satu berseragam polisi. Saya langsung menanyakan ke polisi yang berseragam.

 

Berikut percakapan saya (S) dengan pak polisi. Kita sebut saja P1, artinya pak polisi pertama. Untuk polisi yang berbeda akan saya kasih nomor berbeda, P2, P3 dst.

O ya, seluruh percakapan yang terjadi dalam kisah hidup saya kali ini, sebenarnya semuanya menggunakan bahasa minang dengan logat khas piaman. Agar mudah dipahami secara nasional dan internasional, maka akan saya translate ke bahasa Indonesia. He he…

 

S: Pak, mau memperpanjang SIM. SIM A dan SIM C

P1: Silahkan cek ke B**** J*** dulu (Pak polisi menyebut sebuah nama)

P1: Nanti untuk mengurus SIM bayarnya ke petugas BRI (sambil menunjuk seorang wanita di samping kanannya)

S: Berapa biayanya pak?

P1: Silahkan ke B**** J*** dulu, baru nanti kembali lagi ke sini

S: Berapa biaya SIM nya pak, saya perpanjangan

P1: Perpanjangan? Masih hidup kartunya?

S: Masih Pak.

P1: Untuk SIM C biaya PNBP nya 75ribu dan sim A 80 ribu. Ke sana dulu, (sambil menunjuk arah jalan) kemudian lihat ke sebelah kiri, ada tulisannya B**** J***

S: Terima kasih Pak

 

Saya kemudian keluar dan dengan mengendarai motor ke arah yang ditunjuk oleh pak polisi tadi. Saya berjalan pelan sesuai dengan arah yang ditunjuk. Yang terbayang dalam benak saya waktu itu adalah sebuah klinik tempat cek kesehatan.

 

Sekitar 150m saya melihat plang B**** J***. Ini dia!. O… ternyata sebuah lembaga tempat kursus keterampilan mengemudi. Terlihat di dalamnya ada 2 orang wanita. Saya langsung menuju ke wanita yang berpakaian jas putih (mungkin dokter). Di belakangnya ada poster putih berisi huruf-huruf yang beragam ukurannya mulai dari ukuran yang besar sampai yang sangat kecil.

Dua wanita ini kita sebut saja sebagai BJ1 dan BJ2

 

S: Buk, mau urus surat keterangan untuk memperpanjang SIM A dan C

BJ1: Ada KTP?

Waktu itu SIM sedang dalam gengaman tangan saya, saya perlihatkan kedua SIM itu

BJ1: O… pakai SIM saja

Wanita itu mulai menulis pada 2 buah kertas kuning yang dipojok kanan atasnya ada lambang yang ada palang merahnya

S: nama saya memang 2 huruf A nya Buk, agar di absen selalu menjadi nomor satu.

Ternyata saya masih sempat bercanda he he…

BJ1: He he… iya juga ya.

BJ1: Biasanya berapa tensi nya? Alat kami sedang rusak

S: Biasanya 120 Buk, 120 per 80

Wanita itu menulis. Tapi kok yang ditulis 120 per 70 ya?

Lalu saya sampaikan berat, tinggi dan jenis golongan darah saya.

Setelah itu saya disodorkan buku berisi gambar-gambar penuh bulatan warna-warni, yang mozaiknya membentuk gambar angka-angka

BJ1: Coba berapa angkanya ini?

O… kalau tes ini alhamdulillah saya dikarunia tidak buta warna. Saya jawab semuanya dengan cepat, lugas dan tepat semua angkanya he he… alhamdulillah…

Sembari si ibuk itu menulis, saya lanjutkan bolak-balik buku tes buta warna itu. Ternyata ada keterangannya. Saya baca dan pelajari. O… ternyata gini dan gitu ya? Saya dapat pengetahuan baru tentang buta warna.

BJ1: Oke, sekarang pindah ke sebelah (sambil menunjuk wanita yang disebelah kirinya. Si ibuk berkaca mata, kita beri nama BJ2).

 

Saya lalu pindah kursi dan dipersilahkan duduk dengan ramah. Ibuk BJ2 pun telah menerima 2 buah kertas kuning saya tadi. Saya memperhatikan si ibuk itu sedang menulis pada sebuah kertas. Kali ini kertasnya berwarna putih, dan di pinggirnya bercorak bingkai warna biru dan di tengah atasnya bertuliskan SERTIFIKAT.

 

Hah?!

 

S: Buk, ini sertifikat apa buk? Saya memperpanjang SIM Buk. (tanya saya yang mulai cemas)

BJ2: O… ini sertifikat bukti menguasai dengan baik cara mengemudi dengan benar

S: Harus pakai sertifikat ya buk?

BJ2: Iya, kalau tidak ada sertifikat dari lembaga pendidikan mengemudi, maka akan ada ujian teori dan ujian praktek.

S: Kalau memperpanjang SIM pakai tes juga ya buk? Berapa biayanya? (Tanya saya beruntun dan menunjuk ke sertifikat yang sudah mulai tertulis nama saya.

BJ2: Iya. Biayanya, dua-duanya menjadi 280 ribu.

 

Hah?! Gubrak!! Kalau seandainya bisa diilustrasikan dengan film kartun atau komik manga jepang, maka mungkin saya sudah terjungkal ke belakang atau muncul tetes air besar di depan kepala saya. Namun, sebenarnya saku saya lah yang sedang shock dan menangis mendengar angka 280 ribu itu.

 

S: Kalau tidak pakai sertifikat harus tes ya buk? Walau perpanjangan?

BJ2: Ya

S: Uang saya tak cukup buk (sambil garuk-garuk kepala, sambil mikir kok pakai tes pula ya?)

S: Saya tes saja lah buk

BJ2: Hampir sama saja habis dananya itu, kalau tes selesainya bisa 2 minggu atau malah lebih, dan kita juga harus bolak-balik.

S: Ya, gak apa-apa buk. Saya tes saja lah. Saya ambil surat keterangan kesehatan saja. Berapa buk?

BJ2: hmm… kalau surat keterangan kesehatan 20 ribu

S: Ya, surat keterangan saja. Ya gak apa-apa tes saja.

BJ2: Hmm… tunggu dulu. Coba saya tanya ke polisi dulu. (Kemudian si ibuk itu mengambil hapenya)

BJ2: Pak, ini ada bapak ini tes katanya (kata si ibuk ke hapenya, entah bicara sama siapa saya tidak tau)

Lalu si ibuk itu mengangguk-angguk

BJ2: Pak, coba tanya langsung saja kembali ke pos satpas (kata si ibuk itu ke saya)

S: Surat keterangan kesehatannya?

BJ2: Ke satpas saja pak.

S: OK buk, terima kasih banyak Buk

 

Yah… gak jadi deh dapat surat keterangan kesehatan

Saya kembali ke satpas, melapor ke pak polisi

 

S: Pak, rupanya pakai sertifikat bayar 280 ribu. Saya tak punya uang pak. Kalau tak pakai sertifikat, tes ya pak? Saya tes saja, gak apa-apa

P1: Tes ya? Hmm… kembali lagi hari Sabtu, lagian kertas kartu SIMnya juga sedang habis.

P2: Ya benar! kartu SIM nya sedang habis (Langsung ditimpal oleh polisi yang kedua, dari dalam ruangan)

S: Sabtu? Gak libur ya pak?

P1: O ya, Sabtu hari terjepit. Hari Senin saja lah (Sabtu dijepit oleh jum’at yang libur imlek)

S: Oke pak, terima kasih banyak.

S: O ya Pak. Saya isi saja lah dulu formulirnya. (Saya kembali berbalik badan)

 

Saya dikasih formulir. Lumayan banyak, kalau tak salah ada 3 lembar. Lalu saya isi. Pak polisi P1 juga memberikan panduan contoh pengisian.

Setelah selesai, saya berikan formulirnya ke pak P1.

 

P1: Ya, Ok. Sudah.

S: Bayarnya gak sekarang Pak?

P1: Gak, kalau sudah akan beres saja nanti.

S: Terima kasih banyak Pak

 

Lalu saya kembali pulang dengan pikiran yang berkecamuk. Kok tes ya? Padahal dulu ada SIM keliling, sangat mudah pengurusannya. Saya cari informasinya di internet dulu ah!

 

Setiba di rumah di Lubuk Alung, saya hidupkan modem wifinya Spidi. Lalu laptop dikonekkan ke internet. Saya searching di Gugel dengan kata kunci “Perpanjangan sim tes”. Ternyata keluar informasi bahwa sejak bulan Maret 2013 untuk perpanjangan akan dilakukan tes, yaitu tes simulator saja. Kalau SIM baru maka tesnya mulai dari tes teori, praktek dan simulator. Namun sumber info itu berasal dari sebuah berita. Saya lupa cek situs resmi polri.

O… ada tes simulator ya? Wah, asyik nih pakai simulator. Saya akan mencoba “main game”. Pasti seru! he he…

 

OK. Cerita hari Kamis 30 Januarinya sudah selesai. Kita akan lanjutkan ke cerita yang paling seru di hari Seninnya tanggal 3 Februari 2014.

Penelitian laba-laba pakai lampu headlamp

Mencari laba-laba ternyata lebih mudah di malam hari. Bermodal dengan lampu headlamp yang pakai led, kita bisa dengan mudah menemukannya. Laba-laba yang mempunyai mata 1-4 pasang, matanya itu akan memantulkan lampu headlamp ketika kita menyorotnya. Maka dengan mudah saja kita bisa mengetahui bahwa itu adalah laba-laba. Pantulan lampu dari mata laba-laba memang akan mirip dengan pantulan yang dihasilkan oleh setetes air, tapi jika kita perhatikan akan berbeda. Pantulan dari air biasanya hanya bersinar putih biasa. Kalau dari mata laba-laba, warna pantulan akan sedikit kebiruan dan kemerahan yang agak sedikit berubah-rubah ketika dilihat dari posisi yang berbeda. Dengan metoda ini, laba-laba pun bisa dihitung jumlah populasinya.

Dengan menggunakan metoda ini berbagai bentuk penelitian menarik namun mudah, dapat dilakukan. Tema penelitian yang bisa diajukan diantaranya:

  • Penelitian inventarisasi jenis laba-laba. Kita bisa menangkapnya dengan menggunakan hand sorting method menggunakan pinset dan nanti diidentifikasi di laboratorium.
  • Menghitung kepadatan populasi laba-laba. Penelitian ini bisa dikembangkan dengan melihat perbedaan populasi pada berbagai tipe habitat yang berbeda, dengan hanya menghitung jumlah pantulan cahaya mata laba-laba.
  • Penelitian relung hidup dan mikrohabitat laba-laba. Kita bisa melihat preferensi habitat dimana laba-laba itu itu beraktifitas. Apakah di dasar hutan, di balik sarasah, di pangkal kayu, di atas daun dll.
  • Penelitian tingkah laku laba-laba. Jika kita dengan mudah bisa menemukannya, berikutnya kita bisa mengamati tingkah laku apa saja yang dilakukan oleh laba-laba.

Metoda ini masih bisa dikembangkan. Tingkat akurasinya yang bisa saya gunakan, saat ini hanya baru sampai tahu bahwa ini laba-laba, belum sampai ke tingkat yang lebih rendah apalagi sampai identifikasi jenis. Namun saya yakin jika dilakukan pengamatan lebih dalam, maka kita akan bisa menemukan perbedaan karakteristik cahaya pantulannya.

Bahasa Kamboja

Sekedar menyalin catatan, dari pada nanti hilang :).

Saya = Knyoum
Kamu = Neak
Iya = Bat
Tidak =Tei
Pergi = Tee
Makan = Nyam
Minum = Phak
Lezat = Cngeng
Cinta = Srolaing
Senang = Sabpai
Ayo = Maok
Air = Tek
Nasi = Baay

No problem = Kmin panyaha
have problem = min panyaha

Good morning = Arun suosdei
Good evening = Rie tray suosdei
Good bye = Lii Hai
Hello = Suosdei

1 = Moei
2 = Pei
3 = Bay
4 = Bun
5 = Pram
6 = Pram moei
7 = Pram pei
8 = Pram bay
9 = Pram bun
10 = Dop

Mengeluh…

Kalau kita mau mengeluh, cobalah dengarkan dahulu keluhan-keluhan orang lain. Niscaya kita akan mendapati bahwa keluhan kita ternyata belum seberapa dibandingkan keluhan orang lain.
Dalam hidup ini kita seringkali mendapatkan permasalahan (pekerjaan, beban, amanah, cobaan dan lain-lain). Permasalahan yang kita rasa itu sangatlah berat yang hal itu diluar kesanggupan kita. Saking beratnya kita seringkali merasa telah menzalimi diri sendiri karena tidak ada lagi waktu untuk diri ini, tidak ada lagi waktu dan perhatian untuk keluarga. Hal itu akan semakin diperparah dengan keterbatasan waktu yang kita punya, dikejar deadline, dihantui target dll. Ingin rasanya diri ini berteriak dan mengeluh kepada setiap orang yang dijumpai.
Namun sebaik-baiknya tempat mengeluh adalah kepada yang menciptakan keluhan itu dan yang kalau Dia mau memberikan keluhan itu, tak akan ada satupun yang bisa menolaknya. Kalau Dia mau menghapuskan keluhan itu, tak ada satupun yang sanggup menahannya agar tetap ada. Dia itu lah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Cobalah curahkan semua keluhan itu kepada Nya. Ketika setelah salam kanan dan kiri ditempat sujud, cobalah duduk tertunduk sejenak. Rasakanlah rileksnya badan, rasakanlah tenangnya hati dan tunduknya pikiran dan emosi. Lalu tumpahkanlah semuanya…
“Ya Allah…………………”.

Curahkanlah…! Tumpahkanlah…! sejadi-jadinya sampai puas.

Lalu ingatlah firman Allah di ayat terakhir Al Baqarah
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya …”

Lalu bacalah doa nya
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“… Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”

Lalu ingatlah janji Allah di surat Alam Nasyrah yang mengatakan bahwa sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Tak sukup satu kali, Allah pun mengulang perkataannya. Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Subhanallah…
Alhamdulillah…
Allahuakbar!!!

Semangat! InsyaAllah PASTI BISA!!!

Rasa yang aneh…

Dua bulan ini ada sebuah keanehan besar yang terasa dalam diri ini. Aneh memang aneh. Secara tiba-tiba jantung itu bisa berdesir aneh. Desir yang seketika bisa membuat badan menjadi panas dingin. Ritme pernapasanpun fluktuatif. Kadang-kadang lambat, kadang-kadang cepat, dan kadang-kadang harus menghirup napas dalam-dalam. Namun semua hal itu tidaklah membuat badan dan pikiran ini menjadi sakit dan menderita. Tidak, malah sebaliknya. Setiap aliran darah yang mengalir ke badan ini terasa hangat. Setiap sel yang disinggahi oleh darah pun seperti merayakannya dengan senang hati. Otak saya pun seringkali menampilkan slide-slide memori indah. Namun, walau slide itu bercerita pada suasana dan tempat yang berbeda, wajah yang muncul di sana selalu wajah satu orang saja. Aneh memang aneh. Ternyata beginilah rasanya jatuh cinta.

Terima kasih sayang…

Subhanallah…
Alhamdullilah…
Allahuakbar!!!

#SayNoToPacaran, #NikahSaja

Padang, 2 Oktober 2013

Kunci identifikasi : Apakah saya telah melihat berang-berang?

Ini adalah kunci sederhana yang menolong anda memastikan apakah telah melihat berang-berang.

  1. Seberapa jelas anda melihat hewan tersebut?
    1. Kurang jelas / terlihat sekilas / dari jarak jauh 2
    2. Terlihat jelas hanya beberapa menit 5
    3. Terlihat jelas dalam jarak dekat atau terlihat dalam waktu lama 10
    4. Saya sering melihat hewan ini dalam berbagai situasi 20
    5. Saya melihatnya tertangkap, atau sebagai hewan peliharaan, atau di dalam kandang,atau baru-baru ini mati dan saya bisa memeriksanya secara teliti dan mengambil 29
  2. Dimana anda melihat hewan tersebut?
    1. Sedang berenang di badan air (sungai, danau, telaga, rawa) 3
    2. Jauh dari badan air, atau sedang memanjat pohon 4
  3. Maaf! Kami tidak dapat mengidentifikasi apa yang anda lihat

    Susah untuk mengidentifikasi secara jelas hewan apa yang anda lihat, Berang-berang adalah hewan perairan, namun biawak bisa diragukan sebagai berang-berang karena jarak lihat atau cahaya yang tidak jelas. Mereka berenang dan berjalan dengan cara yang mirip.

  4. Maaf! Kami tidak dapat mengidentifikasi apa yang anda lihat

    Berang-berang secara normalnya tidak memanjat pohon, dan biasanya berada pada tempat yang dekat dengan air. Terdapat banyak jenis mamalia berukuran sedang dari suku Mustelidae dan Viveridae (misalnya: luwak, musang, linsang) yang memiliki banyak kemiripan. Mamalia-mamalia ini memiliki kemiripan dalam bentuk tubuh, namun tidak menggunakan air sebagai tempat berburu makanan atau bermain

  5. Dimana anda melihat hewan tersebut?
    1. Sedang berenang di badan air (sungai, danau, telaga, rawa) 6
    2. Jauh dari badan air, atau sedang memanjat pohon 9
  6. Bagaimana cara berenangnya?
    1. Berenang secara perlahan, mengayuhkan ekor ke arah kiri dan kanan 7
    2. Berenang cepat, menyelam ke dasar kemudian muncul lagi ke permukaan air, ekor muncul ke permukaan air ketika gerakan menyelam 8
  7. Anda mungkin telah melihat seekor biawak
  8. Anda mungkin telah melihat seekor berang-berangKami yakin anda telah melihat seekor berang-berang, namun untuk menentukan jenis, anda butuh penglihatan yang lebih baik.
  9. Maaf! Kami tidak dapat mengidentifikasi apa yang anda lihatBerang-berang secara normalnya tidak memanjat pohon, dan biasanya berada pada tempat yang dekat dengan air. Terdapat banyak jenis mamalia berukuran sedang dari suku Mustelidae dan Viveridae (misalnya: luwak, musang, linsang) yang memiliki banyak kemiripan. Mamalia-mamalia ini memiliki kemiripan dalam bentuk tubuh, namun tidak menggunakan air sebagai tempat berburu makanan atau bermain
  10. Dimana anda melihat hewan tersebut?
    1. Sedang berenang di badan air (sungai, danau, telaga, rawa) 11
    2. Jauh dari badan air, atau sedang memanjat pohon
  11. Bagaimana cara berenangnya?
    1. Berenang secara perlahan, mengayuhkan ekor ke arah kiri dan kanan 7
    2. Berenang cepat, menyelam ke dasar kemudian muncul lagi ke permukaan air, ekor muncul ke permukaan air ketika gerakan menyelam 12
  12. Anda mungkin telah melihat berang-berang. Berapa ekor jumlah berang-berang yang terlihat?
    1. Banyak – lebih dari tiga ekor 13
    2. Kurang dari empat ekor 16
    3. Hanya seekor berang-berang 16
  13. Seberapa besar ukurannya?
    1. Panjang berang-berang yang terbesar lebih dari 1 m 14
    2. Panjang berang-berang yang terbesar kurang dari 75 cm 15
  14. Anda mungkin telah melihat Berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata)
  15. Anda mungkin telah melihat berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus)
  16. Seberapa besar ukurannya?
    1. Panjang berang-berang yang terbesar lebih dari 1 m 17
    2. Panjang berang-berang yang terbesar kurang dari 75 cm 15
  17. Apa warna berang-berang tersebut?
    1. Coklat abu-abu pucat dengan bulu yang mengkilat dan kepala besar membulat 14
    2. Coklat gelap dengan bagian tubuh dan dagu berwarna lebih pucat  18
    3. Coklat sangat gelap dengan leher berwarna kekuningan dan ada garis putih pada bibir atas 19
  18. Anda mungkin telah melihat berang-berang utara (Lutra lutra)
  19. Anda mungkin telah melihat berang-berang hidung berbulu (Lutra sumatrana)
  20. Bagaimana cara berenangnya?
    1. Berenang secara perlahan, mengayuhkan ekor ke arah kiri dan kanan 7
    2. Berenang cepat, menyelam ke dasar kemudian muncul lagi ke permukaan air, ekor muncul ke permukaan air ketika gerakan menyelam 21
  21. Anda mungkin telah melihat seekor berang-berang. Berapa ekor biasanya hewan ini terlihat dalam satu waktu?
    1. Banyak – lebih dari tiga ekor 23
    2. Kurang dari empat ekor 22
    3. Hanya seekor berang-berang 22
  22. Bagaimana berang-berang tersebut menangkap makanannya
    1. Mereka berenang di dalam air, dan menyelam untuk menangkap ikan yang dimakannya ketika keluar dari air atau dibawa ke daratan dan ditahan dengan tangan lalu dimakan 23
    2. Mereka menggunakan tangan untuk merasakan di bawah batu atau lumpur, dan mendapatkan kepiting, serangga dan ikan yang dimakan dengan cara dipegang dengan tangan 26
  23. Apakah mereka berang-berang berukuran kecil, panjang total kurang dari 1 m?
    1. Ya, mereka berukuran kira-kira sebesar kucing rumah 24
    2. Tidak, minimal salah satu dari mereka berukuran lebih dari 1 m 25
  24. Mereka adalah berang-berang cakar kecil
  25. Mereka adalah berang-berang bulu licin (Lutrogale perspicillata)
  26. Seperti apa bentuk berang-berang tersebut?
    1. Coklat gelap dengan bagian tubuh dan dagu berwarna lebih pucat dan kepala lebih datar dengan hidung kecil mengkilap 27
    2. Coklat sangat gelap dengan leher berwarna kekuningan, ada garis putih pada bibir atas dan hidung berbulu 28
  27. Anda telah melihat berang-berang utara (Lutra lutra)
  28. Anda telah melihat berang-berang hidung berbulu (Lutra sumatrana)
  29. Identifikasi dengan buku panduan Mammalia. Anda akan mendapatkan nama jenisnya secara lebih tepat.

Memulai itu memang sulit: Studi kasus penggunaan kertas bekas

Memulai sesuatu itu memang lah sulit. Namun berkat kegigihan dan kesabaran, insyaAllah semua itu akan bisa berhasil. Hal inilah yang bisa saya gambarkan untuk sebuah usaha kecil yang diharapkan berdampak besar terhadap kelestarian alam demi keberlangsungan makhluk hidup di atas dunia ini. Yaitu, kampanye penggunaan kertas bekas. Kampanye ini dilakukan di sebuah jurusan Biologi di sebuah kampus yang begitu asri, karena langsung berbatasan dengan AC alami hutan tropis Bukit Barisan, yaitu kampusnya Universitas Andalas. Berawal dari sebuah praktikum mata kuliah Biokonservasi, dan ide brilian yang penuh berkah dari seorang dosen muda yang didampingi para asistennya senior-senior saya yang penuh semangat.

Setiap pertemuan pada praktikum di jurusan Biologi, hampir selalu ada tes atau kuis uji pemahaman bagi mahasiswa yang praktikum, baik sebelum atau sesudah praktikum itu dilakukan. Tes ini populer kami sebut dengan istilah “respon”. Sebelumnya kertas yang digunakan untuk respon ini adalah harus kertas HVS A4 baru. Masih teringat ketika tahun-tahun awal dulu ketika saya masuk pertemuan praktikum, eh ternyata saya lupa bawa HVS. Kalau mau tak keluar modal, saya “palak” saja teman-teman cewek (Biasanya cewek itu selalu siap dengan cadangan he he…). Sepertinya ada juga teman saya yang hobinya memalak ini (Peace… bagi yang merasa). Tak jarang juga saya harus berlari dan minta izin ke asisten praktikum untuk beli HVS dulu. Pemandangan para makhluk ber-jaslab yang tergesa-gesa berdesakkan di depan kios fotokopi sambil meminta ke petugasnya, “bali HVS Da!” merupakan pemandangan yang umum terlihat waktu itu.

Namun pemandangan itu tak terlihat lagi. Semua praktikum sudah membolehkan penggunaan kertas bekas, dan malah mulai banyak praktikum yang mengharuskan penggunakan kertas bekas. Alhamdulillah…. Tak hanya itu. Kini dosen pun pada umumnya tak menganggap masalah lagi jika kita diskusi dan memberikan draft skripsi yang diprint pada kertas bekas.

Inisiasi ini dahulunya sempat mendapat pro kontra. Ada beberapa senior yang mencemeeh ide ini, dan mengatakan bahwa ini hanya gaya-gaya an saja, hanya ingin exist dan lain sebagainya. Penerapannya dulu di praktikum memang dengan cara dipaksa, yaitu mewajibkan pakai kertas bekas, kalau bukan kertas bekas responnya tak diperiksa, sehingga ada yang mahasiswa “cerdas” dengan membekaskan kertas barunya he he…. Pernah juga ketika awal-awalnya dulu, beberapa mahasiswa dikembalikan draft skripsinya oleh dosen pembimbing karena menggunakan kertas bekas, mungkin karena dianggap kurang menghormati. Permasalahan juga timbul dari si praktikan. Ada beberapa praktikan yang diduga menggunakan kertas terserak yang sudah remuk dan juga mencabut pamflet yang tertempel di mading sehingga masih ada selotipnya tertempel di kertas itu. Hal ini juga bisa membuat asisten menjadi ill feel ketika memeriksanya.

Pada awal-awal inovasi ini hanya dilakukan pada tiga buah praktikum yang dihandel oleh sang dosen muda itu. Namun satu persatu hasil didikan yang sebelumnya jadi praktikan, kemudian pada semester berikutnya menjadi asisten, mulai menerapkan ide ini pula. Dari awalnya hanya satu dua dosen saja yang anak bimbingannya menggunakan kertas bekas, sekarang ini umumnya dosen sudah membolehkannya. Alhamdulillah….

Itu di jurusan Biologi, bagaimana dengan jurusan lain? Saya belum tahu. Penggunaan kertas bekas di jurusan Biologi sebenarnya bisa digaungkan menjadi sebuah inovasi besar menjadi sebuah gerakan se-kampus Unand yang dipelopori oleh jurusan Biologi. Jika gerakan ini berhasil, tentu akan banyak lagi berkah bagi lingkungan. Mahasiswa pun akan mendapatkan manfaat besar, karena dahulu saya banyak mendengar keluhan dari teman-teman yang butuh banyak uang hanya untuk beli kertas dan print.

—-

#tulisan ini dibuat ketika praktikum Perkembangan Hewan sedang berlangsung. Objek hari ini adalah respon umum. Masing-masing mahasiswa rata-rata menghabiskan tiga helai kertas HVS. Hampir seluruhnya kertas bekas. :)
#saya hanya sebagai follower dari gerakan ini. Cerita versi lengkap tentunya akan lebih menarik jika dipaparkan oleh pelaku utama he he…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.132 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: